Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S2 Hermenuetika Sosial Keagamaan, Universitas Nurul Jadid
Kemarin sore, seusai menjemput Biyya di sekolah, saya melangkah kaki dari rumah ke jalan raya, tempat penjual gorengan membuka lapak nan berjarak sepelemparan batu. Sebelumnya, saya mampir untuk bertanya, Apa bakwan, julukan lain dari tè-otè, sudah tersedia?” “Belum,” tukas penjual. Saya pun memesan lima.
Sebenarnya saya cukup mengudap satu gorengan, lantaran membatasi asupan berbahan tepung dan dimasak dengan minyak nabati. Namun, istri, Biyya, dan Zumi turut menikmatinya. Kami merasakan kehangatan kudapan pada sore itu lantaran baru saja diangkat dari penggorengan. Suasana ini memantik percakapan di ruang tengah.
Dengan nilai Rp1.000,00 per buah, saya menyerahkan satu lembar Rp5.000,00. Di tengah jalan, Naya, anak tetangga, bertanya, Apa nggak capek melangkah kaki?” “Tidak. Hitung-hitung olahraga.” Lalu, saya bertanya, Mana abangnya, Rafan?” “Keluar sama ayah”. Peristiwa-perisitwa ini sering kali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti membeli kue, berbicara dengan jiran, dan bersepeda motor ke SMA Tunas Luhur, tempat si sulung belajar.
Bagi Charles Sanders Peirce, potongan-potongan nan merangkai peristiwa itu adalah teks semiotik. Penulis On a New List of Categories (1867) ini membagi tiga kategori fenomena, ialah kepertamaan (firstness), nan mengenai dengan kualitas murni dan emosi langsung. Kehangatan gorengan nan baru dibeli, rasa gurih di lidah, dan tentu sensasi melangkah kaki di sore hari, kita bisa membayangkan keadaan inilah nan pertama kali datang dalam aktivitas kita.
Keduaan (secondness) merupakan relasi faktual, tindakan reaksi, dan keberadaan konkret. Di sini, percakapan dengan penjual (Belum, tukas penjual, transaksi 5 ribuan, serta sapaan pada Naya, anak tetangga) memperlihatkan pertukaran. Lebih jauh, kita bisa menerima dan menolak (resistensi). Jadi, dalam hubungan sesama kita dihadapkan dengan apa nan terjadi di permukaan.
Lalu, ketigaan (thirdness) berkait dengan hukum, kebiasaan, makna umum, dan mediasi. Kami acapkali membeli gorengan di banyak lapak, norma berbagi dengan keluarga, lema bakwan versus te-ote sebagai konvensi budaya, dan olah raga sebagai style hidup. Jadi, kategori terakhir ini adalah patokan main alias makna umum nan tidak terlihat tetapi mengatur dan menghubungan pengalaman-pengalaman. Tanpanya, semua kejadian itu hanya serpihan sensasi (firstness) dan reaksi (secondness) tanpa makna nan lebih besar.
Kebiasaan membeli gorengan tidak hanya soal rasa di lidah alias percakapan dengan penjual, tetapi dia juga bisa dinikmati oleh personil keluarga. Tentu, penjual dapat untung dari usahanya nan hanya memanfaatkan lapak semipermanen. Demikian juga memilih melangkah kaki adalah ikhtiar untuk memenuhi style hidup sehat, nan selalu disarankan oleh master Klinik Azzainiyyah setiap saya memeriksa kesehatan.
Dari adukan itu, kita tidak hanya sekadar menerapkan buahpikiran Peirce dalam mencandra keseharian, tetapi gimana dia menjadi semiosis nan hidup. Gorengan bukan semata-mata representamen, tetapi juga bakal melahirkan tafsir nan tidak terbatas, dari sensasi ke interaksi, dari hubungan ke norma, dan norma ke makna budaya nan lebih luas. Betapa perjumpaan dengan perbedaan itu membuka ruang untuk berbagi.
Dari pengalaman ini, saya sendiri adalah penafsir nan terus menghasilkan tanda-tanda baru tentang siapa saya, apa nan saya hargai dan gimana saya hidup berbareng orang lain. Di sini, hukum, kebiasaan, dan makna umum memungkinkan kontrol-diri dan pengakuan bakal nan lain. Eksistensi terakhir dengan sangat jelas tercermin dari penamaan bakwan (Jogja) dan tè-otè (Madura), nan menunjukkan objek nan sama dengan nama nan berbeda.
Betapa kehangatan gorengan melahirkan hubungan antarkeluarga menjadi erat. Kala masing-masing memilih kamarnya sendiri-sendiri, sepotong kudapan bisa menyatukan personil ke dalam ruang nan sama untuk berganti cerita. Ini juga terjadi pada aktivitas Yasinan di masjid kami. Meskipun tidak dimotivasi oleh pembagian kue setelah mengaji, namun hidangan ini dapat menghentikan jemaah untuk duduk sejenak di teras.
Kejadian itu bukan hanya aktivitas rutin nan dilakukan begitu saja dan sembari lalu. Ia mengenai dengan pikiran, perasaan, dan sikap seseorang terhadap konsep Aku, kamu, dan benda. Dengan kepahaman ini, kita bisa melatih untuk terus-menerus menjadikan hubungan sesama dan lingkungan berasas nilai-nilai nan bisa menjaga diri, sesama, dan alam dari kesatuan tiga kategori kejadian di atas.

49 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·