Geliat Budaya dan Ekonomi di Kaki Candi: Fauka Pimpin Lindu Aji Gelar Culture Fest 2026 di Borobudur

44 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Gemuruh langkah seribu penari jatilan memadati area Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Di bawah megahnya warisan leluhur Nusantara, Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Lindu Aji menggelar Lindu Aji Culture Fest 2026 pada Minggu (13/9/2026).

Perhelatan ini menjadi tonggak baru bagi Lindu Aji dalam memperkuat pelestarian budaya, ekonomi kreatif, dan kepedulian sosial.

Acara tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pembina Lindu Aji nan baru dilantik, Mayjen (Purn) Fauka Noor Farid.

Selain dihadiri sekitar 10.000 personil Lindu Aji dari beragam daerah, pagelaran ini juga memamerkan puluhan produk UMKM serta menyalurkan santunan kepada 550 anak yatim, fakir miskin, dan lansia.

“Dipilihnya lokasi wisata Candi Borobudur lantaran mengandung sejarah nenek moyang kita nan dikenal bumi internasional dan kearifan lokal. Candi Borobudur menjadi simbol nan sangat krusial dalam melestarikan budaya, dengan angan mendapat restu dari para leluhur,” ujar Fauka, nan juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden dan Komandan Timus 08.

Komitmen Nguri-uri Budaya dan Wajah Baru Ormas

Selama ini, Lindu Aji lebih dikenal lewat aktivitas olahraga dan sosial. Namun, di bawah kepengurusan baru periode 2026–2031, ormas ini mau memperluas ruang pengabdiannya melalui aktivitas nguri-uri alias melestarikan budaya Nusantara.

Fauka menegaskan bahwa parade budaya seperti ini bakal dijadikan sebagai agenda harian dan tahunan organisasi.

Mantan personil Tim Mawar Kopassus tersebut menerima mandat sebagai Ketua Pembina Lindu Aji dalam Kongres III DPP Lindu Aji di Semarang pada 13 Agustus 2026 lalu.

Pelantikan pengurus baru nan digelar di Taman Lumbini area Candi Borobudur ini menjadi awal mula dari misi utamanya: mengubah gambaran ormas di mata publik.

Fauka menegaskan, dirinya tidak mempunyai rencana membawa Lindu Aji ke ranah politik praktis alias menjadikannya partai politik.

“Saya mau menunjukkan bahwa ini adalah ormas nan peduli dengan bangsa, tradisi, dan budayanya. Saya mau mengubah stigma ormas ini,” tegasnya.

Mitra TNI-Polri dan Pendekatan Musyawarah

Selain berfokus pada kebudayaan, Fauka mengimbau seluruh personil Lindu Aji untuk senantiasa menjaga ketertiban masyarakat (kamtibmas) dan membuang jauh-jauh tindakan kekerasan maupun sikap arogan.

Ia meminta seluruh jejeran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di wilayah Jawa Tengah untuk terus berkoordinasi dengan abdi negara keamanan setempat, seperti Kodim dan Polres.

“Saya tekankan kepada seluruh anggota, ormas Lindu Aji adalah mitra TNI-Polri. Menyelesaikan masalah dengan musyawarah, bukan dengan otot. Tidak boleh menjadi ‘APH’ (Aparat Penegak Hukum) sendiri dan arogan,” kata Fauka.

Perjalanan dari Komunitas Perparkiran hingga Ormas Budaya

Cikal bakal Lindu Aji bermulai dari sekumpulan orang nan dihimpun oleh Ikhwan Ubaidillah pada 1989. Kelompok ini kemudian berkembang menjadi yayasan sosial, sebelum akhirnya resmi berbadan norma sebagai organisasi kemasyarakatan pada 2015.

Saat ini, Lindu Aji menyatakan mempunyai sekitar 100 ribu personil nan tersebar di beragam daerah, khususnya Jawa Tengah. Sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan pekerja informal dan golongan marjinal, seperti petugas parkir dan sekuriti.

Melalui gelaran Lindu Aji Culture Fest 2026 di Borobudur, ormas ini menegaskan arah barunya untuk datang lebih dekat dengan masyarakat—menjadikan seni, budaya, dan tindakan sosial sebagai napas utama aktivitas mereka ke depan.(sub)

Selengkapnya