dr Erliyati MKesLusa. 22 Juli 2026. dr Erliyati, M.Kes., genap berumur 56 tahun.
Bagi kebanyakan orang, ulang tahun hanyalah pertambahan angka. Namun di bumi birokrasi, nomor itu sering mempunyai makna lain. Dalam banyak seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP), usia 56 tahun menjadi pemisah nan lazim digunakan pada saat pelantikan.
Meski demikian, birokrasi juga mengenal ruang kebijakan. Dalam keadaan tertentu—misalnya ketika lembaga kesulitan memperoleh calon nan memenuhi syarat—diskresi dapat menjadi bagian dari pertimbangan, tentu tetap dalam koridor peraturan perundang-undangan.
Sebab setiap organisasi mempunyai kebutuhan. Setiap pemimpin mempunyai rekam jejak. Dan setiap keputusan kudu berpijak pada ketentuan nan berlaku.
Ironisnya, penanda usia itu datang justru ketika rumah sakit nan dipimpinnya sedang menikmati buah dari perjalanan panjang.
Pada 22 Februari 2025, RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep resmi naik status dari Rumah Sakit Tipe C menjadi Tipe B.
Hanya satu huruf nan berubah. Dari C menjadi B. Namun perjalanan menuju satu huruf itu memerlukan waktu bertahun-tahun.
Jalannya tidak selalu mudah. Rumah sakit kudu menghadapi tantangan pembiayaan, tunggakan BPJS, keterbatasan jasa spesialistik, hingga beragam kebutuhan pembenahan nan tidak pernah sedikit.
Belum selesai semua itu ditata, pandemi Covid-19 datang mengubah nyaris seluruh wajah pelayanan kesehatan.
Rumah sakit tidak boleh berhenti. Pelayanan tidak boleh berhenti. Maka pembenahan terus berjalan.
Pelan. Setahap demi setahap.
Layanan hemodialisis diperkuat. Poli Onkologi dikembangkan. Teknologi Radiofrequency Ablation (RFA) dan Vacuum Assisted Breast Biopsy (VABB) mulai dihadirkan.
Rekam Medis Elektronik memasuki tahap penerapan. Pendaftaran daring terus dikembangkan. Sistem pemantauan dewan berbasis info real-time tinggal menunggu peluncuran. Konsep Smart Hospital mulai dibangun.
Semuanya menuju satu tujuan. Pelayanan nan semakin baik.
Yang paling dekat dengan pasien pun ikut dibenahi. Rumah tunggu family dibangun. Program La Sehat dihadirkan agar pasien dapat pulang tanpa biaya. Pelayanan farmasi diperkuat agar antrean pengambilan obat semakin singkat.
Di lingkungan rumah sakit lahir satu kalimat sederhana.
Bismillah Melayani.
Bukan sekadar slogan. Melainkan langkah bekerja. Perubahan itu sejalan dengan visi Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo untuk menghadirkan pelayanan kesehatan nan semakin berbobot bagi masyarakat.
Arah kebijakan ditetapkan. Standar dipenuhi. Sumber daya manusia disiapkan. Fasilitas dilengkapi. Layanan diperluas.
Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada perubahan nan lahir dalam semalam. Semuanya dibangun sedikit demi sedikit, di tengah beragam dinamika nan datang silih berganti.
Masyarakat mungkin tidak mengingat seluruh proses itu. nan mereka rasakan jauh lebih sederhana.
Pelayanan menjadi lebih cepat. Pilihan jasa semakin lengkap. Semakin sedikit argumen untuk berobat ke luar daerah.
Karena ukuran keberhasilan sebuah rumah sakit bukanlah statusnya. Bukan pula megahnya gedung. Melainkan faedah nan betul-betul dirasakan oleh setiap pasien.
Lusa.
dr. Erliyati genap berumur 56 tahun. Begitulah birokrasi berjalan.
Ayahnya dulu mengantar surat dari rumah ke rumah. Putrinya menempuh perjalanan nan berbeda. Mengantar perubahan. Bukan seorang diri, melainkan berbareng ratusan tenaga kesehatan, para pegawai, dan support pemerintah daerah, hingga sebuah rumah sakit akhirnya tiba di tujuan berikutnya: Rumah Sakit Tipe B.
Kini satu tujuan telah dicapai. Masih ada tujuan-tujuan berikutnya nan menunggu untuk diwujudkan.
Selebihnya…
biarlah waktu nan mencatat. Sebab kedudukan memang mengenal batas.
Tetapi pengabdian…sering kali tidak.

1 hari yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·