Dari Tulang Ikan hingga Kayu Stigi, Ini Bahan Baku Pipa Rokok

1 jam yang lalu 3

KABAR MADURA | Pipa rokok tidak hanya dikenal sebagai perangkat untuk menikmati tembakau. Di tangan para perajin, barang ini juga menjadi produk kerajinan nan mempunyai beragam bentuk, bahan baku, dan teknik pengerjaan. Mulai dari tulang ikan laut hingga kayu stigi, setiap bahan mempunyai karakter dan karakter tersendiri.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Keberagaman bahan baku pipa rokok tersebut dapat dijumpai dalam pameran Sarasehan Budaya nan digelar di Monumen Arek Lancor, Pamekasan, pada 25-31 Oktober 2026. Dalam pameran itu, beragam jenis pipa rokok dipajang dengan bahan dan karakter nan berbeda.

Salah satu perajin sekaligus penjual asal Sumatera, Soni, mengatakan, bahan baku untuk membikin pipa rokok cukup beragam. Di antaranya tulang duyung, tulang ikan laut, tulang sapi, batang daun kelor, kayu asem, kayu liwung, kayu kling, kayu stigi, hingga serbuk gading dan bahan lainnya.

Salah satu bahan nan menarik perhatian adalah kayu stigi. Kayu nan berasal dari tanaman nan tumbuh di area pesisir ini dikenal mempunyai tekstur keras dan padat. Warnanya pun bervariasi, mulai dari cokelat hingga kehitaman, sehingga memberikan karakter tersendiri pada produk kerajinan nan dihasilkan.

Dari segi produksi, para perajin bisa menghasilkan pipa rokok dalam jumlah cukup banyak setiap harinya. Namun, jumlah produksi tetap berjuntai pada proses pengerjaan dan jenis bahan nan digunakan.

“Dalam sehari satu perajin itu bisa menghasilkan tiga hingga lima kodi. Untuk satu kodi, ada 20 biji,” terangnya saat mengikuti pameran Sarasehan Budaya, Selasa (27/10/2026).

Menurut Soni, keberagaman bahan baku membikin proses pembuatan pipa rokok tidak bisa disamaratakan. Setiap material memerlukan penanganan berbeda, menyesuaikan karakter bahan serta corak pipa nan hendak dihasilkan.

Teknik pengerjaannya pun beragam. Ada bahan nan bisa dibentuk menggunakan cetakan, tetapi ada pula nan kudu dikerjakan secara manual melalui proses pemahatan alias pengukiran.

Pengerjaan secara manual memerlukan ketelitian agar bahan dapat dibentuk sesuai kreasi nan diinginkan. Sementara itu, penggunaan cetakan menjadi salah satu langkah untuk menghasilkan corak tertentu dengan tetap menyesuaikan karakter materialnya.

Soni menyebut, pipa rokok tetap mempunyai peminat, meskipun antusiasme masyarakat mulai menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, daya tarik produk tersebut terletak pada keragaman corak dan model nan dihasilkan para perajin.

Perbedaan karakter setiap bahan juga menjadi nilai tersendiri bagi pipa rokok nan diproduksi. Hal itu membikin setiap produk mempunyai karakter khas, baik dari segi tekstur maupun bentuknya.

“Setiap bahan memilik tekstur dan corak nan berbeda, dan penangana nan berbeda pula,” tegasnya. (zul)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0