Lahan 5 Hektare Terbakar di Bangkalan, Polisi Masih Selidiki Penyebabnya

1 jam yang lalu 1

KABAR MADURA | Kebakaran lahan nan diperkirakan mencapai sekitar 5 hektare terjadi di Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, Bangkalan. Kobaran api sempat meluas dan menimbulkan kepulan asap tebal nan dirasakan penduduk di sekitar lokasi.

Kasat Binmas Polres Bangkalan, AKP Edi Eko Purnomo, mengatakan, pihak kepolisian menerima info mengenai kebakaran melalui jasa darurat 110. Petugas kemudian langsung menuju letak berbareng sejumlah stakeholder untuk melakukan penanganan.

Alhamdulillah berkah kesigapan stakeholder nan ada, pihak BPBD, Damkar, kepolisian dan dibantu warga, titik-titik api sudah bisa terisolir,” ujarnya, Sabtu (5/9/2026).

Meski api utama telah sukses dikendalikan, tetap terdapat sejumlah titik api mini nan perlu dipadamkan. Petugas tetap menunggu armada Damkar mengisi air sebelum melanjutkan pemadaman di titik-titik tersebut.

“Masih tinggal beberapa titik. Kami tinggal menunggu Damkar mengisi air, lenyap itu kita selesaikan titik api kecil-kecil agar tidak merambat lagi,” jelasnya.

Edi memperkirakan, proses pemadaman hingga api sukses dilokalisasi dan dikendalikan berjalan sekitar 30 menit sejak petugas tiba di lokasi.

“Kurang lebih separuh jam dari titik api nan sudah menyebar hingga akhirnya bisa terlokalisir dan terpadamkan,” tuturnya.

Berdasarkan perkiraan sementara, luas lahan nan terdampak kebakaran mencapai kurang lebih 5 hektare. Namun, pihak kepolisian belum dapat memastikan penyebab kebakaran.

“Ini tetap setelah ini kita cari tahu penyebabnya. Kita belum bisa memastikan,” tegasnya.

Dia menjelaskan, saat petugas tiba di lokasi, kondisi api sudah membesar dan asap terlihat membumbung tinggi. Informasi mengenai kebakaran juga disampaikan oleh masyarakat sehingga penanganan dilakukan secara bersama-sama.

Proses pemadaman tidak sepenuhnya melangkah mudah. Edi menyebut, kondisi lahan nan merupakan area gambut menjadi salah satu hambatan petugas dalam menjangkau titik api.

“Kalau kendalanya lantaran letak tanahnya ini gambut, jadi untuk titik masuknya dan juga titik sebar api sudah mengelilingi,” ungkapnya.

Menurutnya, petugas kudu menentukan titik konsentrasi penyebaran api terlebih dulu agar kobaran dapat diisolasi dan tidak semakin meluas.

“Jadi kudu mencari titik mana nan konsentrasi dulu penyebarannya api sehingga bisa terisolasi titik apinya,” imbuhnya.

Sementara itu, penduduk setempat Lailatus Sholihah mengaku mengetahui adanya kebakaran setelah asap mulai masuk hingga ke sekitar rumahnya.

Dia mengatakan tidak mengetahui secara pasti kapan api pertama kali muncul. Namun, setelah memandang kepulan asap tebal, dirinya mengecek kondisi lahan dan mendapati api sudah cukup besar.

“Tadi pas lenyap itu, rupanya asap sampai ke rumah, di depan rumah. Jadi ke sini pas saya lihat, rupanya sudah gede asapnya,” ujarnya.

Kata dia, kondisi asap nan cukup tebal membikin penduduk kesulitan melakukan pemadaman secara langsung. Terlebih, titik kebakaran berada di bagian tengah lahan.

“Ke tengah asapnya, jadi ini hanya sama-sama lihat. Bingung juga mau ngapain,” imbuhnya.

Lailatus juga mengaku cemas terhadap akibat asap kebakaran bagi warga, khususnya anak-anak. Kepulan asap nan tebal membikin jarak pandang terganggu dan menimbulkan rasa perih pada mata.

“Kalau asapnya banyak, apalagi anak kecil, ancaman asapnya. Gede banget tadi, sudah nggak kelihatan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, asap kebakaran juga membikin mata terasa perih dan mengganggu pernapasan penduduk di sekitar lokasi.

“Perih juga ke mata. Bahaya jika asap,” pungkasnya. (fik/zul)

Selengkapnya