Harga Anjlok, Petani Garam Sampang Menjerit

1 hari yang lalu 10

Petani garam berada di salah satu lahan pegaraman di Kabupaten Sampang. (ALI MUCHTAR / KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Musim tandus nan semestinya menjadi masa paling produktif bagi petani garam di Kabupaten Sampang justru membawa persoalan baru. Ketika produksi meningkat, nilai garam di tingkat petani malah terus merosot hingga membikin untung semakin tergerus.

Petani garam di Kecamatan Sampang, Mat Hasan, mengatakan nilai garam nan sekarang diterima dari tengkulak hanya sekitar Rp40 ribu per sak. Padahal, setiap sak berisi lebih dari 50 kilogram garam.

“Satu sak itu isinya 50 kilogram lebih, tapi harganya sudah ambruk sekali,” jelas Mat Hasan, Senin (31/8/2026).

Menurut dia, nilai tersebut mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi itu membikin pendapatan petani semakin tertekan, meski produksi garam justru meningkat selama musim kemarau.

Mat Hasan berambisi tingginya produksi saat tandus dapat diikuti dengan nilai jual nan lebih baik. Namun, realita di lapangan justru berbanding terbalik.

“Tapi faktanya malah sebaliknya. Harganya turun drastis. Dulu itu bisa mencapai Rp80 ribu ke atas harganya untuk satu sak,” ucapnya.

Keluhan mengenai anjloknya nilai juga disampaikan petani garam lainnya, Hari. Dia menduga persoalan nilai tidak semata-mata disebabkan melimpahnya produksi, tetapi juga berangkaian dengan posisi petani nan lemah ketika berhadapan dengan pemodal besar dan tengkulak.

Menurut Hari, kebutuhan biaya hidup dan modal produksi membikin sebagian petani tidak mempunyai banyak pilihan. Ketika memerlukan uang, garam hasil panen akhirnya terpaksa dilepas meski nilai sedang rendah.

“Petani nan terdesak akhirnya mau tidak mau kudu jual garamnya agar bisa mendapatkan uang,” ucapnya.

Hari meminta pemerintah turun tangan mencari solusi untuk mengatasi anjloknya nilai garam. Salah satu nan diharapkan petani adalah adanya peningkatan Harga Pokok Penjualan (HPP) sehingga nilai di tingkat petani mempunyai pemisah nan lebih layak.

Dia menyebut nilai ideal nan diharapkan petani berada di kisaran Rp1.700 hingga Rp2.000 per kilogram. Angka tersebut dinilai lebih bisa memberikan ruang untung bagi petani setelah memperhitungkan biaya produksi.

“Sementara ini sudah Rp1.000 ke bawah per kilonya. Sebelumnya tetap Rp1.300 sampai Rp1.500 per kilo, sebelum ambruk seperti sekarang,” terangnya.

Tekanan nilai juga dirasakan Mahsun, salah seorang pemilik lahan tambak garam. Dia mengatakan nilai garam dari lahan miliknya sebelumnya tetap berada di kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta per ton.

Namun, nilai tersebut terus mengalami penurunan. Pada awal musim panen, garam tetap dapat dijual sekitar Rp1,6 juta per ton, tetapi sekarang kembali merosot hingga sekitar Rp1 juta per ton.

“Awal panen tetap Rp1,6 juta per ton, jika sekarang sudah merosot jauh. Ini harganya sudah turun lagi Rp1 juta per ton dan untuk KW 2-nya di nilai Rp800 ribu per ton,” ucap Mahsun.

Menurut Mahsun, penurunan nilai tersebut telah berjalan sekitar satu bulan terakhir. Kendati nilai tidak menguntungkan, hasil panen tetap kudu dijual kepada tengkulak.

Petani tidak berani terlalu lama menyimpan garam lantaran cemas nilai kembali turun. Selain itu, duit hasil penjualan juga dibutuhkan untuk membiayai produksi di lahan lainnya.

“Selain itu, kita juga kudu putar duit untuk produksi garam di lahan lain,” jelasnya.

Mahsun menduga peningkatan produksi akibat musim tandus menjadi salah satu aspek nan menekan nilai garam. Ketika stok melimpah, posisi tawar petani semakin lemah lantaran tidak semua hasil produksi terserap dengan nilai nan diharapkan.

Persoalan serapan juga menjadi perhatian. Menurut dia, masuknya garam impor turut memengaruhi penyerapan hasil produksi garam lokal sehingga petani semakin kesulitan mendapatkan nilai nan layak.

“Kalau kelak musim hujan alias minim produksi, harganya bakal naik lagi. Tapi ya begitu, jika hujan juga susah kita produksi lantaran garam ini mengandalkan panas matahari,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menempatkan petani pada situasi serba sulit. Saat tandus tiba, produksi memang meningkat, tetapi nilai justru tertekan akibat melimpahnya pasokan.

Sebaliknya, ketika musim hujan datang, produksi garam menjadi terbatas lantaran proses pengolahannya sangat berjuntai pada panas matahari. Siklus tersebut membikin petani memerlukan kepastian pasar sekaligus perlindungan harga.

Para petani berambisi pemerintah datang untuk menjaga kestabilan nilai garam, mulai dari tingkat petani hingga rantai perdagangan berikutnya. Mereka juga meminta penyerapan garam produksi lokal diperkuat agar hasil panen tidak terus tertekan oleh rendahnya harga.

Bagi petani, persoalan garam bukan sekadar tentang seberapa banyak produksi nan dihasilkan. Ketika nilai jual terus jatuh, panen melimpah nan semestinya menjadi untung justru tidak bisa memberikan pendapatan nan sepadan dengan biaya dan tenaga nan dikeluarkan. (ali/nda)

Selengkapnya