Perjalanan Akademik Dr. Imam Sadili, dari Pesantren hingga Menjadi Doktor

1 jam yang lalu 1

KABAR MADURA | Jalan pendidikan Dr. Imam Sadili, M.A., tidak berakhir di ruang-ruang kelas di tanah kelahirannya, Sumenep. Perjalanan keilmuannya membawanya melintasi negara, dari belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir, bekerja sembari menempuh pendidikan magister di Malaysia, hingga meraih gelar ahli di Jakarta.

Kini, perjalanan panjang itu mengantarkannya menjadi Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Madura. Namun, sebelum mencapai posisi tersebut, Imam melewati proses pendidikan nan panjang dan tidak selalu melangkah lurus.

Perjalanan itu bermulai di Kecamatan Dungkek, Sumenep, tempat Imam mengenyam pendidikan dasar. Setelahnya, dia melanjutkan pendidikan sembari memperdalam pengetahuan kepercayaan di Pondok Pesantren As-Sadad di bawah didikan Kiai Taifur Ali Wafa.

Dunia kitab kuning sebenarnya tidak asing baginya. Sebelum mondok, Imam telah mempelajari sejumlah pengetahuan dasar melalui kitab Amtsilatut Tashrif, Jurumiyah, Imrithi, hingga Alfiyah.

“Sehingga ketika mondok saya tidak terkejut dengan bumi literasi kitab-kitab kuning itu,” ujarnya.

Selepas menamatkan pendidikan sekolah dan pesantren, Imam melanjutkan pendidikan tinggi di Al-Amien. Namun, langkahnya kemudian berbelok setelah kesempatan belajar ke Mesir terbuka.

Pada 2007, Imam lolos seleksi dan melanjutkan pendidikan bagian Dakwah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Di Negeri Piramida itu, ruang belajarnya tidak hanya terbatas pada bangku perkuliahan.

Dia memanfaatkan keberadaan para ustadz dari beragam negara untuk mengikuti pembelajaran nonformal dengan metode talaqqi. Lingkungan tersebut mempertemukannya dengan beragam tradisi dan khazanah keilmuan Islam.

“Di sana kami berjumpa banyak tradisi keilmuan dari banyak negara. Mau belajar kitab apa pun ada,” katanya.

Setelah menyelesaikan studi di Mesir, perjalanan Imam belum berakhir. Dia sempat bekerja sebagai petugas jemaah haji di Makkah dan Madinah sebelum kembali meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan pendidikan magister di University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

Fase di Malaysia menjadi perjalanan berbeda. Imam tidak hanya dituntut menyelesaikan pendidikan, tetapi juga kudu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Dia bekerja sebagai pembimbing di Sekolah Menengah Manarat Darul Salihin, Selangor. Pagi hari digunakan untuk mengajar, sedangkan siang hingga sore dijalaninya dengan mengikuti perkuliahan. Di sela kesibukan tersebut, Imam juga memberikan pelajaran privat.

Konsekuensinya, pendidikan magister nan semestinya dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun kudu ditempuh selama empat tahun. Baru pada 2016 dia kembali ke Indonesia.

Setibanya di Madura, Imam mengabdikan pengetahuan nan diperolehnya dengan mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Kesempatan menjadi pengajar aparatur sipil negara kemudian terbuka pada 2018.

“Alhamdulillah, 2018 ketika pembukaan CPNS lagi, keluar lagi susunan itu dan saya lamar dan diterima,” ungkapnya.

Imam diterima sebagai pengajar PNS di IAIN Madura, nan sekarang beralih bentuk menjadi UIN Madura.

Menjadi pengajar tidak membikin perjalanan akademiknya berhenti. Pada 2021, Imam kembali menjadi mahasiswa dengan menempuh pendidikan doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada konsentrasi Dakwah dan Komunikasi.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 2024, pendidikan doktoralnya sukses dituntaskan. Dia kemudian kembali menjalankan pengabdian akademiknya di UIN Madura hingga dipercaya menjadi ketua Program Studi KPI.

Dari Dungkek menuju pesantren, kemudian Mesir, Malaysia, dan Jakarta, perjalanan Imam mempertemukannya dengan beragam lingkungan dan tradisi keilmuan. Proses itu pula nan membentuk jalan akademiknya dalam bagian dakwah dan komunikasi hingga saat ini. (Imamatul Hasanah/Fadilatul Kamilah/waw)

Selengkapnya