Ketemuan

4 jam yang lalu 3

Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S3 Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam, Universitas Nurul Jadid

Sejak kecil, saya belajar banyak perihal di surau, madrasah, sekolah dasar, dan kampung tempat kami tinggal. Sebenarnya saya menjalaninya apa nan diajarkan oleh ustaz dan pembimbing tanpa kudu menyoal asal-usulnya. Imajinasi saya tentang Islam itu Arab dalam keseharian dan Barat datang dalam poster KISS dan tentu Michael Jackson, raja pop, nan paling terkenal saat itu.

Kami menghapal sifat-sifat Tuhan dan menjadikannya pujian menjelang magrib dan butir-butir Pancasila, nan sumbernya adalah ideologi lokal dan Barat. Kala di pondok, saya belajar bahasa Inggris pada Rob Baedeker, sebuah pertemuan nan mengubah langkah saya memandang liyan. Film TVRI Little House in the Prairie membuka horizon tentang kehidupan family nan ideal dan tak mendorong untuk menolaknya sebagai strategi kebudayaan luar untuk mengguncang moralitas kami.

Di awal masa kuliah, kekuatan pesona Barat begitu kuat di tengah semakin kerasnya pada dogmatisme agama. Potongan-potongan kata filsuf dikunyah tanpa kudu membaca pendapat mereka hingga tuntas. Dengan menulis tugas akhir tentang pendapat Ibn ‘Arabi, Robert N Bellah, dan akhirnya Toshihiko Izutsu, saya pikir batas-batas pesantren dan Barat layaknya mozaik. Saya sekarang menjadikan mereka sebagai satu potret harmoni.

Ketika menikmati Ben Michael Jackson dan Habbaytak Fairuz, saya tidak lagi dipenjara oleh asal, tetapi melihatnya sebagai karya nan membujuk kita untuk hidup berbareng dan penantian dengan kesabaran. Aha! Apa ini pengaruh Ahmad Wahib, nan kata Paman Ahmad Farid Maruf, kita mewahib untuk menyelami gagasannya dalam keseharian.

Lalu, kami pun bicara dekolonisasi pengetahuan di program S3 Universitas Nurul Jadid, nan membuka kemungkinan langkah memandang sesuatu secara berbeda tentang banyak hal. Pak Ferry Hidayat serta-merta menyodorkan pemikiran lokal untuk membayangkan teori dan penerapannya dalam mencandra struktur masyarakat. Mas Kiai Fayyadl tetap tidak memandang bahwa sebuah ajaran Tanjung bakal lahir lantaran belum memenuhi prasyarat untuk lahirnya pertembungan pemikiran di Paiton.

Lebih jauh, saya dan Kiai Imdad pernah membahas apa epistemologi Pesantren nan mungkin dihadirkan sebagai pondasi berpikir. Saya pun menimpali bahwa kala mengaji kitab Syarh al-Hikam, lulusan Universitas Ibn Khaldun ini menyebut sumber pengetahuan adalah penglihatan (bashar), pendengaran (sama‘) dan hati (fu’ad). Tentu, sebagai penjelasan singkat dalam sebuah pengajian kitab, pernyataan ini perlu uraian lebih terperinci jika hendak membangun teori pengetahuan pesantren.

Diskusi dengan Kiai Imdad tentang bashar, sama’, dan fu’ad justru mengingatkan saya pada langkah kerja ruang ketiga itu. Jika dalam epistemologi pesantren, pengetahuan tidak pernah datang dari satu pintu (mata, telinga, alias hati saja), maka identitas kultural pun tidak pernah datang dari satu referensi tunggal. Ketemuan adalah keadaan di mana mata saya memandang KISS, telinga saya mendengar azan, dan hati saya merasakan keduanya sebagai satu kesatuan nan tak perlu dipertentangkan.

Dengan menyorot dekolonisasi di kampus, saya sadar bahwa selama ini saya hidup di ruang ketiga nan oleh Homi K. Bhabha, dalam The Location of Culture (1994), disebut sebagai area persinggungan nan taksa. Saya bukanlah entitas pesantren nan utuh, juga bukan bayang-bayang Barat. Saya adalah hasil perjumpaan, sebuah ketemuan, di mana makna tidak lagi lahir dari lembah pemisah murni, Islam dan Barat, melainkan produktivitas kultural dan intelektual atas mozaik nan saya rangkai sendiri. Bahkan ketika saya menekuri KISS dan Fairus dalam satu napas, saya sedang mendiami ruang ketiga.

Sebagai orang Madura, saya tidak mencontek begitu saja alias mengingkari asal-usul, tetapi hendak melahirkan sebuah kreativitas, dengan mencerna ekspresi pikiran dan emosi dari luar sebagai cermin. Dengan menikmati KISS dan Fairuz, saya mewujudkan hidup di antara. Di sinilah, tantangan kita untuk menjadi kekuatan logika budi dan kepekaan kultural untuk mengembangkannya dalam konteks lokal agar tidak begitu saja memindah langkah mereka berpikir dan merasa secara bulat-bulat.

Namun, bagi saya, puncak ketemuan tidak terjadi di ruang seminar alias saat mendengar lagu populer. Mercunya terjadi kala saya merenungkan syair Kematian nan dilantunkan oleh Kiai Aminullah Murad dalam bahasa Ibu, bahasa nan saya resap sejak buaian. Di sinilah saya berjumpa dengan Heidegger. Ia mengajarkan bahwa manusia hanya menemukan eksistensinya nan sungguh-sungguh (eigentlich) ketika dia berani menghadapi  Sein-zum-Tode, ialah berada-menuju-kematian. Kematian adalah kemungkinan nan paling pasti dan paling individual, nan tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun.

Selengkapnya