KABAR MADURA | Kepemimpinan tidak selalu diukur dari seberapa lama seseorang berada di bangku organisasi. Bagi M. Wasilul Khair, kepemimpinan justru tentang apa nan tetap hidup setelah masa kedudukan berakhir.
Prinsip tersebut dia pegang ketika dipercaya memimpin Jong Madura Korpus Wilayah III periode 2023/2024. Di bawah kepemimpinannya, Wasil tidak hanya berupaya menjalankan program kerja, tetapi juga membangun rasa mempunyai dan loyalitas personil terhadap organisasi.
Kini, setelah masa kepemimpinannya berakhir, semangat tersebut tetap terlihat. Jong Madura Korpus Wilayah III semakin rutin menggelar kajian dengan mengangkat beragam tema kemaduraan.
Bagi Wasil, keberlanjutan itu menjadi bagian krusial dari makna sebuah kepemimpinan. Sebab, seorang pemimpin tidak hanya dituntut menyelesaikan program selama masa jabatan, tetapi juga meninggalkan nilai dan kebiasaan baik nan dapat terus dilanjutkan.
Jejak itu tidak terlepas dari perjalanan Wasil sebagai aktivis mahasiswa. Dari organisasi, dia belajar bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar mengarahkan orang lain, melainkan membangun kepercayaan, menjaga kebersamaan, dan memastikan nilai nan diperjuangkan dapat terus berjalan.
Ketertarikannya menjadi aktivis bermulai dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berjalan di ruang perkuliahan. Organisasi memberinya kesempatan untuk berjumpa dengan beragam karakter dan latar belakang, memperluas relasi, sekaligus memperoleh pengalaman nan tidak didapat hanya melalui aktivitas akademik.
Dia kemudian aktif mengembangkan keahlian bekerja dalam tim, berkomunikasi, menyampaikan pendapat, mengelola kegiatan, hingga bertanggung jawab terhadap amanah. Konsistensi dalam proses tersebut akhirnya mengantarkannya dipercaya memimpin Jong Madura Korpus Wilayah III nan saat itu mempunyai sekitar 200 anggota.
“Kepercayaan tidak cukup dibangun melalui kata-kata, tetapi melalui sikap, integritas, dan kesediaan untuk datang serta bertanggung jawab dalam setiap proses nan dijalankan bersama,” ungkapnya, Senin (31/8/2026).
Ketika mulai memimpin, Wasil memandang Jong Madura telah mempunyai fondasi dan tradisi nan baik. Namun, sebagian program kerja tetap meneruskan aktivitas dari periode sebelumnya. Dia kemudian berupaya mempertahankan nilai nan menjadi identitas organisasi sekaligus menghadirkan pengembangan baru.
Menurutnya, pengembangan organisasi tidak cukup hanya mengandalkan program kerja. Kekompakan dan rasa mempunyai antaranggota juga perlu dibangun agar organisasi mempunyai ikatan nan kuat.
Oleh karena itu, dia berupaya menjaga komunikasi secara terbuka, melibatkan personil dalam beragam proses, serta memberikan ruang bagi setiap orang untuk mengambil peran sesuai keahlian masing-masing.
Upaya itu melangkah beriringan dengan keinginannya memperluas jejaring Jong Madura Korpus Wilayah III. Wasil melakukan silaturahmi dengan sejumlah tokoh wilayah asal dan menghadirkan mereka dalam beragam aktivitas organisasi.
Salah satunya melalui Seminar Kebangsaan nan menghadirkan Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, S.H., M.H. sebagai narasumber. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi personil untuk mendapatkan perspektif baru mengenai kebangsaan, kepemimpinan, serta peran generasi muda dalam membangun daerah.
Tidak sekadar mendengarkan materi, personil juga memperoleh kesempatan berbincang secara langsung dengan tokoh daerah. Bagi Wasil, pertemuan semacam itu krusial agar generasi muda Madura tidak berakhir pada kebanggaan terhadap identitas, tetapi bisa menerjemahkannya menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Membangun loyalitas sekitar 200 personil tentu bukan perkara sederhana. Wasil memilih pendekatan nan menempatkan personil sebagai bagian krusial dari organisasi, bukan sekadar pelaksana program.
Salah satu pengalaman nan paling membekas terjadi ketika Jong Madura Korpus Wilayah III mempersiapkan sebuah aktivitas besar. Padatnya persiapan dan beragam hambatan nan muncul membikin personil kudu meluangkan waktu dan tenaga lebih.
Namun, mereka tidak hanya menyelesaikan tugas masing-masing. Para personil berinisiatif saling membantu dan mengambil peran ketika dibutuhkan. Momen tersebut menunjukkan bahwa rasa mempunyai terhadap Jong Madura telah tumbuh dan menjadi salah satu kekuatan organisasi.
