KABAR MADURA | Kemarau panjang mulai menyulitkan peternak di Bangkalan untuk mendapatkan pakan hijauan bagi ternaknya. Rumput nan biasanya mudah ditemukan secara cuma-cuma sekarang menjadi peralatan nan kudu dibeli.
Kondisi tersebut terlihat di Pasar Baru Kombangan, Kecamatan Geger. Sejumlah pedagang memanfaatkan meningkatnya kebutuhan pakan ternak dengan mendatangkan rumput dari luar Bangkalan untuk dijual kepada para peternak.
Salah seorang penjual rumput, Moh Fais, mengatakan, aktivitas penjualan rumput biasanya meningkat saat musim tandus panjang. Minimnya kesiapan rumput membikin para peternak memilih membeli pakan hijauan.
“Jualannya saat tandus panjang saja, sebagian untuk ternak saya pribadi, lantaran tidak ada rumput di sini jadi ada nan beli,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
Untuk memenuhi permintaan itu, Fais mengaku kudu mencari rumput hingga ke luar Bangkalan. Salah satu letak nan menjadi sumber rumput berada di area sekitar Bandara Juanda, Surabaya.
“Rumputnya kami mencari dari luar Bangkalan, dekat dengan Bandara Juanda,” tegasnya.
Mendatangkan rumput dari luar wilayah juga memerlukan biaya dan tenaga nan lebih besar. Fais berbareng pedagang lainnya apalagi kudu menyewa truk untuk mengangkut rumput menuju Bangkalan.
“Berangkatnya jam 3 pagi dan tidak sendiri. Biasanya kami menyewa truk, biaya sewanya kelak kami patungan,” ungkapnya.
Di sisi lain, kondisi tersebut turut dirasakan para peternak. Jika pada musim normal mereka tetap mudah mendapatkan rumput secara gratis, saat tandus panjang mereka terpaksa mengeluarkan duit untuk membeli pakan ternak.
Salah satunya Subairi (40), penduduk Kecamatan Geger, Bangkalan. Dia mengaku terpaksa membeli rumput lantaran semakin susah mendapatkan pakan hijauan di sekitar tempat tinggalnya.
“Terpaksa beli lantaran susah mendapatkan pakan ternak,” sebutnya.
Meski demikian, Subairi tidak membeli rumput setiap hari. Dalam sepekan, dia biasanya membeli pakan hijauan sekitar tiga kali, menyesuaikan kebutuhan ternak dan kesiapan pakan alternatif.
“Paling itu satu minggu beli tiga kali. Paling tidak sekali beli itu tiga sampai empat ikat dan satu ikatnya Rp25 ribu,” terangnya.
Dengan nilai Rp25 ribu per ikat, Subairi kudu mengeluarkan sekitar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu dalam sekali pembelian. Pengeluaran tersebut terpaksa dilakukan demi memastikan kebutuhan pakan ternaknya tetap terpenuhi.
Untuk menekan biaya, dia juga tetap mencari sumber pakan alternatif, seperti dedaunan dan dadak padi.
“Ya dicukup-cukupkan saja. Kalau nyari itu tetap nemu dedaunan, kadang juga ternak itu dikasih dadak padi,” pungkasnya. (fik/zul)

13 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·