Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Akhlak Tasawuf FAI Universitas Nurul Jadid, Peneliti Bersama iKMI Universitas Kebangsaan Malaysia
Bacaan selawat Mahmud Khalil Al-Hushary menjelang azan membikin saya tenang. Setelah ditelisik, dulu radio RRI Sumenep menyiarkan lantunan qari Mesir nan dipancarkan pelantang TOA masjid kampung di bulan puasa menjelang magrib. Sekejap lagi, kami makan dengan lahap. Tak pelak, menjelang berbuka kami senang mendengarnya. Pada masa itu, kami tak bentrok soal langgam bacaan.
Gambus, samman, hadrah dan ruddat adalah seni nan menjadi pilihan untuk merawat rasa. Cabikan gitar oleh Anom (Paman dalam bahasa Madura) Acik memecah keheningan malam seraya mengiringi nyanyian Arab nan dibawakan oleh Pak Abu, pembimbing Sekolah Dasar Negeri Bataal Barat I kami. Dua orang menari mengikuti rentak perangkat dan bunyi suara. Mereka tak bertikai soal Arabisasi.
Kini, bunyi Al-Khusary tetap terdengar lamat-lamat dari rumah sebelum azan. Ketika menikmati Habbaytak oleh Fairuz, biduanita Kristen, asal Libanon, banyak pemisah juga diterabas. Sentosa menyergap. Tetapi, suasana jiwa seperti ini acapkali dicurigai sebagai kekuasaan puak. Padahal, andaikan bertengger di ranting lain, rupanya kita berpijak pada pohon nan awalnya tumbuh di India, Tiongkok, alias Eropa. Jadi, kondisi psikologis itu adalah pilihan. Aneh, jika jati diri penduduk dipatok pada satu pijakan.
Dalam pandangan Gadamer, kisah itu bukan terutama soal Arabisasi alias kemurnian lokal, melainkan soal peristiwa pemahaman. Horizon-horizon budaya bertemu, saling meresap, dan menghasilkan makna baru. Itulah nan dia sebut Horizontverschmelzung, peleburan horizon. Tak dapat dielakkan, orang-orang kampung kami menggunakan sarung dan kopiah, bukan jubah dan serban tatkala mengikuti rentak gambus dengan tarian.
Jelas, Al-Hushary bukan lagi sekadar qari Mesir. Ketika suaranya keluar dari radio RRI Sumenep, dipancarkan pengeras bunyi TOA masjid kampung, dan didengar anak-anak nan menunggu berbuka, dia telah masuk ke horizon Sumenep, ialah horizon Ramadan, lapar, keluarga, kampung, dan kenangan. Penulis Truth and Method itu menolak pendapat bahwa memahami berfaedah merekonstruksi makna original seperti nan dimaksud orang negeri Firaun. Makna justru terjadi ketika teks/tradisi itu diterapkan pada situasi konkret pendengarnya, nan disebut Anwendung. Karena itu, tenteram bukan sifat inheren Al-Hushary, melainkan hasil pertemuan antara lantunan itu dan pengalaman hidup warga.
Menariknya, kami lagi tak bentrok soal langgam, di mana prasangka dilewati untuk sebuah makna nan produktif. Menurut Gadamer, Vorurteil bukan sekadar prasangka buruk, tetapi juga pra-pemahaman nan memungkinkan kita memahami sesuatu. Pengalaman mendengar selawat melalui TOA, radio, dan malam puasa membentuk semacam horizon rasa. Dari situ, langgam tidak dinilai sebagai benar-salah, Arab-lokal, tetapi sebagai bagian dari tradisi nan hidup. Tradisi bukan masa lampau nan meninggal nan kudu dibedah secara netral. Ia adalah arus nan membentuk kita, Wirkungsgeschichte, sejarah nan terus bekerja dalam langkah kita memahami. Itulah kenapa nomor Nancy Ajram kadang dilihat sebagai karya seni nan relijius.
Demikian pula, seni gambus, samman, hadrah, ruddat, gitar Anom Acik, nyanyian Arab Pak Abu, dan dua orang nan menari adalah contoh permainan budaya dalam pengertian Gadamer. Di sini, subjeknya bukan perseorangan nan menguasai pertunjukan, melainkan permainan itu sendiri nan menarik semua orang masuk. Penari, pemusik, dan penonton larut dalam satu peristiwa. Gadamer juga menyebut pengalaman estetik sebagai semacam festival. Ia menciptakan waktu bersama, komunitas, dan rasa sentosa nan mengatasi jarak subjek-objek. Maka sentosa menyergap bukan pelarian, melainkan pengalaman hermeneutis ketika batas-batas diri mencair dalam tradisi nan sedang dimainkan.
Namun, kecurigaan bahwa suasana jiwa itu adalah kekuasaan puak tetap perlu didengar, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya kunci. Gadamer tidak naif terhadap kuasa. Tradisi bisa menjadi ideologis jika dia menutup perbincangan dan memaksa satu suara. Namun, jika setiap rasa tenteram langsung dicurigai sebagai hegemoni, kita justru memakai hermeneutika kecurigaan ala Ricoeur secara dogmatis. Gadamer menawarkan keterbukaan pada nan lain. Al-Khusary, Fairuz, gambus, samman, hadrah, dan bunyi lokal saling berganti sapa. Jika perjumpaan itu membuka, memperkaya, dan membikin penduduk lebih memahami diri, di situ fusi horizon bekerja. Jika satu bunyi menindas nan lain, itu bukan fusi, melainkan orasi kekuasaan.
Akhirnya, soal asal-usul nan tumbuh di India, China, alias Eropa justru menegaskan tesis Gadamer tentang historisitas pemahaman. Tidak ada budaya nan betul-betul murni. Kita selalu berdiri di persimpangan tradisi. Jati diri penduduk bukan prinsip tunggal nan bisa dibakukan pada satu kepastian. Ia adalah cakrawala nan senantiasa bergerak lincah. Fairuz asal Libanon, Al-Khusary asal Mesir, gambus dari bumi Islam-Nusantara, gitar dari Eropa, semua berjumpa dalam pengalaman Sumenep. Perjumpaan itu bukanlah peralatan aneh, sehingga kemauan membekukan identitas pada satu akar tak masuk akal.
Jadi, dengan Gadamer, kejadian ini dapat dibaca sebagai hermeneutika hidup di mana makna tidak terletak pada asal-usul, tetapi pada peristiwa pemahaman nan terus terjadi. Pertanyaan nan tepat bukan ini Arab alias lokal?, melainkan apa nan terjadi ketika suara-suara ini bertemu, dan gimana kita memahami diri karenanya? Selama perjumpaan itu merawat dialog, membuka diri pada nan lain, dan tidak menutup kemungkinan kritik, di situ tradisi tidak mati, maka pertemuan itu sedang berbicara, bernyanyi, dan menari berbareng kita.

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·