Emas Madura

1 jam yang lalu 2

Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura.

Kamis malam, 24 September, dada saya berdegup kencang menyaksikan layar televisi di rumah. Final bulu tangkis beregu putra Asian Games 2026.

Indonesia melawan “Sang Raksasa” China. Negara nan bulu tangkisnya sudah seperti agama. Indonesia tertinggal 0-2. Sebelum sukses menyamakan skor menjadi 2-2.

Partai kelima menjadi penentu. Selalu menjadi partai neraka. Bebannya tidak masuk akal. Siapa pun nan turun bermain, kakinya pasti terasa berat seperti dibebani jangkar kapal. Keringat dingin bisa mengucur sebelum bertanding.

China selalu menakutkan di partai penentu. Mental pemain mereka sekeras baja. Pemain-pemainnya seperti robot. Sudah diprogram untuk tidak tahu makna kata grogi.

Tapi robot itu kemarin korslet di partai terakhir. Partai penentuan.

Indonesia menurunkan pemain junior. Seorang anak muda. 19 tahun. Namanya Mohammad Zaki Ubaidillah. Panggilannya singkat dan merakyat: Ubed.

Ubed bermain lepas. Tidak ada rasa takut di matanya. Ubed menari. Melompat. Memukul dengan segenap tenaga. Dan menang. Indonesia menang 3-2.

Itu adalah lencana emas pertama Indonesia di Asian Games 2026. Diraih tim bulu tangkis beregu putera. Emas itu lahir dari tangan Ubed. Dari ayunan raket pemuda kelahiran Sampang. Kacong Madura. Ubed memang tidak berjuang sendirian. Tapi Ubed menjadi penentu.

Siapa Ubed?

Bagi fans ekstrem bulu tangkis, namanya mungkin sudah dikenal. Tapi bagi masyarakat awam, Ubed adalah kejutan nan banget manis. Lahir di Sampang, 26 Juni 2007, Ubed membawa DNA Madura nan khas: ulet, berani, dan pantang menyerah ke lapangan pertandingan di Aichi-Nagoya, Jepang. DNA itu diwarisi dari Bambang Suharyadi, bapaknya, nan asal Sumenep.

Jalan Ubed ke pelatnas Cipayung jelas tidak mudah. Ubed menyukai bulu tangkis sejak usia dini. Uniknya, masa kecilnya sempat diwarnai rayuan bermain sepak bola oleh mantan pemain Timnas Indonesia, Andik Vermansah dan Yusuf Ekodono, namun dia lebih memilih menekuni bulu tangkis.

Sejak kelas 1 SD, Ubed sudah merantau. Berlatih di PB Rahmat, Pati, Jawa Tengah. Ia berpindah-pindah kota mulai dari Gresik, Surabaya, hingga Klaten demi mencari lingkungan serta klub latihan nan pas sebelum akhirnya lolos seleksi PB Djarum pada akhir 2019.

Meski original Sampang, Ubed justru menyumbang lencana emas beregu putra untuk kontingen Jawa Tengah di PON Aceh-Sumut 2024 sebelum menembus pelatnas dan memperkuat tim Indonesia di arena besar seperti Piala Thomas dan Asian Games 2026.

Anak wilayah terkadang mudah minder. Tapi Ubed menjadikan kesederhanaannya sebagai cambuk. Karena akomodasi awalnya dulu tak seberapa, dia menggantinya dengan keringat nan diperas acapkali lipat lebih banyak.

China punya sistem pengetahuan olahraga modern di dunia. Punya mahir gizi terbaik. Punya teknologi ukur perspektif pukulan nan presisi. Tapi China tidak punya pemuda dari Sampang.

Gaya main Ubed adalah gambaran karakternya. Agresif tapi cerdik. Saat tertekan, dia tidak panik. Ia berani beradu pukulan drive sigap di depan net. Ngotot. Khas keberanian orang Madura nan nyalinya tidak bisa didikte.

Kemenangan ini mahal harganya. Sangat mahal. Bukan hanya lantaran ini emas pertama kontingen Indonesia di Asian Games 2026. Tapi lantaran Ubed membuktikan bahwa keberanian dan tekad bisa mengalahkan kekuasaan absolut.

Sumbangan Ubed ini pasti mengangkat mental seluruh kontingen Indonesia untuk memenangkan lencana emas lainnya.

Dulu, Sampang sering masuk buletin lantaran cuacanya nan terik, alias dinamika sosialnya nan keras. Kini, Sampang masuk dalam peta sejarah olahraga Asia. Orang-orang di Sampang dan Madura turut berteriak-teriak pecah menyambut kemenangan ini.

Madura sekarang bukan hanya tentang hamparan garam, sate lalat, alias antrean bebek Sinjay. Kini, cerita Madura adalah tentang kepingan emas Asian Games. Emas dari keringat Ubed. Emas Madura.

Dari Madura untuk Indonesia (*)

Selengkapnya