Pendapatan SPKLU Sumenep Cuma Rp200 Ribu dalam Dua Bulan, Mobil Listrik Masih Jarang

4 jam yang lalu 1
KM/MOH RAZIN | MASIH SERET: Pendapatan SPKLU Sumenep nan dikelola PT Wira Usaha Sumenep hanya sekitar Rp200 ribu dalam dua bulan terakhir.

KABAR MADURA | Pendapatan original wilayah (PAD) dari stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) nan dikelola PT Wira Usaha Sumenep (WUS) selama dua bulan terakhir rupanya tetap sangat minim. Dari operasional akomodasi pengisian kendaraan listrik tersebut, PT WUS hanya mengantongi pendapatan sekitar Rp200 ribu. 

Direktur PT Wira Usaha Sumenep (WUS), Zeinul Ubbadi, membenarkan minimnya pendapatan tersebut. Dia mengatakan, rendahnya pemasukan SPKLU salah satunya disebabkan tetap sedikitnya pengguna kendaraan listrik di Sumenep. 

“Selama dua bulan terakhir kami hanya dapat sekitar Rp200 ribu. Itu lantaran di Sumenep mobil listrik tetap sangat jarang. Bisa dihitung dengan jari,” kata Zeinul. 

Selain jumlah pengguna nan tetap minim, skema bagi hasil juga membikin bagian nan diterima PT WUS relatif kecil. Zeinul menyebut, seluruh peralatan SPKLU merupakan milik PT PLN, sehingga PT WUS hanya memperoleh bagian dari skema kerja sama tersebut. 

“Saya lupa porsi bagi hasilnya. Tapi nan jelas, lantaran semua alatnya milik PLN, kita hanya kebagian persentase sangat kecil,” ujarnya. 

Angka tersebut menjadi gambaran bahwa SPKLU di Sumenep belum bisa memberikan kontribusi pendapatan nan signifikan bagi PT WUS. Dalam kurun waktu sekitar dua bulan, pendapatan nan diterima apalagi hanya sekitar Rp200 ribu. 

Jika dihitung secara rata-rata, pemasukan tersebut setara dengan sekitar Rp100 ribu per bulan. Nilai itu tentu tetap sangat jauh jika dibandingkan dengan potensi upaya akomodasi pengisian kendaraan listrik nan tengah berkembang di sejumlah daerah. 

Namun, kondisi tersebut juga tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pengelola. Sebab, keberadaan SPKLU sangat berjuntai pada jumlah kendaraan listrik dan tingkat pemanfaatannya. Sementara hingga kini, populasi kendaraan listrik di Sumenep tetap sangat terbatas. 

“Itu lantaran di sumenep mobil listrik tetap sangat jarang. Bisa dihitung dengan jari,” pungkasnya. (ara/waw)

Selengkapnya