Oleh: Muhammad Tauhed Supratman
Dalam bentang kebudayaan Madura nan sarat dengan dialektika kehormatan, persaudaraan, dan keteguhan nilai diri, tersimpan khazanah kebijaksanaan lokal nan terumuskan dalam ungkapan lisan alias parèbhȃsan. Di antara sekian banyak peribahasa nan menuturkan kehalusan budi pekerti dan keteguhan komitmen moral, terdapat satu ungkapan nan terdengar begitu dingin, telanjang, dan tanpa tedeng aling-aling: pèsè tadȃk taretanna. Makna harafiahnya sangat lugas, ialah duit itu tidak mengenal saudara, alias duit tidak mempunyai pertalian darah. Ungkapan ini menghadirkan paradoks nan sangat memikat ketika diletakkan berhadapan dengan struktur sosial masyarakat Madura nan sesungguhnya sangat memuliakan ikatan kekerabatan. Bagi orang Madura, konsep tarètan alias persaudaraan menempati puncak piramida relasi sosial, tempat perlindungan emosional, dan tembok pertahanan terakhir martabat keluarga. Namun, ketika ungkapan ini diujarkan, ada sebuah kesadaran realistis nan menyeruak, memperingatkan bahwa pada titik tertentu, kalkulasi ekonomi mempunyai daya rusak nan luar biasa terhadap rajutan cinta kasih nan paling murni sekalipun.
Untuk menyelami kedalaman ungkapan pèsè tadȃk taretanna, kita kudu terlebih dulu memahami gimana kebudayaan Madura memosisikan persaudaraan. Ikatan tarètan di pulau garam ini bukan sekadar relasi biologis nan tercatat dalam silsilah keluarga, melainkan sebuah ikatan eksistensial nan mengikat jiwa, kehormatan, dan tindakan sosial. Ungkapan terkenal seperti tarètan dhibi menyiratkan sebuah ruang kebersamaan nan intim, tempat setiap perseorangan merasa senasib sepenanggungan. Nilai persaudaraan ini apalagi diperluas melampaui pemisah darah melalui filosofi rampak naong baringen korong, nan mengandaikan kehidupan komunal nan rindang, teduh, dan saling melindungi layaknya pohon beringin. Dalam tatanan budaya nan demikian kental, membelakangi kerabat adalah kejelekan moral nan tak termaafkan, dan memihak sanak kerabat nan tertindas adalah panggilan kehormatan. Namun, di tengah tembok kekerabatan nan kokoh itu, para leluhur Madura dengan penuh kejujuran merumuskan pepatah tentang duit nan tidak bertuan dan tidak berdarah, seolah mau mengingatkan generasi penerusnya bakal ancaman nan selalu mengintai di kembali tabir materi.
Uang pada hakikatnya adalah entitas nan rasional, kuantitatif, dan bebas nilai emosional. Ia dihitung dalam angka, ditimbang dalam neraca untung rugi, dan digerakkan oleh logika pertukaran nan adil. Sebaliknya, persaudaraan dibangun di atas fondasi perasaan, pengorbanan tanpa pamrih, dan keikhlasan nan sering kali menabrak logika matematika. Ketika pesse dan taretan dipertemukan dalam satu gelanggang tanpa kesadaran nan matang, tumbukan nilai nyaris pasti tidak terelakkan. Uang menuntut ketegasan, batas-batas kepemilikan nan jelas, serta akuntabilitas nan transparan. Sementara itu, relasi family kerap kali menuntut permakluman, kelonggaran batas, dan kerelaan untuk berbagi tanpa batas. Parebhȃsan pesse tadek taretanna lahir dari kepekaan antropologis nan tajam, menangkap realita bahwa sifat dasar duit nan impersonal itu bisa melunturkan kehangatan pertalian darah nan paling suci jika keduanya dicampuradukkan secara serampangan.
