Pertamina Urat Nadi Kehidupan Warga Kepulauan

1 jam yang lalu 2

Tumpukan deriken dan tabung gas LPG di salah satu Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Pulau/Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

SUMENEP || KLIKMADURA – Kokok ayam saling bersahutan dengan debur ombak. Suasana Desa/Pulau Saobi, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep terlihat sangat tenang saat Mentari menyapa pagi, Senin (24/6/2026).

Sehari tinggal di desa nan wilayah administrasinya terbagi menjadi empat pulau itu memberikan vibes nan sangat berbeda. Tenang, damai, nan penuh keharmonisan. Bunyi genset perahu-perahu nelayan mulai meraung-raung, petanda aktivitas kehidupan dimulai.

Agenda saya adalah melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau/Kecamatan Sapeken. Salah satu pulau terbesar di Kabupaten Sumenep setelah Pulau Kangean. Pulau nan mempunyai kekayaan alam minyak dan gas bumi (migas) ini cukup luas.

Administrasi wilayahnya terbagi menjadi 11 desa dan 53 pulau-pulau kecil. Sebanyak 21 pulau berpenghuni dan 32 pulau lainnya tidak berpenguhi. Puluhan pulau tersebut dihuni oleh 60 orang masyarakat dengan beragam suku. Mulai suku Mandar, Bajau dan Madura sendiri.

Perjalanan laut dari Pulau/Desa Saobi menuju Pulau Sapeken memerlukan waktu 2 jam. Saat saya hendak berlayar, tidak ada perahu taksi nan beroperasi. Sebab, dalam sepekan perahu-perahu itu hanya melayani dua kali pelayaran. Yakni, hari Rabu dan Sabtu. Di luar hari itu, tidak ada ”taksi laut”.

Terpaksa, saya kudu carter perahu agar bisa menyeberangi samudera. Tarifnya lumayan mahal. Rp 500 ribu untuk pulang pergi (PP). Biasanya, tarif untuk masing-masing penumpang Rp 30 ribu untuk sekali berangkat. Artinya, ongkos PP Rp 60 ribu.

Jarum jam menunjuk nomor 08.00 WIB. Matahari mulai terik. Saya berbareng Solihin akhirnya berangkat menuju Pulau/Kecamatan Sapeken. Di sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan nan begitu indah.

Ikan-ikan sesekali muncul di permukaan. Berkejaran. Seperti anak-anak di daratan nan sedang enak-enak bermain. Kecipak air menambah kesyahduan pelayanan nan ditemani terik mentari.

Sekitar pukul 10.13 WIB perahu nan saya tumpangi tiba di dermaga Sapeken. Perahu-perahu nelayan seolah menyambut dengan riang gembira. Dari bibir pantai, terlihat sejumlah nelayan sibuk memilah ikan hasil tangkapan.

Di dermaga, kami ditunggu seorang kawan berjulukan Suryono. Dia seorang nelayan nan secara turun temurun menaruhkan kebutuhan hidupnya dengan hasil melaut. Usianya tetap tergolong muda. Baru menginjak 35 tahun. Kulitnya berwarna sawo matang, unik penduduk kepulauan.

Suryono tidak bisa berkata Madura. Dia juga tidak fasih berkata Indonesia. Sehari-sehari, laki-laki dengan badan badan kekar itu menggunakan bahasa Bajau. Dia keturunan suku bajau nan sudah turun temurun tinggal di Pulau Sapeken.

Kami bertiga kemudian bergerak menuju kediaman Suryono menggunakan motor Honda Revo tanpa nomor polisi. Kulit joknya mengelupas. Kotor. Tidak terawat. Tapi, tarikan mesinnya tetap sangat nyaman untuk dikendarai di wilayah kepulauan.

Di tengah perjalanan, terlihat solar cell pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) membentang. Dari situlah, listrik dialirkan ke rumah-rumah warga. Meski sebagian penduduk masing menggunakan genset untuk kebutuhan penerangan.

”Memang ada PLTS, tapi kadang tidak normal sehingga masyarakat tetap menggunakan genset untuk kebutuhan penerangan di rumahnya,” kata Suryono.

Aktivitas masyarakat Pulau Sapeken sangat berjuntai pada bahan bakar minyak (BBM). Tidak hanya untuk kebutuhan kendaraan bermotor. Tapi, juga untuk kebutuhan utama mesin perahu nan sehari-hari digunakan untuk menangkap ikan.

Kemudian, nan tidak kalah krusial adalah, BBM digunakan untuk membangkitkan listrik dari genset. Mayoritas rumah penduduk menggunakan penerangan dari genset nan memerlukan BBM.

”Alhamdulillah pengiriman BBM ke Pulau Sapeken selalu normal sehingga aktivitas masyarakat melangkah lancar. Masing-masing rumah juga terang benderang lantaran kesiapan BBM terpenuhi,” katanya.

Suryono mengatakan, Pulau Sapeken merupakan wilayah nan mempunyai kekayaan migas sangat tinggi. Lautnya dieksploitasi sejak sekitar tahun 1990. Sampai sekarang, pengeboran migas tetap beraksi di wilayah laut tersebut.

Namun, kesiapan daya selama ini sangat minim. Masih banyak rumah penduduk nan tidak teraliri listrik. Dengan demikian, penduduk menggantungkan aktivitas sehari-hari menggunakan BBM nan dikirim oleh Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus.

”Hampir seluruh aktivitas penduduk di Pulau Sapeken ini memerlukan BBM. Mulai dari melaut, hingga penerangan rumah. Alhamdulillah selama ini kesiapan BBM cukup untuk memenuhi kebutuhan warga,” katanya.

Tidak hanya BBM, tetapi pengiriman Liquefied Petroleum Gas (LPG) juga normal. Dengan demikian, kebutuhan rumah tangga juga terpenuhi. ”Meskipun kami berada di wilayah kepulauan terluar, tetapi aktivitas kami melangkah normal lantaran pengiriman BBM dan LPG normal,” kata laki-laki dengan dua anak tersebut.

Suryono mengatakan, jika pengiriman BBM dan LPG terhambat, secara otomatis aktivitas masyarakat bakal terganggu. Bahkan, bisa lumpuh. Dia berharap, pengiriman bahan bakar nan selama ini melangkah normal itu terus dipertahankan dan ditingkatkan.

BBM rupanya tidak hanya berfaedah bagi aktivitas masyarakat. Tetapi, juga berakibat pada pendidikan. Banyak sekolah mulai tingkat dasar hingga menengah nan mengandalkan operasional aktivitas pembelajaran menggunakan BBM.

”Listrik di sini terbatas, makanya sekolah juga menggunakan genset. Berkat pengiriman BBM nan lancar, akhirnya anak-anak kami bisa merasakan pendidikan nan berbobot seperti pembelajaran berbasis digital,” tandasnya.

Saya berkesempatan mengunjung beberapa pulau nan tetap bagian dari teritori Pulau Sapeken. Di antaranya, Pulau Sepanjang, Pulau Pagerungan Besar dan Pulau Pagerungan Kecil.

Mayoritas masyarakat melakukan aktivitas menggunakan mesin nan pembangkitnya menggunakan BBM hasil kiriman dari Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus. (nda)

Selengkapnya