Menolak Punah, Perajin Kasur Kapuk di Bangkalan Bertahan dari Gempuran Modernisasi

1 jam yang lalu 1

BANGKALAN, koranmadura.com – Di tengah gempuran tren busa dan spring bed modern, eksistensi kasur bahan kapuk tradisional tetap terus dirawat. Salah satu sosok nan setia menjaga warisan ini adalah H. Ismail, perajin asal Desa Keranggan, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Sejak 1998 silam, Ismail menekuni dan meneruskan upaya pembuatan kasur serta bantal kapuk nan mulanya dirintis oleh orang tuanya.

“Iya, upaya dimulai sejak 1998 nan saya lanjutkan dari upaya orang tua,” kata Ismail, Selasa, 8 September 2026 hari ini.

Pada masa keemasannya, kasur kapuk merupakan produk primadona rumah tangga. Tingginya animo masyarakat kala itu bisa mendatangkan omzet hingga puluhan juta rupiah saban bulan.

“Waktu itu penjualan sangat bagus lantaran permintaan kasur dan bantal kapuk cukup tinggi,” kenangnya.

Namun, pergeseran selera masyarakat perlahan mengubah peta bisnis. Memasuki kurun 2018–2019, fans kasur kapuk merosot drastis akibat gempuran spring bed dan kasur busa nan dianggap lebih mewah.

“Memasuki 2018-2019 mengalami penurunan. nan sebelumnya omzet puluhan juta per bulan, kemudian permintaan turun sangat drastis,” terangnya.

Kendati pasarnya menyusut, Ismail tak berkecil hati. Ia meyakini kasur kapuk tetap mempunyai kelebihan kompetitif, mulai dari aspek kenyamanan, sirkulasi udara nan sejuk, kemudahan perawatan, hingga keawetan bahan baku.

Dengan mematok nilai sekitar Rp1 juta, konsumen sudah sanggup memboyong kasur kapuk kelas premium nan jauh lebih ekonomis dibandingkan perlengkapan tidur modern di tingkatan nilai sepadan.

“Keunggulannya banyak, terutama harga. Rp1 juta sudah dapat kasur super premium dibandingkan spring bed dengan nilai nan sama,” jelasnya.

Bagi Ismail, merawat produksi kasur kapuk tak sekadar mengejar untung materi, melainkan corak ikhtiar melestarikan tradisi kelokalan Madura. Dulu, kasur kapuk menjadi hantaran wajib dalam tradisi pernikahan penduduk lokal, meski sekarang posisinya kerap tergeser oleh perlengkapan modern.

“Hari ini memang kalah dengan tren kasur modern. Saat aktivitas pernikahan, mempelai lebih banyak memilih spring bed lantaran terlihat lebih mewah,” tuturnya.

Guna menyiasati tantangan zaman, Ismail menerapkan strategi ganda: mengunci nilai terjangkau sembari terus menggenjot mutu kerapian jahitan.

“Inovasi kami agar tetap memperkuat dengan memberikan nilai murah dan meningkatkan kualitas,” tambah Ismail.

Selain mengandalkan pasokan bahan baku lokal unik Tanah Merah, Ismail sekarang bersiap mengepakan sayap pemasaran dengan merambah marketplace digital agar jangkauan pasar kasur kapuknya bisa menembus luar daerah.

“Untuk bahan bakunya menggunakan kapuk dari wilayah sekitar lantaran memang wilayah saya merupakan salah satu penghasil kapuk,” pungkasnya. (Mahmud/Fine)

Selengkapnya