Ketika AI Menemukan RPJMD dan RKPD Berbeda

5 hari yang lalu 6
Platform AIIlustrasi

Satu titik.

Kadang satu titik itulah awal dari persoalan besar.

Begitu pula nan ditemukan PILAR.

Bukan seratus. Bukan lima puluh. Hanya lima inkonsistensi. Terlihat sedikit. Nyaris tidak penting.

Ternyata krusial sekali.

AI membongkar letaknya.

Lima inkonsistensi itu tidak menyebar ke mana-mana. Semuanya berkumpul di dua sasaran paling menentukan: pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan.

Itulah nan membikin Bappeda kudu waspada.

PILAR—Perencanaan Intelijen Analitik—memang bukan sekadar platform. Ia bekerja seperti analis nan tidak pernah capek membaca ribuan laman RPJMD, RKPD, Renja hingga realisasi anggaran. Lalu menghubungkan semuanya dalam hitungan detik.

Hasilnya mengejutkan.

Empat dari lima inkonsistensi berangkaian dengan parameter kemiskinan. Tiga lainnya menyentuh pertumbuhan ekonomi. Dua IKU nan menjadi jantung pembangunan daerah.

AI lampau melangkah lebih jauh.

Ia tidak berakhir pada kalimat “dokumen tidak selaras”. AI mencari dampaknya. Program apa nan terdampak. IKU mana nan berisiko. Bahkan OPD mana nan kudu lebih dulu melakukan koreksi.

Di situlah muncul satu nama.

Program Pemberdayaan UMKM.

Program ini menopang pertumbuhan ekonomi.

Program ini juga menopang penurunan kemiskinan.

Ironisnya, justru program inilah nan tidak selaras antara RPJMD dan RKPD.

Artinya sederhana.

Program nan paling diandalkan untuk menggerakkan ekonomi wilayah justru mempunyai rantai perencanaan nan paling lemah.

Masih ada temuan lain.

Target pengangguran terbuka berbeda antara RPJMD dan RKPD. Indeks Daya Beli hilang. Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja tidak lagi muncul. Indeks Kebutuhan Dasar juga menghilang.

Tanpa parameter itu, gimana kemiskinan bakal diukur secara utuh?

Pertanyaan itu dijawab oleh PILAR.

Bukan dengan opini.

Melainkan dengan data.

Karena itu rekomendasinya pun jelas: menyelaraskan kembali sasaran pengangguran, mengembalikan parameter nan hilang, serta meninjau ulang Program UMKM agar kembali sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJMD.

Di sinilah peran AI berubah.

Bukan lagi sekadar mesin pencari.

Bukan pula hanya peringkas dokumen.

PILAR menjadi asisten pengambil keputusan. Ia membaca ribuan halaman, menemukan titik lemah nan susah terlihat manusia, memetakan dampaknya terhadap sasaran pembangunan, lampau memberikan rekomendasi nan dapat segera ditindaklanjuti.

Bagi Bappeda, inilah makna sesungguhnya dari evidence-based policy.

Keputusan tidak lagi didasarkan pada dugaan.

Tetapi pada apa nan betul-betul dibaca oleh data.

Selengkapnya