Kemarau Panjang, Jasa Sumur Bor Pamekasan Kebanjiran Pesanan

53 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Kemarau panjang di Pamekasan membikin kebutuhan air para penduduk semakin terasa sulit. Di tengah kondisi tersebut, sumur bor jadi upaya percobaan mengatasi masalah. Dari situ, jasa pengeboran sumur kian ramai mendapatkan pesanan. Antrean pengguna apalagi bisa mencapai satu pekan, dua pekan, hingga satu bulan.

Bagi pengelola jasa pengeboran sumur, kondisi itu menjadi salah satu gambaran meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber air selama musim kemarau. Salah satunya nan dirasakan oleh Faisal Abrori, pengelola jasa pengeboran sumur di Pamekasan.

Saat ditemui Senin (21/9/2026), Faisal mengatakan pekerjaan pengeboran sumur memang mengikuti musim. Ketika musim hujan, pesanan condong sepi. Namun, saat tandus berlangsung, permintaan meningkat dan membikin antrean pekerjaan semakin panjang.

“Memang jika pekerjaan jasa sumur bor ini masuknya kategori pekerjaan musiman. Kami biasanya beraksi ketika musim kemarau. Ketika musim penghujan, tidak ada sama sekali, kadang hanya satu dua, itu pun jarang,” ujar Faisal.

Banyaknya pesanan membikin waktu kerja ikut bertambah. Pekerjaan nan biasanya mempunyai hari libur sekarang kudu dilakukan nyaris setiap hari. Bahkan, Jumat nan biasanya menjadi waktu beristirahat tetap digunakan untuk menyelesaikan pesanan nan masuk.

“Karena saking banyaknya orderan, Jumat tetap kerja. Jadi full selama satu minggu itu kami kerja,” katanya.

Antrean panjang tersebut tidak lepas dari perbedaan kondisi tanah di setiap wilayah. Lama pengerjaan satu sumur tidak selalu sama. Di area Kota Pamekasan, pengeboran umumnya memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga hari. Sementara di wilayah utara, kondisi tanah nan lebih berbatu membikin pengerjaan bisa berjalan empat hingga enam hari.

Di wilayah pesisir, pengerjaan biasanya lebih singkat. Sumber air nan relatif lebih dangkal membikin pengeboran dapat diselesaikan sekitar satu hingga dua hari dengan kedalaman sekitar 8 hingga 12 meter.

Hampir seluruh wilayah Pamekasan, menurut Faisal, mempunyai permintaan jasa pengeboran. Namun, banyaknya antrean membikin pihaknya kudu mengatur pekerjaan berasas kondisi wilayah dan waktu pengerjaan.

Mencari sumber air melalui pengeboran juga tidak selalu berhujung dengan keberhasilan. Kondisi lapisan tanah menjadi salah satu aspek nan menentukan. Batu dan pasir, misalnya, dapat membikin proses pengeboran lebih susah dan menyantap waktu. Namun, bagi pekerja, lapisan tersebut tidak selalu menjadi pertanda jelek lantaran bisa menjadi salah satu tanda adanya sumber air.

“Kalau misalkan kami ngebor lampau ketemu batu nan agak keras alias batu agak berliang alias ada pasir, pekerjaannya memang agak susah dan menyantap waktu. Tapi lapisan batu itu juga termasuk tanda-tanda adanya mata air,” katanya.

Kebutuhan penduduk terhadap sumber air menjadi salah satu argumen meningkatnya permintaan jasa pengeboran. Faisal menyebut sejumlah pelanggan, terutama di wilayah perkotaan, mengeluhkan tentang air PDAM nan tidak selalu mengalir selama tandus panjang.

Kondisi tersebut membikin sebagian penduduk memilih membikin sumur bor meski kudu mengeluarkan biaya lebih besar di awal. Pilihan itu diambil dengan angan mereka mempunyai sumber air nan lebih dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Permintaan nan terus berdatangan akhirnya membikin kapabilitas pekerjaan mencapai batas. Faisal mengaku pihaknya apalagi kudu menolak sejumlah pesanan lantaran antrean sudah penuh. Beberapa calon pengguna juga menawarkan penghasilan lebih tinggi agar bisa mendapatkan giliran lebih cepat.

Namun, tawaran tersebut tidak membikin antrean nan sudah ada diubah. Bagi Faisal, banyaknya pesanan bukan argumen untuk mengabaikan kepercayaan pengguna nan telah lebih dulu menunggu.

“Bahkan ada nan berani bayar lebih mahal untuk menyerobot antrean. Cuma kami memegang integritas dan kejujuran,” pungkasnya. (ina/waw)

Selengkapnya