Oleh: Muhammad Tauhed Supratman, Dosen sastra di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura
Pagi itu, laman SMP Negeri 1 Pamekasan, Jl. R. Abdul Aziz No. 125, berdebar lebih hidup dari biasanya. Ratusan pasang mata remaja berkumpul bukan sekadar untuk menghadiri aktivitas seremonial rutin, melainkan menyalakan kembali bara kultural nan kian meredup di tengah riuh zaman. Pada Sabtu, 26 September 2026, perhelatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SMP se Kabupaten Pamekasan resmi digelar, menegaskan bahwa bahasa wilayah belum sepenuhnya kalah oleh gemerlap layar gawai dan homogenisasi bahasa global. Sebelum kejuaraan kebahasaan dimulai, sebuah pesan mendalam digaungkan oleh Kepala Bidang Pengembangan SMP Dinas Pendidikan Pamekasan, Jamil, M.Pd. Melalui petikan sambutannya, dia menitipkan sebuah manifestasi kebudayaan: FTBI adalah bentuk nyata pelestarian, tembok pertahanan bagi generasi penerus, sekaligus panggung tempat bakat-bakat muda mekar berbareng identitas aslinya.
Gagasan bahwa pagelaran ini merupakan bentuk nyata pelestarian bahasa Madura menyentuh kegelisahan sosiolinguistik nan teramat mendesak di era pascamodern. Selama bertahun-tahun, wacana pengamanan bahasa wilayah kerap berakhir di ruang-ruang seminar nan dingin, tersusun rapi dalam tumpukan arsip kebijakan, alias sekadar disuarakan dalam semboyan bersuara nostalgik tanpa daya eksekusi. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kepunahan bahasa bekerja secara sunyi dan perlahan, bermulai ketika ranah penggunaannya kian menyempit. Menghadirkan pagelaran berskala masif di sekolah membuktikan bahwa ikhtiar konservasi budaya tidak lagi boleh bersikap pasif alias sekadar pasrah meratapi kepunahan.
Kondisi bahasa Madura saat ini sejatinya sedang berada di persimpangan jalan nan genting. Di area perkotaan Madura maupun kantong-kantong perantauan, terjadi pergeseran bahasa (language shift) nan kian nyata di lingkungan family muda. Orang tua generasi milenial semakin sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengasuhan primer anak sejak usia dini, terdorong oleh kepraktisan dan prestise semu bahasa nasional maupun asing. Ketika bahasa ibu tidak lagi diwariskan secara alami di meja makan dan ruang tamu, rantai transmisi lintas generasi terancam putus, menciptakan lembah keterasingan antara anak-anak muda dan akar budayanya sendiri.
Situasi tersebut semakin diperumit oleh pudarnya pemahaman anak muda terhadap ondhâggâ-bhâsa alias tingkatan tutur dalam bahasa Madura. Struktur luhur nan membagi register bahasa menjadi tingkatan enjâ’-iyâ, èngghi-ènten, hingga èngghi-bhunten kerap disalahpahami oleh remaja sebagai beban gramatikal nan kaku dan menakutkan. Rasa cemas dianggap tidak sopan alias salah memilih kata membikin banyak pelajar memilih jalan pintas: meninggalkan bahasa Madura sama sekali dan beranjak ke bahasa Indonesia. Erosi linguistik pada tingkat tutur lembut inilah nan menjadi ancaman paling nyata bagi kekayaan sastra dan tata krama lokal.
Maka dari itu, penyelenggaraan FTBI di sekolah rujukan prestisius seperti SMP Negeri 1 Pamekasan menghadirkan pengaruh pembongkaran stigma nan sangat kuat. Membawa panggung bahasa wilayah ke lembaga pendidikan modern memberikan pesan simbolik bahwa bahasa Madura tidak berbobot rendah alias terbelakang. Langkah afirmatif ini menempatkan dialek lokal sejajar dalam derajat kehormatan dengan disiplin pengetahuan sains dan bahasa internasional. Legitimasi institusional semacam ini krusial untuk meruntuhkan inferioritas kultural nan selama ini mengendap di akal para peserta didik.
