KABAR MADURA | Kesadaran menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, upaya merawat bumi juga perlu dimulai dengan mengurangi sampah dari sumbernya.
Semangat itulah nan coba ditanamkan Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, melalui Kemah Lingkungan ke-10. Kegiatan ini mendorong para santri untuk lebih peka terhadap kebiasaan sehari-hari nan berpotensi menghasilkan sampah dan berakibat pada lingkungan.
Kemah Lingkungan ke-10 mengusung tema “Santri Putri: Khalifah Bumi, Bersama Merawat Alam dan Menghadapi Krisis Iklim”. Kegiatan berjalan selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 September 2026, di Kebun Konservasi Assalam, Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep.
Penanggung Jawab Kegiatan, Uswatun Hasanah, mengatakan, Kemah Lingkungan merupakan agenda rutin PSG nan tahun ini telah memasuki penyelenggaraan ke-10. Kegiatan tersebut diikuti 55 siswi SMA 3 Annuqayah dan MTs 3 Annuqayah serta melibatkan pengurus PSG, pembina, dan Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) Annuqayah.
“Yang paling krusial adalah untuk memunculkan kembali semangat perjuangan lingkungan nan selama ini selau naik turun,” kata Uswatun, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, aktivitas itu menjadi ruang untuk menambah wawasan sekaligus kembali memupuk semangat generasi muda dalam menjaga lingkungan.
Meski berada di lingkungan pondok pesantren, para santri, kata dia, tetap mempunyai tanggung jawab untuk ikut merawat alam dan memahami beragam persoalan lingkungan nan terjadi.
“Walaupun mereka santri dan ada di lingkungan pesantren, mereka juga kudu turut serta dalam pelestarian lingkungan, merawat alam, dan kudu terbuka juga terhadap informasi-informasi tentang krisis suasana nan ada di luar,” jelasnya.
Dalam aktivitas tersebut, PSG tidak hanya menekankan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Para peserta juga diajak untuk mulai memikirkan langkah mengurangi jumlah sampah nan dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.
Uswatun menyebut, langkah itu dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi penggunaan produk nan pada akhirnya bakal menjadi sampah.
Konsep kemah dipilih untuk memberikan suasana belajar nan berbeda dari aktivitas pembelajaran sehari-hari. Interaksi langsung dengan alam diharapkan bisa memantik rasa mau tahu sekaligus membangkitkan semangat peserta untuk mempelajari beragam persoalan lingkungan.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan sejumlah materi, di antaranya Fiqih Lingkungan, Tadabbur Alam, Menapaki Bumi, Pendidikan Lingkungan Dasar, Al-Qur’an dan Lingkungan, serta strategi meminimalisir sampah makanan.
Selain itu, peserta juga memperoleh materi tentang praktik pengelolaan sampah, aktivitas pemuda dan lingkungan, serta akibat krisis suasana terhadap tubuh dan kehidupan. Di akhir kegiatan, para peserta diarahkan untuk menyusun rencana tindak lanjut (RTL).
Berbeda dengan kemah lingkungan nan umumnya diisi aktivitas memungut sampah alias menanam pohon, PSG belum memasukkan aktivitas tersebut dalam rangkaian Kemah Lingkungan ke-10.
Uswatun menyebut, tindak nyata dari aktivitas ini bakal diarahkan melalui kajian sosial dan rencana tindak lanjut nan disusun setelah kemah.
“Realisasinya kelak setelah kemah,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Komunitas PSG, Lailatul Mufidah, berambisi para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan selama mengikuti kegiatan. Lebih dari itu, mereka diharapkan bisa mengubah langkah berpikir dan kebiasaan setelah kembali ke lingkungan sekolah.
“Kami mau peserta mulai membiasakan diri memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, dan menjaga kebersihan tanpa kudu selalu diingatkan,” katanya.
Perubahan tersebut, menurutnya, mulai terlihat dari perhatian peserta terhadap sampah nan mereka hasilkan. Para peserta mulai saling mengingatkan untuk membuang dan memilah sampah dengan benar.
“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas panitia alias petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab semua orang,” ujarnya.
Salah satu peserta, Alya Nashita Al-Maiza, mengaku aktivitas nan membahas persoalan sampah membuatnya lebih memahami akibat dari kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Dulu saya sering menganggap sampah sebagai perihal nan biasa saja, nan krusial sudah dibuang. Setelah mengikuti kemah ini, saya jadi lebih memperhatikan jenis sampah dan tempat membuangnya,” ungkap Alya.
Sepulang dari kemah, Alya berencana mulai memilah sampah, mengurangi penggunaan sampah plastik, serta menjaga kebersihan kelas maupun lingkungan pesantren. Dia juga mau membujuk teman-temannya untuk melakukan perihal serupa. (ina/zul)

8 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·