Sebagai orang Madura, Wasil membawa prinsip tanggung jawab, kekeluargaan, dan menjaga martabat dalam menjalankan amanah.
“Menjadi bagian dari Jong Madura bukan hanya soal membawa nama organisasi, tetapi juga membawa nilai dan identitas sebagai orang Madura,” tuturnya.
Masa kepemimpinan Wasil akhirnya berakhir. Namun, dia memandang semangat nan dibangun selama periode tersebut terus menemukan ruang untuk berkembang.
Jong Madura Korpus Wilayah III sekarang semakin rutin mengadakan kajian nan mengangkat tema kemaduraan. Bagi Wasil, keberlanjutan itu menjadi salah satu ukuran bahwa sebuah kepemimpinan telah meninggalkan sesuatu nan berarti.
Organisasi, menurutnya, tidak hanya dinilai dari apa nan dilakukan ketika seorang pemimpin tetap menjabat, tetapi juga dari nilai nan tetap hidup setelah kepemimpinan berganti.
Pengalaman memimpin organisasi kemudian menjadi bekal krusial dalam perjalanan Wasil setelah menyelesaikan pendidikan sarjana. Di tengah kesibukan sebagai aktivis, dia tetap bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan menetapkan prioritas dan mengatur waktu secara disiplin.
Baginya, aktivisme tidak hanya mengajarkan kepemimpinan. Ada kedisiplinan, tanggung jawab, keahlian berkomunikasi, dan keberanian mengambil keputusan nan kemudian terus dia bawa dalam kehidupan berikutnya.
Semangat untuk terus berkembang kemudian mendorong Wasil mencoba bumi bisnis. Pada 2024, ketika tetap berada di semester tujuh, dia mulai merintis Toko Madura 24 Jam di Jember.
Keputusan itu lahir dari semangat membangun kemandirian sekaligus keberanian memandang peluang. Berbagai pengalaman selama berorganisasi dan menempuh pendidikan membuatnya percaya bahwa anak muda tidak hanya perlu mencari kesempatan kerja, tetapi juga mempunyai kesempatan untuk menciptakan kesempatan melalui upaya sendiri.
“Toko Madura 24 Jam menjadi langkah awal untuk mewujudkan perihal tersebut. Bagi saya, berbisnis adalah tentang keberanian memulai, siap menghadapi risiko, dan terus belajar dari setiap proses untuk berkembang menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Pengalaman sebagai aktivis kembali menjadi bekal ketika menjalankan bisnis. Kemampuan membangun komunikasi, memahami beragam karakter, menjaga kepercayaan, hingga mengambil keputusan menjadi bagian nan dia terapkan dalam mengembangkan usaha.
Toko Madura 24 Jam pun berkembang secara bertahap. Dari upaya nan dirintis dengan semangat kemandirian, sekarang mulai mempunyai sistem nan lebih tertata dan membuka kesempatan untuk terus berkembang.
Namun, perjalanan Wasil tidak berakhir pada organisasi dan bisnis. Saat ini, dia tetap melanjutkan pendidikan pascasarjana dengan menempuh S2 Hukum Keluarga di UIN KHAS Jember.
Pendidikan dan upaya menjadi dua proses nan saling melengkapi. Keduanya memberikan ruang bagi Wasil untuk terus belajar, berkembang, sekaligus memperluas faedah nan dapat diberikan kepada orang lain.
Perjalanan dari aktivis mahasiswa, memimpin Jong Madura Korpus Wilayah III, menyelesaikan pendidikan tepat waktu, merintis usaha, hingga melanjutkan pendidikan ke jenjang magister menjadi rangkaian proses nan membentuk dirinya.
Dari Jong Madura Korpus Wilayah III, dia belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang jabatan. Ada kepercayaan nan kudu dijaga, kebersamaan nan kudu dirawat, dan nilai nan kudu diwariskan.
Sebagai anak Madura, Wasil berambisi generasi muda tidak menjadikan identitas maupun latar belakang sebagai pemisah untuk melangkah lebih jauh. Nilai-nilai nan dimiliki, menurutnya, justru dapat menjadi kekuatan ketika dibarengi pendidikan, pengalaman, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar.
“Jangan hanya menjadi penonton atas perubahan, tetapi beranilah mengambil peran dan menciptakan peluang. Karena masa depan Madura tidak hanya menunggu untuk dibangun oleh orang lain, tetapi juga berada di tangan generasi mudanya sendiri,” pungkasnya. (ina/zul)

16 jam yang lalu
13








English (US) ·
Indonesian (ID) ·