Lebih dari Sekadar Pengasuh, Fina Ungkap Peran Wali Asuh di Sekolah Rakyat

1 jam yang lalu 1

KABAR MADURA | Wali asuh mempunyai peran krusial dalam mendampingi siswa selama menjalani kehidupan di Sekolah Rakyat. Peran tersebut tidak hanya terbatas pada aktivitas belajar di sekolah, tetapi juga mencakup kehidupan sehari-hari siswa selama berada di lingkungan asrama.

Salah satu wali asuh jenjang SMA Putri Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sampang, Fina Tamara, mengatakan, tugasnya bukan sekadar mendampingi aktivitas para siswi. Dia juga berupaya menjadi sosok nan dapat dipercaya ketika mereka mau bercerita maupun menyampaikan kesulitan nan dihadapi selama berada di sekolah.

“Tugas saya di sini bukan hanya mendampingi siswi, namun juga membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari selama berada di lingkungan Sekolah Rakyat,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).

Fina mulai menjalankan tugasnya sebagai wali asuh sejak 1 Agustus 2026. Saat ini, dia mendampingi 20 siswi jenjang SMA Putri dengan agenda pendampingan selama delapan jam setiap hari.

Menurut Fina, setiap siswi mempunyai karakter nan berbeda. Ada nan mudah beradaptasi, ekspresif, dan terbuka. Namun, ada pula nan memerlukan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan lingkungan baru maupun orang-orang di sekitarnya.

“Setiap anak tentunya berbeda-beda. Ada nan mudah beradaptasi, ada juga nan memerlukan waktu lebih lama. Ada juga nan mudah bercerita terhadap saya, tetapi ada juga nan lebih pendiam dan kudu didekati secara perlahan,” katanya.

Dalam kesehariannya, Fina mendampingi beragam aktivitas para siswi. Mulai dari membiasakan bangun tepat waktu, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, merapikan tempat tidur serta peralatan pribadi, hingga mengikuti aktivitas sesuai agenda nan telah ditentukan.

Fina menyebut, pada awal tinggal di lingkungan baru, sejumlah siswa tetap merasa canggung. Mereka kudu beradaptasi dengan teman, guru, wali asuh, aturan, serta pola kehidupan di pondok nan lebih teratur.

Sebagian siswa juga tetap merasakan kerinduan terhadap family dan belum terbiasa menjalani pola hidup nan disiplin. Sebab itu, proses penyesuaian dilakukan secara berjenjang tanpa langsung menuntut mereka mengubah seluruh kebiasaan nan telah dimiliki sebelumnya.

“Seiring berjalannya waktu, mungkin ini sudah masuk satu bulan mereka berada di asrama. Mereka bisa mulai memahami bahwa patokan nan diterapkan itu bukan untuk membatasi aktivitas mereka, tetapi untuk membentuk kebiasaan baik bagi mereka,” jelasnya.

Perubahan nan paling terlihat, tambah Fina, terjadi pada sisi kemandirian dan kedisiplinan siswa. Jika sebelumnya mereka tetap sering diingatkan untuk mandi, makan, berangkat sekolah, maupun mengikuti agenda kegiatan, perlahan para siswa mulai melakukan aktivitas tersebut atas kesadaran sendiri.

Kemandirian juga terlihat ketika mereka mulai bisa mengurus kebutuhan pribadi. Sementara dari sisi tanggung jawab, mereka mulai memahami tugas nan diberikan, termasuk menjalankan piket kamar.

Dalam berinteraksi, jelas Fina, sejumlah siswa pun mulai lebih terbuka berkomunikasi, baik dengan kawan sebaya maupun orang nan lebih tua. Mereka nan sebelumnya condong pendiam mulai berani menyampaikan pendapat dan bercerita ketika menghadapi masalah.

“Kalau dari sisi sikap itu saya juga memandang mereka mulai terbuka dalam berkomunikasi dengan kawan ataupun orang nan lebih tua di sana. Mulai memahami gimana bersikap ketika berada dalam suatu tim alias kelompok,” tuturnya.

Perubahan tersebut menjadi salah satu pengalaman nan paling berkesan bagi Fina selama mendampingi para siswa. Dia memandang siswa nan sebelumnya kudu sering diingatkan sekarang mulai bisa melakukan beragam aktivitas secara mandiri. Bahkan, beberapa di antaranya sudah mulai saling mengingatkan untuk menjalankan tugas.

“Bagi saya itu perihal sederhana, tetapi merupakan pencapaian terbesar banget. Karena bisa dilihat bahwa mereka mulai mempunyai rasa kesadaran dan rasa tanggung jawab,” ungkapnya.

Meski demikian, mendampingi siswa dengan karakter nan beragam juga menjadi tantangan tersendiri. Pendekatan terhadap setiap siswa tidak bisa disamakan, terutama ketika menghadapi siswa nan susah diarahkan, kurang disiplin, sedang mempunyai masalah pribadi, maupun memilih tak bersuara saat menghadapi persoalan.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Fina berupaya bersikap sabar, tegas, humanis, dan konsisten. Sebelum memberikan arahan, dia terlebih dulu berupaya memahami penyebab persoalan nan dihadapi siswa.

“Kalau mereka salah kita kudu tegur dan berikan akibat sesuai dengan kesalahan mereka. Tetapi teguran nan kami berikan itu bukan lantaran kami tidak suka kepada anak-anak, namun kami mau mereka belajar dari kesalahan,” ujarnya.

Fina menjelaskan, perkembangan siswa tidak hanya dapat dilihat dari keahlian mereka dalam mengikuti aturan. Lebih dari itu, perkembangan juga terlihat dari keberanian mereka mengatur diri sendiri, mempunyai rasa tanggung jawab, serta bisa berkomunikasi dengan orang lain.

Selama mendampingi 20 siswi, Fina mengaku senang memandang perubahan nan terjadi dalam keseharian mereka. Siswa nan sebelumnya tetap sering memerlukan pengarahan sekarang mulai bisa melakukan beragam aktivitas secara mandiri, apalagi saling mengingatkan satu sama lain.

Bagi Fina, perubahan-perubahan mini itu menjadi bukti bahwa pendampingan wali asuh mempunyai peran krusial dalam membantu siswa beradaptasi, tumbuh mandiri, dan belajar bertanggung jawab selama menjalani kehidupan di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sampang. (ina/zul)

Selengkapnya