Kegembiraan

1 jam yang lalu 1

Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S3 Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam Universitas Nurul Jadid.

Nomor R.E.M dalam segmen Supernatural dari radio 88.5 FM merupakan daftar putar (playlist) pada suatu pagi awal hari. Band musik asal Athens, Georgia, mengingatkan saya pada masa kecil. Samar-samar, saya pernah memandang posternya di rumah Suparto. Kala itu poster dan kaset Barat adalah peralatan mewah. Di rumah, bapak dan ibu hanya mempunyai album Rhoma Irama dan lagu-lagu qasidah. Dari sini saya merasa bahwa nyanyian Latief M tentang Lebaran sangat menyentuh membawa saya ke kampung halaman secara utuh. Semuanya bergembira.

Kini, banyak ingatan datang begitu saja dalam kesadaran estetis. Saya memandang bahwa bunyi dan kata itu adalah langkah manusia untuk memahami dunia. Setelah ditelusuri, lagu Losing My Religion, single utama R.E.M dalam album Out of Time tidak dapat dipahami secara harfiah tetapi percakapan unik wilayah asal penyanyi ialah kehilangan kendali alias frustrasi hingga ke titik puncak. Betapa setiap golongan masyarakat memahami kata dengan langkah yang berbeda.

Di komentar YouTube, saya terpaku pada kesaksian ini: This is my dad’s song, he has been diagnosed with alzheimer’s since 2015 and he is now nonverbal, hardly knows who I am, can’t form sentences but we play this for him and he is mouthing some of the words and trying to sing, the power of music . Betapa musik sukses menghadirkan, meminjam Gabriel Marcel dalam Music and Philosophy (2005), sang ayah nan nonverbal kembali kepada dirinya sendiri. Itu adalah momen misteri (bukan problem) nan hanya bisa diakses melalui partisipasi estetis, bukan kajian teknis. Dengan demikian, musik betul-betul menjadi air nan menghubungkan penderitaan konkret (Alzheimer) dengan perenungan tentang eksistensi.

Pengalaman saya memutar Latief M dengan Lebarannyaserta-merta membawa saya ke jalan kampung di antara rumah Lailah dan Zainal kala lagu itu terdengar dari pelantang TOA Lo’ Songai. Pertanyaannya, kenapa ingatan masa mini itu menyenangkan? Apakah kita kudu menjadi kanak-kanak kembali agar hidup terasa ringan dan bermakna ? Kini, justru menjadi dewasa adalah berkedudukan sebagai orang tua nan melayani anak-anak dan menjadi penduduk nan baik agar lingkungan tempat kita tinggal menjadi ruang nan menyenangkan bagi generasi Alpha dan Z.

Pengalaman masa mini itu direkam oleh Gaston Bachelard sebagai reverie dalam The Poetics of Reverie: Childhood, Language, and the Cosmos (1971). Dengan mengingat kesunyian kosmik masa kanak-kanak, kita kembali mengalami mode keberadaan residual nan mengikat nan nyata dengan nan imajiner. Dalam reverie kita kembali bergesekan dengan kemungkinan-kemungkinan nan tidak dapat digunakan oleh takdir. Sebuah paradoks besar terhubung dengan reverie menuju masa kecil, ialah dalam diri kita, masa lampau nan meninggal ini mempunyai masa depan yang terbuka di hadapan setiap gambar nan ditemukan kembali.

Gagasan di atas menjelaskan kenapa masa mini terasa menyenangkan bukan lantaran faktanya, tetapi lantaran langkah kita menghidupkannya kembali, masa lampau nan matidihidupkan kembali sebagai masa kini nan baru dalam lamunan. Tak dapat dielakkan, setiap kali membuka radio, saya berambisi bahwa lagu-lagu nan menjadi kenangan dapat diperdengarkan pada pendengar.

Tetapi, Adorno mencatat bahwa pendengaran terkenal sering berkarakter regresif, di mana pendengar kembali ke pola mendengar kekanak-kanakan nan pasif dan menghibur, alih-alih mendengar secara struktural nan kritis dan aktif. Dalam kerangka ini, reverie Bachelard nan saya alami, terseret ke masa kecil, ke kampung, ke rumah Lailah dan Zainal, justru dapat dilihat sebagai pelarian dari realitas, sebuah penyembahan berhala emosi (emotional fetishism). Saya terbuai dalam nostalgia, alih-alih menghadapi kompleksitas masa kini.

Namun demikian, Adorno betul tentang struktur, tetapi dia mungkin mengabaikan subjektivitas. Musik memang adalah barang jualan dalam sistem kapitalis. Namun, pada saat nan sama, musik juga adalah medium di mana manusia menemukan makna, koneksi, dan apalagi perlawanan mini terhadap keputusasaan. Sebuah lagu boleh jadi produk industri, tetapi pengalaman mendengarnya adalah nyata, dan dia mempunyai kuasa untuk menyembuhkan, mengingatkan, dan menyatukan. Kataterakhir menempel begitu kuat di akal tatkala saya dan Ahwa Muzakki menyatu dalam rentak lagu Seni Rhoma Irama dulu di kamar kost.

Tentu saja, saya tidak kudu memilih antara Bachelard dan Adorno. kita boleh terbawa dalam reverie masa mini dan merasakan kehadiran nan mendalam melalui musik, tetapi kita juga kudu tetap kritis terhadap struktur nan membentuk pengalaman itu. Kita boleh menikmati musik, tetapi tidak boleh berakhir di situ. Sebagaimana saya tulis di awal, menjadi dewasa adalah berkedudukan sebagai orang tua nan melayani anak-anak dan menjadi penduduk nan baik, agar lingkungan tempat kita tinggal menjadi ruang nan menyenangkan bagi generasi alfa dan Z.

Dengan menghidupkan masa silam, kita tidak ingin terjebak di dalamnya, melainkan hendak merayakan kekuatan musik, alih-alih buta terhadap kesadaran politik di balik liriknya. Dengan demikian, reverie bukanlah pelarian, melainkan pemulihan jiwa dan raga untuk kembali bergulat dengan dunia nyata. Di situlah, saya percaya, letak kegembiraan nan sesungguhnya.

Selengkapnya