Sampang, (Media Madura) – Pelaksanaan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Dusun Korsek, Desa Kebun Sareh, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, menjadi sorotan. Pasalnya, sumber air pada titik pengeboran nan dibangun melalui program tersebut dilaporkan belum mengeluarkan air saat kondisi kemarau.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (20/10/2026) siang, sumber air di letak pengeboran terlihat tidak mengeluarkan air. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan air dan pemanfaatan akomodasi nan tetap dalam proses pembangunan itu.
Kondisi ini menjadi perhatian lantaran Desa Kebun Sareh merupakan salah satu wilayah nan kerap mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau. Warga setempat apalagi tetap mengandalkan support pengedaran air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Program PAMSIMAS di letak tersebut diketahui mempunyai anggaran sekitar Rp500 juta nan berasal dari APBN. Dengan kondisi sumber air nan dilaporkan belum mengeluarkan air, efektivitas pembangunan akomodasi tersebut menjadi perhatian, terutama dalam menjawab kebutuhan air bersih masyarakat.
Seorang penduduk setempat berumur sekitar 55 tahun nan ditemui saat mencari air di sumur tak jauh dari letak pengeboran mengatakan, sumber air di wilayah tersebut mengalami kekeringan.
“Percuma meski ada proyek pengeboran air, buktinya air di sana sampai sekarang tidak keluar, Pak. Di sini memang kering,” tuturnya.
Saat dikonfirmasi melalui telepon, Mat Jalal nan mengaku sebagai pelaksana PAMSIMAS Kebun Sareh membantah adanya kesalahan dalam pemilihan titik pengeboran. Dia juga menyatakan sumber air dalam kondisi normal.
“Kata siapa tidak keluar, semua normal. Kedalaman sumur bor melampaui dari RAB, ialah 132 meter. Kalau air tidak keluar, mungkin listrik untuk pompa sibelnya belum normal,” jelasnya.
Sementara itu, Qoyan Sofyan selaku Fasilitator Masyarakat (FM) PAMSIMAS Kebun Sareh enggan berkomentar. Dia justru mengarahkan konfirmasi kepada rekannya.
“Maaf, Mas, jika mau konfirmasi mengenai Kebun Sareh silakan ke Mas Subaidi,” tulisnya.
Sorotan terhadap program tersebut juga disampaikan Ketua Komisi III DPRD Sampang, Baihaki Munir. Ia menilai kondisi sumber air nan mengering perlu menjadi perhatian agar anggaran pemerintah nan telah dialokasikan dapat memberikan faedah bagi masyarakat.
“Mubazir anggaran pemerintah pusat jika seperti itu. Tidak main-main anggarannya Rp500 juta per titik dan total di Sampang Rp7 miliar,” ujar Baihaki.
Menurutnya, persoalan akomodasi penyediaan air juga ditemukan pada sejumlah proyek lain di Desa Kebun Sareh. Ia menyebut terdapat lima titik proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) nan dinilai belum berfaedah optimal.
Selain itu, terdapat proyek irigasi perpompaan nan dikelola Kelompok Tani (Poktan) Sekar Bumi. Program nan berasal dari Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian tersebut juga mendapatkan alokasi anggaran pada 2026.
“Di sana memang banyak proyek penyediaan air bersih dan air minum sampai irigasi perpompaan. Iya, tapi itu tadi tidak bermanfaat,” pungkasnya. (Ryan Hariyanto/Znl)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·