Dalam panggung kehidupan nyata masyarakat Madura, peringatan ini menemukan wujudnya nan paling nyata dalam pergulatan ekonomi sehari-hari. Orang Madura dikenal luas sebagai pribadi nan gigih, mempunyai etos kerja nan pantang menyerah, dan mempunyai tradisi merantau nan mengakar kuat. Kerasnya kondisi geografis tanah kelahiran telah melahirkan mentalitas petarung nan menghargai setiap tetes keringat dan setiap keping duit nan dihasilkan. Dalam bumi perantauan, mulai dari perdagangan besi tua, sektor logistik, hingga perniagaan pasar tradisional, ketelitian mengelola modal adalah kunci memperkuat hidup. Di sinilah ungkapan tersebut bekerja sebagai prinsip profesionalisme purba. Ketika berbisnis, berniaga, alias mengelola modal kerja, seorang pedagang Madura diajarkan untuk memisahkan secara tegas antara urusan dompet dan urusan meja makan keluarga. Jika modal upaya diperlakukan dengan logika sungkan hanya lantaran nan berutang adalah kerabat sepupu alias om sendiri, maka roda perniagaan itu bakal segera lumpuh. Ketegasan ini bukanlah tanda pudarnya rasa kasih, melainkan manifestasi dari kehati-hatian agar kelangsungan hidup berbareng tidak runtuh oleh kelalaian finansial.
Meskipun bersuara pragmatis, parèbhȃsan ini sesungguhnya juga mengandung ratapan tragis atas kerapuhan manusia di hadapan bujukan kebendaan. Ada banyak drama kemanusiaan di beragam pelosok desa maupun tanah rantau tempat kerabat sekandung saling berpaling, bentrok di pengadilan, alias apalagi memutus tali silaturahmi hanya lantaran pembagian tanah warisan alias sengketa utang piutang. Ketika nominal rupiah mulai berbicara, ingatan tentang masa mini nan dihabiskan berbareng di bawah satu genting perlahan memudar. Wajah tarètan nan dulu penuh welas asih mendadak menjelma menjadi sosok musuh transaksi nan penuh kecurigaan. Pengalaman kolektif nan pahit inilah nan direkam secara kekal oleh para sesepuh Madura ke dalam pepatah tersebut. Mereka tidak sedang memuji sifat duit nan tidak mengenal sanak keluarga, melainkan justru sedang meratapinya sekaligus memberikan peringatan keras agar anak cucu mereka tidak jatuh ke dalam lubang kehancuran nan sama.
Lebih jauh lagi, ungkapan ini menyentuh aspek nilai diri alias martabat, nan dalam bahasa Madura dikenal dengan konsep todus alias rasa malu. Bagi orang Madura, rasa malu adalah kompas moral utama nan mengendalikan tingkah laku. Malo alias todus menjaga seseorang agar tidak melakukan nista di mata masyarakat dan keluarga. Namun, urusan duit sering kali mempunyai daya sihir nan bisa menenggelamkan rasa malu tersebut. Berapa banyak pertikaian berdarah alias permusuhan antargenerasi bermulai dari transaksi nan tidak tuntas antara kerabat dekat. Di Madura masa lalu, luka akibat penipuan alias pengingkaran perjanjian materi sering kali diartikan sebagai pelecehan terhadap nilai diri. Ketika seorang kerabat mengingkari kesepakatan uang, nan tersinggung bukan hanya isi dompetnya, melainkan juga martabat kemanusiaannya. Ungkapan pesse tadek taretanna dengan demikian menjadi semacam rem kultural, mengingatkan setiap orang agar selalu memperlakukan urusan finansial dengan kejujuran mutlak, justru demi menyelamatkan persaudaraan dari ancaman bentrok nan mematikan.
Di era kontemporer, relevansi parèbhȃsan ini semakin terasa menemukan gaungnya. Arus modernisasi dan sistem kapitalisme nan kian merasuk ke seluruh pelosok kehidupan telah mengubah pola hubungan antarmanusia menjadi semakin transaksional. Jika pada masa lampau transaksi ekonomi tetap diimbangi oleh rasa kekeluargaan nan kuat dan ikatan ketetanggaan, sekarang individualisme sering kali mendesak nilai-nilai komunal ke perspektif nan sempit. Banyak orang nan terjebak dalam ilusi bahwa kehangatan family dapat menggantikan pencatatan finansial nan rapi, perjanjian tertulis, alias transparansi profesional. Akibatnya, ketika pinjaman tidak terbayar alias pembagian untung upaya tidak sesuai ekspektasi, retakan emosional nan terjadi jauh lebih dalam dan susah disembuhkan dibandingkan perselisihan dengan orang asing. Parèbhȃsan ini datang sebagai kompas moral modern, menegaskan bahwa mencatat utang piutang di antara kerabat bukan berfaedah tidak percaya, melainkan justru corak ikhtiar tertinggi untuk menjaga persaudaraan itu agar tetap murni dan terlindungi dari prasangka buruk.
