Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen S3 Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam Universitas Nurul Jadid
Saya mendengar ludruk dengan riang melalui radio Bayu Gita FM. Para pemain bisa berkelakar tanpa beban. Ini mustahil dilakukan dalam kehidupan sehari-hari nan penuh etiket, sopan santun, dan tepa selira. Justru, di sinilah kekuatannya lantaran dia bisa menjadi katup dari tekanan seharian nan penuh kepalsuan atas nama kepatutan, seperangkat patokan tidak tertulis tentang apa nan boleh dan tidak boleh diucapkan dalam konteks sosial tertentu. Tak patut berbicara lucah! Tak elok berbicara kasar!
Tetapi, sebebas apapun karakter dalam ludruk berkoar, dia tetap tunduk pada aturan. Semisal, pantun nan diucapkan di atas pentas, ka Sumenep mellea salak, oréng bini madu arebbu’ pao (Ke Sumenep mau membeli salak, wanita nan dimadu berebut mangga). Kalau tidak patuh, Darso dan kawan kawan bisa disemprot oleh Komisi Penyiaran lantaran dianggap tidak etis. Kata pao itu semestinya bersuara palak (zakar) sesuai rima, tetapi dibelokkan menjadi nama buah-buahan.
Jadi, menahan diri adalah kunci dalam berkomunikasi. Setiap bahasa mempunyai langgam, diksi, dan arti, nan masing-masing tidak mudah dipindah pada bahasa lain. Mungkin, di sini kita bisa berambisi bahwa bahasa wilayah bakal tetap hidup di tengah kehendak untuk menyatukan penduduk dengan bahasa nasional. Kepatutan dengan sendirinya membayangkan kebiasaan lokal.
Ludruk di atas bisa dilihat dari kacamata Mikhail Bakhtin tentang karnival (carnivalesque), di mana jenjang sosial dibalik, etiket dijungkirbalikkan, dan tawa menjadi senjata. Dalam karnival, raja bisa menjadi komedian dan sebaliknya. Saya pun tetap ingat cerita ayah dulu ketika beliau mengisahkan sebuah persembahan ludruk, di mana penarik becak berkedudukan sebagai raja di atas panggung.
Diam-diam, kita bisa menyimak kritik sosial nan dibungkus dengan tawa. Ludruk bisa menjadi kanal dari bunyi rakyat nan menertawakan kepalsuan etiket, kegagalan percakapan, dan kecongkakan nalar. Namun demikian, dalam teori polifoni Bakhtin mendorong dialog, lantaran dalam sehari-hari kita mendengar banyak suara, bukan monolog. Kita kudu membawa semangat demistifikasi itu ke dalam diskusi, terutama percakapan sehari-hari.
Berdasarkan ringkasan Bakhtin dalam Problems of Dostoevsky’s Poetics, kehidupan karnival mempunyai beberapa karakter utama nan saling terkait, di antaranya kontak bebas dan akrab, di mana jenjang sosial dihapuskan. Orang-orang nan biasanya tidak dapat berinteraksi secara bebas lantaran perbedaan status dapat berkomunikasi secara setara. Jelas, pelakon bisa saling mencela dan mengolok-olok satu sama lain tanpa terbebani oleh kedudukan dalam peran.
Selain itu penurunan derajat dari status terhormat melahirkan hubungan baru. Tetapi, ludruk tidak bisa meruntuhkan patokan mengenai larangan mengucapkan kata-kata cabul. Aneh, jika raja dapat diolok-olok oleh kaum jelata, kenapa kepatutan berbincang tetap menghalang pemain untuk berbincang personil tubuh manusia di hadapan penonton. Ini jelas ada kuasa baru bahwa kesopanan menduduki tempat nan agung di tengah masyarakat. Andhap asor dalam bumi mereka adalah patokan nan tidak bisa diterobos.
Namun, penggabungan hal-hal nan sakral dan profan dalam ludruk, termasuk nan bijak dan bodoh, dilakukan untuk meruntuhkan stabilitas. Bayangkan, ustad nan sangat dihormati dalam keseharian, justru dibuat lelucon. Kalau tidak hati-hati, dia bisa memantik penolakan dari santri lantaran dianggap penistaan. Meskipun kenyataannya sekarang banyak santri nan telah menggugat karisma ustad dengan menyoal kredensial, baik logika budi dan pekerti.
Dari sini, kepatutan juga bisa goyah lantaran ada panggung lain, misalnya upacara bendera. Kala santri menjadi komandan upacara dia bisa meningkatkan bunyi di depan ustad nan menjadi pembina upacara. Betapa bumi ini panggung sandiwara, bukan? Pelanggaran dibenarkan atas nama kepatutan nan lain, di mana komandan kudu meninggikan vokal untuk menunjukan jati dirinya sebagai sosok nan kuat dan tegas. Karena ketidakstabilannya, kepatutan tidak pernah bisa sepenuhnya menindas, lantaran selalu ada panggung lain, selalu ada gelak lain, nan mengungkap batas-batasnya.

19 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·