Kesadaran kelembagaan tersebut bertaut erat dengan seruan moral Jamil kepada para siswa sebagai generasi penerus bangsa. Menjaga kelestarian bahasa Madura bukanlah beban masa lampau nan dipaksakan secara anakronistis, melainkan etika kultural nan kudu diemban oleh pemilik masa depan. Generasi muda adalah jembatan hidup penentu nasib peradaban; jika tangan mereka melepaskan warisan leluhur ini, maka mata rantai peradaban Madura nan telah memperkuat selama ratusan tahun bakal runtuh di era mereka. Seruan tersebut menempatkan pelajar bukan sebagai penonton pasif, melainkan pemegang mandat sejarah.
Filosofi mendasar di kembali seruan tanggungjawab moral itu berakar pada prinsip bahwa bahasa tidak pernah berdiri sebatas susunan kata dan norma tata bahasa mekanis. Di dalam setiap leksikon bahasa Madura berdomisili langkah pandang hidup (worldview) serta kearifan luhur suatu suku bangsa. Ungkapan penghormatan hierarkis bhuppa’, bhâbhu’, ghuru, rato mengajarkan tata krama kepatuhan kepada orang tua, guru, dan pemimpin, sementara falsafah rampa’ naong beringin korong merangkum cita-cita kehidupan bermasyarakat nan teduh, damai, dan saling melindungi. Nilai kehalusan budi pekerti (andhâp asor) terpatri secara organis melalui pilihan kata nan diucapkan.
Ketika generasi muda berakhir menuturkan bahasa ibunya, ancaman terbesarnya bukan sekadar hilangnya perbendaharaan kata dari kamus, melainkan lenyapnya kompas moral dan karakter kepribadian mereka. Anak-anak nan kehilangan bahasa ibunya rentan mengalami keterasingan identitas (cultural alienation), ialah kondisi jiwa saat seseorang tercerabut dari memori kolektif tanah kelahirannya. Kehilangan bahasa adalah kehilangan langkah merasa, langkah menghormati sesama, dan langkah memaknai bumi di sekitarnya. Oleh karena itu, merawat bahasa Madura sejatinya adalah tembok pertahanan untuk menjaga kemanusiaan dan keutuhan karakter budi pekerti remaja.
Namun, aktivitas pelestarian bahasa dipastikan membentur jalan buntu andaikan hanya didekati dengan doktrin dogmatis alias pemaksaan kurikulum nan menjemukan. Generasi kiwari nan berkawan dengan visual bergerak dan kebebasan berpikir tidak bakal tersentuh oleh metode pengajaran nan melulu bertumpu pada mahfuz teori di lembar kerja siswa. Di sinilah letak ketajaman pandangan Jamil berikutnya: FTBI kudu menjadi arena nan menyenangkan dan membebaskan untuk menyalurkan jenis talenta siswa. Transformasi dari paksaan akademis menjadi pesta produktivitas inilah kunci menghidupkan kembali bahasa di hati anak muda.
Melalui panggung FTBI, bahasa Madura beralih-bentuk menjadi media ekspresi artistik nan memukau dan relevan dengan dinamika remaja. Di mimbar pidato, siswa belajar membangun argumen dan kepemimpinan dengan wibawa bahasa lembut èngghi-bhunten nan anggun. Di perspektif lomba mendongeng, kekayaan khayalan dan cerita rakyat masa lampau dihidupkan kembali dengan penghayatan vokal serta mobilitas tubuh nan memikat. Daya puitika kian terasa bergetar ketika para peserta membawakan lomba baca puisi Madura, melisankan larik-larik sarat metafora dengan resonansi emosional nan menyentuh kalbu. Bahasa ibu terbukti bisa menjadi instrumen penceritaan dan perenungan nan lentur, dramatis, serta menjangkau relung terdalam emosi manusia.
