Pesan Bupati Sumenep : Melestarikan budaya harus berjalan bersama dengan menjaga lingkungan

5 jam yang lalu 1

SUMENEP, Kompasmadura.com – Ribuan masyarakat mewarnai Festival Musik Tongtong Se-Madura 2026 di Kabupaten Sumenep. Namun, di kembali kemeriahan tersebut, ada kerja senyap nan memastikan pesta budaya itu tetap meninggalkan lingkungan nan bersih.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep mengerahkan jejeran petugas kebersihan untuk mengawal langsung jalannya festival. Petugas bergerak mengikuti rute 27 grup peserta, mengambil posisi di belakang rombongan untuk memungut sampah nan ditinggalkan sepanjang perjalanan.

Botol plastik, bungkusan makanan, kertas hingga beragam jenis sampah lainnya dikumpulkan secara bertahap. Bahkan ketika pagelaran berhujung dan sebagian besar masyarakat telah meninggalkan lokasi, petugas DLH tetap bekerja hingga pagi untuk memastikan ruas jalan nan menjadi lintasan pagelaran kembali bersih.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Kepala DLH Sumenep Anwar Syahroni Yusuf dalam menjaga kebersihan pada setiap aktivitas berskala besar nan melibatkan masyarakat.

Sebelum penyelenggaraan festival, Anwar telah mengarahkan sekaligus menantang jajarannya agar kemeriahan Festival Musik Tongtong Se-Madura tidak menimbulkan persoalan baru berupa penumpukan sampah.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Menurutnya, pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan dua perihal nan tidak semestinya dipisahkan. Senin (7/9/2026)

Bagi Bupati Fauzi, kecintaan terhadap tradisi dan warisan leluhur tidak cukup hanya diwujudkan dengan menjaga kesenian tetap hidup. Masyarakat juga kudu menjaga lingkungan sebagai ruang tumbuh dan berkembangnya kebudayaan.

“Melestarikan budaya kudu melangkah berbareng dengan menjaga lingkungan. Budaya kita jaga, lingkungan juga kudu kita rawat,” ujarnya.

Pesan tersebut mempertegas arah Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam membangun kesadaran bahwa kebersihan merupakan bagian dari kualitas penyelenggaraan aktivitas masyarakat.

Festival Musik Tongtong Se-Madura 2026 pun menjadi salah satu contoh gimana agenda budaya dapat berjalan semarak tanpa mengabaikan persoalan lingkungan. (Rie/Nin)

Post navigation

Selengkapnya