
Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S3 Al-Quran dan Media Sosial Universitas Nurul Jadid
Pada malam 12 Rabiul Awwal, penduduk kampung kami menggelar peringatan Maulid Nabi. Sebelumnya, pengurus takmir mengumumkan di grup WhatsApp RT 23 bahwa setiap family membawa 4 kotak makanan. Seusai magrib, banyak orang, dari anak-anak, kaum remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak, beramai-ramai ke masjid seraya membawa potluck. Sungguh pemandangan nan mendatangkan keriangan, sementelah anak-anak bermain bola balon sebelum aktivitas bermula.
Sebelumnya, Pak Abdul Ghofur dan Pak Sukaryanto menyelenggarakan haul dan maulid di rumah masing-masing. Kami membaca surah Yasin, berzikir dengan kalimat tauhid, dan melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad. Setelah doa, kami pun makan berbareng dan membawa pulang berkat ke rumah. Di sela-sela maulidan, kami saling berganti sapa dan cerita. Satu sama lain menemukan jarak dari keseharian nan rutin dan tak jarang banal.
Dulu, saya mewakili bapak untuk memenuhi undangan Molod, julukan orang Madura untuk Maulid. Nenek kawan kami, Zainal Arifin, saban tahun menggelar aktivitas ini. Momen Kakek Abdur Rasyid dan Mohammad Rusydi menabuh rebana sembari membaca selawat seakan-akan menyambut kehadiran nabi sangat menyentuh hati hingga ke hari ini. Tabuhan ala Ahmad bin Talab terpatri kuat secara estetik dalam kesadaran kami tentang sejarah kerasulan.
Dari uraian di atas, saya tidak mau mengurai pertikaian tentang norma maulid, nan dilihat haram oleh manhaj salaf, tetapi melihatnya sebagai kejadian Lefebvrian. Di sini masjid dan rumah menjadi ruang hidup. Keduanya bukan sekadar gedung fisik, tetapi juga tempat penduduk saling menyapa, anak-anak berlarian, dan bunyi hadrah mendatangkan keriangan. Apakah tidak, pohon duit dan balon juga menarik perhatian anak mini untuk mendapatkan selembar Rp2.000,00 dan Rp5.000,00, sementara kaum dewasa tepekur untuk akur dengan hidup.
Selain itu, sebagai ruang representasi, aktivitas ini adalah corak ruang konsepsi nan dirancang oleh takmir di mana setiap family membawa kotak makanan, nan malah juga sebagian menambahkannya dengan buah-buahan, seperti jeruk, pisang, kelengkeng. Semuanya hasil petani lokal. Di hari itu, saya memandang begitu banyak penduduk membeli buah di warung di pinggir jalan sepanjang jalan dari rumah ke sekolah anak.
Sebagai ruang representasional, masjid dan rumah berubah menjadi ruang emosional dan estetik nan sarat makna, terutama ingatan kekal nan menghadirkan masa mini ketika kedua kakek kami memukul kulit terbang dengan penuh semangat. Bayangkan, kala pujian dan bunyian semakin kuat, kami tetap menjaga tubuh untuk tidak bergerak cepat. Di sini, penduduk hakikatnya mengenang memori kolektif.
Tentu, maulid dapat berfaedah sebagai pemecah ritme (arrhythmia) terhadap kehidupan sehari-hari nan rutin dan banal. Saya bisa bersemuka dengan Pak Dori dan Pak Warno sebelum menunduk intens mengikuti prosesi aktivitas hingga akhir. Ketika pembaca selawat melantunkan ya jaddal hasan dan ya jaddal hussain, wahai kakek Hasan dan Husain, saya seringkali jatuh pada emosi nan dalam tentang tragedi cucu nabi nan hidupnya berhujung tragis.
Pada waktu bersamaan, di sini ada sinkronisasi ritme nan selaras (eurhythmia) antara ritme biologis (waktu magrib), ritme religius (zikir) dan ritme sosial (berbondong-bondong) nan menciptakan daya kolektif nan kokoh. Tanpa kudu memohon biaya dari perusahaan, politikus, dan lembaga donor, penduduk bisa menggelar aktivitas ini secara swadaya. Seeloknya aktivitas kepercayaan lahir dari ketulusan dan independensi dari pihak luar. Ia lahir dari kedalaman penghayatan terhadap aliran secara autentik.
Berbeda dengan konsumerisme modern, aktivitas ini berkarakter partisipatif dan anti-komodifikasi. Orang-orang tidak menjadi penonton pasif, melainkan aktif membawa makanan sendiri (potluck), menabuh rebana, dan melantunkan selawat. Kegiatan ini menjadi momen untuk merekatkan kembali ikatan sosial (saling berganti sapa dan cerita) nan sering raib dalam rutinitas perseorangan sehari-hari.
Lebih jauh, ruang kampung dan masjid berubah menjadi ruang lain (heterotopia) nan berkarakter sakral di malam itu. Di sini, waktu seakan-akan ditumpuk (timespace), di mana masa lampau (sejarah kerasulan Nabi dan kenangan masa kecil) berjumpa dengan masa sekarang (perayaan saat ini). Tabuhan rebana nan “seakan-akan menyambut kehadiran nabi” menghadirkan masa lampau ke dalam pengalaman hidup saat ini, sehingga sejarah terasa datang secara artistik dan konkret.
Lalu, akankah pengalaman bagus dan berkah ini diganjar dengan jawaban neraka lantaran dipandang sebagai bid’ah dan sesat?

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·