Kekuatan literasi tersebut meluas ke ranah tekstual melalui lomba menulis cerita pendek (cerpen) dan penulisan Carakan Madhura. Menulis cerpen memberi ruang bebas bagi para pelajar untuk menuangkan pergulatan batin, realitas sosial, serta khayalan liar mereka ke dalam jalinan prosa berkata wilayah nan bernas. Di saat nan sama, goresan tangan siswa dalam lomba Carakan Madhura merawat kembali memori visual aksara warisan leluhur nan nyaris terlupakan, mengubah simbol-simbol arkais menjadi kebanggaan skematis nan hidup di atas kertas. Keterampilan menulis prosa dan aksara ini menegaskan bahwa bahasa Madura tidak hanya digdaya di ruang lisan, melainkan kokoh sebagai tradisi sastra dan aksara nan berdaulat.
Bukan hanya itu, bagian seni tembang macapat dan komedi tunggal (lawak Madhura) memperlihatkan sungguh luas dan fleksibelnya spektrum bahasa wilayah ini. Macapat melatih ketajaman rasa, keteraturan metrum tembang, dan penghayatan nilai sufistik nan menenangkan jiwa, sementara komedi tunggal mendemonstrasikan kelincahan dialek Madura dalam menangkap realitas keseharian, kritik sosial, dan lawaksegar anak muda. Menyalurkan talenta lewat ragam bagian seni, sastra, dan aksara ini membuktikan bahwa bahasa Madura bukanlah fosil purba nan kaku di museum, melainkan organisme hidup nan bisa berbincang mesra dengan tren ekspresi kontemporer.Kendati demikian, keriuhan pagelaran di panggung nan semarak bukanlah garis akhir dari perjuangan pengamanan kebudayaan. Sejarah mencatat banyak aktivitas kultural nan layu sebelum berkembang lantaran terjebak dalam euforia seremoni tahunan belaka. Tantangan sesungguhnya justru bermulai ketika piala telah diserahkan, hiasan panggung dibongkar, dan gemuruh tepuk tangan di aula SMPN 1 Pamekasan telah mereda. Festival tidak boleh menjadi mercusuar nan bercahaya sesaat di tengah lautan kepunahan nan pekat.
Bahaya laten nan patut diwaspadai berbareng adalah jebakan elitisme kejuaraan, di mana pembinaan intensif hanya dinikmati oleh segelintir siswa berbakat nan disiapkan berburu piala demi reputasi sekolah. Jika praktik ini dibiarkan, kebanyakan siswa lain di ruang-ruang kelas tetap terpinggirkan tanpa mengalami peningkatan literasi bahasa ibu nan berarti. Semangat FTBI kudu sukses didistribusikan secara demokratis, menetes ke percakapan berkawan di perspektif kantin sekolah, mewarnai aktivitas ekstrakurikuler, dan menembus kembali kehangatan obrolan family di meja makan rumah.
Keberlanjutan ini menuntut orkestrasi kolaboratif antara pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan ekosistem digital. Kurikulum muatan lokal di Pamekasan perlu diremajakan agar menyajikan materi berbasis proyek kreatif, seperti produksi video pendek, penulisan komik digital, alias rekaman siniar (podcast) berkata Madura oleh para siswa. Membawa bahasa ibu ke dalam lanskap media sosial tempat generasi muda menghabiskan sebagian besar waktunya merupakan langkah strategis untuk memastikan bahasa Madura tetap bernafas di ruang digital nan tanpa batas.
Pada akhirnya, apa nan terpancar dari perhelatan FTBI di SMP Negeri 1 Pamekasan menghadirkan secercah lentera terang di tengah pesimisme kepunahan bahasa wilayah di Nusantara. Bahasa Madura terbukti tetap mempunyai nafas nan panjang, daya lentur nan kukuh, serta pesona nan kekal andaikan diberi panggung nan tepat. Menjaga bahasa wilayah adalah ikhtiar merawat kebhinekaan nan menjadi urat nadi keindonesiaan kita. Masa depan bahasa Madura sekarang berada di tangan generasi penerus; bahasa ini bakal tetap kekal selama anak-anak muda terus bangga melafalkannya dalam tawa, karya, dan cita-cita hidup mereka.

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·