KABAR MADURA | Perjalanan Muhammad Jamaluddin, M.Pd. hingga dipercaya menjadi Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Madura pada 2026 ditempa melalui pengalaman panjang sebagai dosen, pengelola program studi, hingga pelayanan kemahasiswaan.
Jamaluddin mengawali karirnya melalui proses CPNS pada 2011. Pada 2012 hingga 2017, selain menjalankan tugas sebagai dosen, dia dipercaya menjadi staf kemahasiswaan selama kurang lebih lima tahun.
Kariernya kemudian bersambung dengan menjabat ketua Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) UIN Madura (dulu IAIN Madura) sejak 2015 hingga 2025. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pengabdiannya sebelum dipercaya rektor menduduki kedudukan Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Madura pada 2026.
“Tidak ada perjalanan nan sangat istimewa. Mungkin saya dipercaya lantaran selama ini juga mengabdi di kampus sebagai kaprodi, terlebih sebagai staf kemahasiswaan kurang lebih lima tahun,” ujarnya, Senin (14/9/2026).
Bagi Jamaluddin, salah satu pengalaman paling berkesan sebagai akademisi justru datang dari proses membimbing mahasiswa menyelesaikan tugas akhir. Menurutnya, pendampingan tersebut memerlukan kesabaran, ketelitian, dan ketabahan.
“Memotivasi mahasiswa memerlukan kesabaran, ketelitian, dan ketabahan untuk membimbing semua mahasiswa nan dipercaya untuk dibimbing tugas akhirnya. Saya kira itu pengalaman nan paling berkesan,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi, Jamaluddin menilai bumi akademik menghadapi tantangan baru. Kemudahan mahasiswa memperoleh info melalui internet, menurutnya, kudu diimbangi dengan keahlian mengolah dan mencantumkan sumber secara betul agar tidak terjebak dalam plagiarisme.
“Sekarang kan bumi media sosial, dan mahasiswa sangat mudah merujuk kepada Google. Itu tantangan saya sehingga banyak plagiasi dan juga nan diklaim sendiri, padahal dia ambil di Google,” jelasnya.
Namun, dia menilai tantangan akademisi tidak hanya berasal dari perkembangan teknologi. Kemampuan mengendalikan dan mengembangkan diri juga menjadi bagian krusial dalam perjalanan seseorang.
“Tantangan terbesar sering datang dari diri sendiri. Jadi kadang diri kita nan menjadi tantangan terbesar dalam diri kita,” ujarnya.
Sebagai wakil dekan, Jamaluddin mau mendorong penguatan perencanaan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta pelayanan manajemen di lingkungan fakultas. Di sisi lain, dia menilai perguruan tinggi juga perlu mendorong mahasiswa mempunyai bekal nan lebih luas daripada keahlian akademik.
Menurutnya, soft skill dan pengalaman menjadi modal krusial ketika mahasiswa memasuki bumi kerja. Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga mengembangkan keahlian melalui beragam aktivitas dan organisasi.
“Memang tidak cukup, lantaran ketika masuk bumi kerja nan dibutuhkan itu potensi dan pengalaman. Berbeda dengan soft skill, jika akademik banyak berangkaian dengan hard skill. Saya kira soft skill bekal bumi kerja nanti,” tuturnya.
Jamaluddin pun mendorong mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Madura serius menjalani perkuliahan sekaligus aktif mencari pengalaman melalui organisasi intra maupun ekstra kampus. Pengalaman tersebut dinilai dapat melatih keahlian berkomunikasi, berorganisasi, serta menghadapi beragam persoalan setelah lulus.
Selain kompetensi, dia menekankan pentingnya ketahanan mental bagi generasi muda dalam menghadapi proses pendidikan maupun bumi kerja.
“Jadilah generasi nan secara mental kuat, jangan jadi generasi nan mentalnya rentan lantaran banyak sekali generasi mahasiswa nan mentalnya rapuh,” pungkasnya. (Arjul Wafiqoh/waw)

47 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·