KABAR MADURA | Perkembangan teknologi digital dan otomatisasi nan pesat mengubah struktur bumi kerja secara signifikan. Kondisi ini menuntut generasi muda untuk tidak lagi sekadar mengandalkan ijazah, melainkan membekali diri dengan keahlian dan memperluas jaringan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Stadium General bertema “Peran Generasi Muda Dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Masa Depan” nan digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura, Senin (7/9/2026).
Prof. Dr. Dra. Martaleni, M.M., Direktur Pascasarjana Universitas Gajayana nan datang sebagai narasumber, menekankan pentingnya perubahan paradigma di kalangan anak muda. Menurutnya, generasi muda kudu beralih bentuk dari pencari kerja menjadi pembuat lapangan kerja.
“Perubahan teknologi bakal menggantikan sebagian pekerjaan, tetapi di sisi lain juga membuka kesempatan baru. Generasi muda kudu bisa beradaptasi dengan meningkatkan kompetensi,” ujar Martaleni dalam paparannya.
Dalam kesempatan itu, Martaleni memaparkan sejumlah peran strategis nan dapat diambil generasi muda, di antaranya menjadi pemasok digitalisasi, inovator ekonomi lokal, pembuat lapangan kerja, penjaga nilai dan integritas, serta kolaborator.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, dia mendorong penguasaan tiga golongan keahlian utama, ialah keahlian digital, keahlian finansial, dan keahlian lunak (soft skill).
Keterampilan digital mencakup keahlian memanfaatkan beragam teknologi dan platform digital untuk mendukung aktivitas ekonomi. Sementara keahlian finansial meliputi keahlian menabung, berinvestasi, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari jebakan pinjaman.
Adapun keahlian lunak nan diperlukan antara lain komunikasi, negosiasi, kerja sama tim, dan public speaking. Martaleni menilai kemampuan-kemampuan tersebut tidak mudah digantikan oleh kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI).
Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai dan integritas. Anak muda, kata dia, perlu menjadi pribadi nan jujur dan mempunyai literasi finansial nan baik.
Di samping kompetensi, jaringan alias relasi juga menjadi modal penting. Martaleni mendorong generasi muda aktif membangun komunitas, mengikuti unit aktivitas mahasiswa, golongan mahasiswa program studi, serta beragam organisasi di lingkungan kampus.
“Jaringan adalah salah satu modal untuk masa depan,” tegasnya.
Martaleni merumuskan formula kesiapan menghadapi bumi kerja: “Ijazah + Skill + Jaringan = Anti Pengangguran.”
“Mahasiswa dan anak muda tidak boleh hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus. Mereka kudu bisa menciptakan kesempatan ekonomi, berinovasi, berkolaborasi, dan mengambil peran nyata dalam menghadapi tantangan ekonomi masa depan,” pungkas Martaleni. (km97/ong)

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·