PHE WMO: Lestarikan Lingkungan, Geliatkan Perekonomian

12 jam yang lalu 4

Ketua Pokdarwis Payung Kuning, Mohammad Syahril, menunjukkan produk Kopi Labuhan di pameran UMKM bimbingan KKKS di Hotel Tentrem, Jogjakarta. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

JOGJA || KLIKMADURA – Angin sepoi menyelimuti temaram Ballroom 3, Hotel Tentrem, Jogjakarta, Selasa (15/9/2026). Puluhan stand UMKM bimbingan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) bersiap menyambut kehadiran para tamu undangan.

Di tempat ini, SKK Migas Jabanusa menggelar gala dinner berbareng 80 ketua perusahaan media massa dari beragam daerah. Mulai dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Madura raya.

Puluhan stand UMKM itu bersolek. Beragam produk unggulan dipamerkan. Camilan dan kerajinan tangan dipajang. Salah satu stand nan sukses menarik perhatian adalah milik UMKM bimbingan SKK Migas – Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).

Stand ini memamerkan produk olahan masyarakat pesisir Kabupaten Bangkalan. Produk unggulannya adalah Kopi Mangrove Labuhan. Kopi nan diekstrak dari biji mangove jenis Avicennia Marina.

Menariknya, bahan dasar kopi nan mempunyai faedah menambah vitalitas laki-laki ini diambil dari mangrove di sepanjang bibir pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan. Mangrove itu ditanam oleh masyarakat nan tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning, bimbingan SKK Migas – PHE WMO. Kemudian, dikelola menjadi produk olahan.

Ketua Pokdarwis Payung Kuning, Mohammad Syahril mengatakan, kondisi pesisir Desa Labuhan saat sekarang cukup lestari. Kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan juga cukup tinggi setelah mendapat edukasi dan pembinaan dari SKK Migas – PHE WMO.

Awalnya, kerusakan lingkungan pesisir kerap terjadi. Pohon mangrove ditebang oleh penduduk untuk beragam kebutuhan. Akibatnya, pengikisan terjadi. Banjir rob menakut-nakuti permukiman warga. Pada tahun 2014, SKK Migas – PHE WMO datang memberikan edukasi dan pembinaan.

Langkah nyata terus dilakukan oleh perusahaan nan bergerak di bagian eksplorasi dan produksi migas itu. Mulai dari merangkul masyarakat melakukan konservasi, hingga reboisasi di lokasi-lokasi mangrove nan rusak akibat ulah tangan manusia.

“Kawasan konservasi hasil bimbingan SKK Migas – PHE WMO itu sekarang dikelola menjadi destinasi Ekowisata Mangrove Labuhan,” kata Syahril.

Reboisasi nan diinisiasi SKK Migas – PHE WMO bukan hanya sukses melestarikan lingkungan dan menjaga bibir pantai dari abrasi. Tetapi, menjadi lokomotif ekonomi bagi masyarakat sekitar dan menjadi wadah edukasi bagi pelajar hingga mahasiswa dari beragam kampus.

“Banyak pelajar nan berjamu untuk belajar tentang mangrove. Bahkan, kami juga sering menerima mahasiswa dari beragam kampus nan melakukan penelitian tentang mangrove,” ujar Syahril.

Pokdarwis Payung Kuning tidak merasa puas hanya dengan mengelola ekowisata. Beragam penemuan terus dilakukan untuk mengembangkan potensi nan ada. Salah satunya, membikin produk olahan dari mangrove.

Buah mangrove jenis Avicennia Marina diolah menjadi kopi. Kemudian, dikemas dengan menarik dan dipasarkan secara manual maupun menggunakan platform digital seperti media sosial dan website.

Hasilnya, produk nan diberi nama Kopi Labuhan itu laku manis di pasaran. Penikmatnya bukan hanya penduduk Madura, tetapi juga mancanegara.

“Kopi Labuhan ini mempunyai banyak faedah sehingga banyak peminatnya. Alhamdulillah melalui penjualan secara online, kopi ini bisa terjual hingga ke luar negeri,” kata laki-laki berkumis tersebut.

Menurut Syahril, kehadiran SKK Migas – PHE WMO sangat berfaedah bagi masyarakat. Berkat edukasi dan langkah nyata nan dilakukan perusahaan tersebut, lingkungan pesisir semakin lestari dan perekonomian masyarakat semakin baik.

“Terima kasih Pertamina telah datang dan melakukan langkah nyata untuk membantu kami masyarakat pesisir. Kehadiran Pertamina bukan hanya melestarikan lingkungan, tetapi juga membantu meningkatkan perekonomian,” katanya.

Langkah nyata nan dilakukan SKK Migas – PHE WMO mendapat apresiasi dari beragam pihak. Salah satunya, apresiasi itu datang dari Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan.

Pria berdarah Madura itu menyampaikan, pembinaan nan dilakukan KKKS melalui program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) memang kudu memberikan akibat nyata. Baik pada sektor pelestarian lingkungan maupun peningkatan perekonomian.

Salah satu sasaran PPM adalah UMKM. Harapannya, ekonomi masyarakat di sekitar wilayah kerja bisa semakin baik. “Kami mengapresiasi KKKS nan telah merealisasikan program PPM dengan baik. Salah satu tujuan PPM ini untuk memberikan faedah sebesar-besarnya kepada masyarakat,” katanya.

PHE WMO Dorong Masyarakat Melek Digital

Pembinaan dan pendampingan nan dilakukan SKK Migas – PHE WMO berkarakter komprehensif dan berkesinambungan. Masyarakat tidak hanya didorong melestarikan lingkungan dan produksi produk unggulan, tetapi juga dilatih memanfaatkan teknologi sebagai sarana promosi.

Produk unggulan nan dihasilkan Pokdarwis Payung Kuning tidak hanya dijual secara manual. Tetapi, juga dipromosikan melalui platform digital seperti media sosial dan laman website bakaoo.id.

Laman tersebut dikelola penuh oleh pengurus Pokdarwis Payung Kuning dan dibina oleh SKK Migas – PHE WMO. Dengan demikian, jangkauan pemasaran produk unggulan nan dihasilkan tidak terbatas ruang dan waktu.

“Alhamdulillah berkah pemasaran melalui platform digital, penjualan produk kami semakin meningkat dan pembelinya juga sampai ke mancanegara,” kata Ketua Pokdarwis Payung Kuning, Muhammad Syahril.

Dia menyampaikan terima kasih kepada SKK Migas – PHE WMO atas dedikasi dan kesungguhan dalam membina masyarakat. Berkat pembinaan tersebut, lingkungan pesisir Desa Labuhan semakin lestari dan perekonomian masyarakat lebih baik. (nda)

Selengkapnya