Secara filosofis, ungkapan ini juga membujuk kita merenungi ontologi duit itu sendiri. Uang adalah barang meninggal buatan manusia nan tidak mempunyai kesadaran, tidak bernyawa, dan tidak dibekali nurani. Kertas alias logam itu tidak pernah peduli siapa nan memegangnya, apakah seorang kakak kandung nan telah merawat adiknya sejak kecil, alias seorang asing nan baru ditemui di jalanan. Sifat inheren duit nan buta terhadap relasi batiniah inilah nan menuntut manusia untuk menjadi tuan atas uang, bukan sebaliknya menjadi budaknya. Ketika seseorang membiarkan duit mendikte hubungan darahnya, pada saat itulah dia telah menurunkan derajat kemanusiaannya ke tingkat nan setara dengan barang meninggal tersebut. Dengan menyadari bahwa duit memang tidak mengenal saudara, manusia dituntut untuk menggunakan logika budi dan kebijaksanaannya guna menetapkan batas-batas nan tegas, sehingga duit tetap berada di tempatnya sebagai perangkat pertukaran, bukan penentu relasi persaudaraan.
Menariknya, dalam tradisi kesusastraan dan tradisi lisan Madura, parèbhȃsan jarang sekali berdiri sendiri sebagai dogma nan kaku. Ia selalu berfaedah sebagai cermin untuk introspeksi diri. Di kembali ketegasannya, terselip rekomendasi moral nan sangat halus. Jika kita tahu bahwa duit itu tidak mempunyai saudara, maka jangan pernah mempertaruhkan persaudaraan demi uang. Jika kita meminjamkan duit kepada saudara, bersiaplah secara mental untuk mengikhlaskannya sebagai support sukarela, agar ketika kerabat kita kandas mengembalikannya, cinta kasih di antara kita tidak terkoyak. Sebaliknya, jika kita berutang kepada sanak kerabat, lunasilah dengan kedisiplinan nan lebih tinggi daripada ketika kita berutang kepada pihak ketiga, karena di dalam utang tersebut tidak hanya ada kewenangan materiil nan kudu dikembalikan, tetapi juga ada amanah kepercayaan family nan dipertaruhkan. Kebijaksanaan ini menunjukkan kedalaman etika masyarakat Madura nan sesungguhnya sangat menjunjung tinggi keselarasan keluarga, meskipun mereka terbiasa berbincang dengan nada nan lugas dan berani menatap realita nan pahit.
Pada akhirnya, parèbhȃsan pèssè tadȃk taretanna bukanlah sebuah manifesto keputusasaan sosial alias seruan untuk menjadi manusia nan berhati dingin dan individualistis. Sebaliknya, dia adalah tembok pertahanan terakhir bagi kemurnian kasih sayang kekeluargaan. Ungkapan ini mendidik kita untuk mempunyai kejernihan berpikir dalam menempatkan segala sesuatu pada proporsinya nan tepat. Uang kudu diletakkan dalam ranah material nan diatur oleh keadilan, ketepatan, dan keterbukaan, sementara persaudaraan kudu dirawat dalam ruang batiniah nan disirami oleh ketulusan, rasa hormat, dan kerelaan berkorban. Dengan memahami secara mendalam prinsip bahwa duit itu memang tidak pernah mengenal saudara, kita justru diajak untuk menjadi tembok bagi saudara-saudara kita, memastikan bahwa bujukan materiil nan fana tidak bakal pernah bisa menembus dan meruntuhkan istana persaudaraan nan telah dibangun di atas fondasi kehormatan, ketulusan budi, dan darah nan mengalir dalam tubuh kita bersama. Kebijaksanaan leluhur Madura ini bakal terus hidup, melintasi zaman, dan menjadi lentera penuntun bagi siapa saja nan mau menyeimbangkan antara tuntutan hidup di bumi nan serba duit dan kerinduan kekal bakal kehangatan sebuah keluarga.

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·