Penataan Guru Sesuai Domisili Belum Jelas, Disdik Bangkalan Ngaku Masih Mendata

2 jam yang lalu 3

BANGKALAN, koranmadura.com – Rencana penataan ulang penempatan pembimbing berbasis kedekatan tempat tinggal (domisili) di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, hingga sekarang belum bermuara pada eksekusi kebijakan konkret. Padahal, terobosan ini sangat dinantikan para pendidik demi memangkas jarak tempuh mengajar nan terlampau jauh.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bangkalan berkilah tetap merampungkan pemetaan ulang mengenai kesiapan serta kebutuhan riil tenaga pendidik di tiap-tiap sekolah.

Kepala Disdik Bangkalan, Muhammad Musleh menegaskan bahwa secara prinsip pihaknya beserta Penjabat (Pj) Bupati Bangkalan mempunyai semangat serupa untuk mendekatkan letak tugas pembimbing dengan rumah mereka. Kendati demikian, rotasi pembimbing tidak boleh dipaksakan tanpa memperhitungkan keseimbangan rasio mengajar.

“Pak Bupati juga semangat untuk mendekatkan domisili. Bayangkan, ada pembimbing wanita dari Kamal nan kudu ke Konang. Itu salah satu ilustrasi,” kata Kepala Disdik Bangkalan, Muhammad Musleh, Senin, 19 Oktober 2026 hari ini.

Musleh menggarisbawahi bahwa pemindahan tugas tidak boleh memicu kekosongan pengajar di sekolah asal. Efektivitas aktivitas belajar mengajar (KBM) wajib dipertahankan secara mutlak.

“Sekolah itu tidak boleh kekurangan guru. Misalnya, satu pembimbing dipindahkan, rupanya sekolah asalnya menjadi kurang guru, itu tidak bisa,” tegasnya.

Selain pertimbangan teknis sekolah, perpindahan pembimbing juga terikat ketat oleh pengesahan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) serta izin resmi berupa Pertimbangan Teknis (Pertek) dari pemerintah pusat.

“Kalau di Dapodik tetap kurang guru, tidak bisa dikeluarkan. Guru pun kudu ada pertek alias persetujuan teknis dari pusat,” terangnya.

Saat ini, Disdik Bangkalan terus melakukan verifikasi dan pengesahan lapangan guna mencocokkan peta pengedaran pembimbing dengan alamat domisili masing-masing agar KBM tetap melaju stabil.

“Kami sedang menata sekolah-sekolah mana nan memerlukan guru, kemudian memandang domisili guru-gurunya. nan terpenting, kajian kebutuhannya jelas dan jangan sampai aktivitas belajar mengajar tersendat lantaran persoalan domisili,” pungkasnya. (Mahmud/Fine)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0