Founder Bashra BIP, Ali Zainal Abidin bercengkrama dengan Angga dan ibunya usai membahas pemberangkatan ke tanah suci Mekkah. (KLIKMADURA)
PAMEKASAN || KLIKMADURA – Angga mungkin tidak pernah tahu kapan mimpinya bakal betul-betul sampai ke langit. Namun, setiap kali memandang bus melintas di pinggir jalan, anak berkebutuhan unik asal Desa Lemper, Kecamatan Pademawu, Pamekasan itu selalu melambaikan tangan sembari berteriak penuh harap, “Haji, haji.”
Tidak ada nan tahu seberapa lama Angga menyimpan kemauan itu. Tetapi Allah seolah telah menyiapkan jalan nan tidak pernah dibayangkan oleh bocah tersebut dan keluarganya.
Jalan itu datang melalui tangan seorang dermawan. Ali Zainal Abidin, Founder Bashra Bani Insan Peduli, nan berkawan disapa Bang Ali, bukan sekadar menghadirkan hadiah. Dia datang membawa jawaban atas angan nan selama ini mungkin hanya bisa dipanjatkan dalam diam.
Berawal dari aktivitas jalan sehat alias JJS dalam rangka pembukaan Toko Emas Central 88 Gold and Jewellery di Kabupaten Pamekasan, sebuah kejutan besar menanti Angga. Di antara bingkisan nan disiapkan, namanya keluar sebagai salah satu penerima bingkisan umroh.
Bagi sebagian orang, bingkisan mungkin hanya sekadar sesuatu nan diterima. Tetapi bagi Angga, bingkisan itu adalah pintu menuju mimpi nan selama ini hanya bisa diteriakkan setiap memandang bus melintas.
Angga bakal pergi ke Tanah Suci. Angga bakal memandang Mekkah. Angga bakal mendekat ke tempat nan selama ini mungkin hanya datang dalam angan dan angan-angannya. Namun, kebahagiaan itu sempat bercampur dengan kekhawatiran.
Angga adalah anak berkebutuhan khusus. Keluarganya tentu tidak mungkin membiarkan dia berangkat seorang diri ke Tanah Suci. Dia memerlukan pendamping, memerlukan tangan family nan selalu menggenggamnya.
Masalahnya, family Angga hidup dalam keterbatasan. Tidak ada biaya untuk memberangkatkan personil family sebagai pendamping. Mimpi itu pun seolah kembali berdiri di persimpangan.
Di satu sisi, Angga telah mendapatkan bingkisan umroh. Di sisi lain, siapa nan bakal menemaninya? Kekhawatiran family itu rupanya tidak dibiarkan terlalu lama.
Bang Ali kembali membikin keputusan nan menyentuh hati. Dia tidak mau Angga berangkat sendirian. Bang Ali memberikan satu paket umroh lagi untuk Sulastri, ibu tercinta Angga. Sekejap, suasana berubah. Tangis pecah.
Sulastri tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nan membuncah di dalam dadanya. Air mata mengalir dari kelopak matanya, sementara bibirnya tidak berakhir mengucapkan syukur kepada Allah SWT.
Angga akhirnya tidak hanya meraih mimpinya. Dia juga membawa serta ibunya. Anak dan ibu itu bakal berangkat bersama. Menjemput panggilan suci nan selama ini mungkin terasa begitu jauh dari kehidupan mereka nan serba pas-pasan.
“Ibadah ke tanah suci itu panggilan, Alhamdulillah Angga dan ibundanya dipanggil untuk bersama-sama melaksanakan ibadah umrah,” kata Bang Ali.
Bagi Bang Ali, kebahagiaan itu tidak berakhir ketika bingkisan diberikan. Dia menitipkan angan kepada Angga dan Sulastri agar perjuangan Bashra Bani Insan Peduli terus mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Dia juga berambisi seluruh tim relawan selalu diberikan kesehatan agar perjuangan kemanusiaan nan dilakukan dapat terus berjalan.
Sulastri acapkali mengusap air matanya. Dia tetap seperti tidak percaya bahwa angan nan selama ini dipanjatkan akhirnya menemukan jalannya.
Perempuan itu mengaku tidak pernah membayangkan bisa terbang ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umroh. Kehidupan sehari-hari nan dijalani dengan segala keterbatasan membikin angan tersebut terasa begitu jauh.
Tetapi Sulastri tidak pernah berakhir berdoa. Dia tetap meminta kepada Allah SWT agar suatu hari bisa menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Dan kini, angan itu dijawab melalui jalan nan tidak pernah dia duga. Melalui kedermawanan Bang Ali.
“Alhamdulillah terima kasih Bang Ali, tidak ada lain nan bisa kami berikan selain ucapan terima kasih sebesar-besarnya. Kami doakan seluruh upaya Bang Ali diberi kelancaran oleh Allah,” katanya dengan bunyi nan tetap bergetar.
Namun, rupanya kebahagiaan Angga dan Sulastri belum berakhir di situ. Di tengah cerita nan mengharukan itu, Sulastri mengungkapkan sebuah kemauan sederhana putranya. Saat mengikuti JJS, Angga sebenarnya sangat menginginkan bingkisan sepeda.
Keinginan itu bukan tanpa alasan. Dari teman-teman bermainnya, hanya Angga nan tidak mempunyai sepeda. Bagi banyak orang, sepeda mungkin hanya barang biasa.
Namun, bagi seorang anak, mempunyai sepeda bisa menjadi kebahagiaan nan sangat besar. Dan ketika mendengar cerita itu, hati Bang Ali kembali tersentuh.
Sekali lagi, laki-laki nan selama ini dikenal aktif berbagi melalui Bashra Bani Insan Peduli tersebut memilih untuk mewujudkan sebuah mimpi. Mimpi Angga mempunyai sepeda. Maka, hari itu Angga mendapatkan lebih dari nan pernah dia bayangkan.
Anak nan dulu berdiri di pinggir jalan sembari melambaikan tangan dan berteriak, “Haji, haji,” sekarang betul-betul bakal menuju Tanah Suci berbareng ibunya.
Anak nan hanya mau mendapatkan bingkisan sepeda lantaran tidak mau berbeda dari teman-teman bermainnya, sekarang juga bakal mempunyai sepeda impiannya.
Bang Ali tidak hanya memberikan hadiah. Dia memberikan angan kepada family nan nyaris kehilangan kepercayaan bahwa mimpi mereka bisa terwujud.
Dia tidak hanya memberangkatkan Angga dan Sulastri ke Mekkah. Dia menyatukan mimpi seorang anak dengan angan seorang ibu. Di situlah kedermawanan menemukan maknanya nan paling indah.
Sebab, terkadang seseorang tidak perlu menjadi sangat kaya untuk mempunyai mimpi. nan dibutuhkan hanyalah satu tangan nan bersedia mengulurkan kebaikan. Dan bagi Angga, tangan itu datang melalui Bang Ali.
Kini, ketika suatu hari kelak Angga kembali memandang bus melintas di jalan, mungkin dia tidak lagi sekadar melambaikan tangan sembari meneriakkan kata “haji”.
Sebab, mimpi nan dulu hanya bisa diteriakkan dari pinggir jalan itu telah dijawab. Bukan hanya dengan sebuah perjalanan ke Tanah Suci.
Tetapi juga dengan kasih sayang, kepedulian, dan kedermawanan nan membikin seorang anak dan ibunya percaya bahwa angan tidak pernah betul-betul pergi ke mana-mana. Doa itu hanya menunggu waktu terbaik untuk pulang sebagai kenyataan. (nda)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·