Pertunjukan Tari Topeng Getak saat memeriahkan Malam Kemilau Madura. (MOH. IQBALUL KHAVEI MZ / KLIKMADURA)
PAMEKASAN || KLIKMADURA – Ribuan penduduk memadati area Monumen Arek Lancor untuk menyaksikan Malam Kemilau Madura berjudul Simfoni Budaya Pamekasan, Senin (2/11/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi (Harjad) Kabupaten Pamekasan ke-496.
Berbagai macam pagelaran seni dan budaya ditampilkan, perihal tersebut menunjukkan sungguh kayanya tradisi dan keberagaman masyarakat di Kabupaten Pamekasan.
Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman mengatakan, Simfoni Budaya merepresentasikan kehidupan masyarakat nan bisa hidup berdampingan dalam keberagaman, tanpa meninggalkan tradisi dan identitas daerah.
“Simfoni Budaya merupakan gambaran tentang Pamekasan nan selaras dalam keberagaman, mempunyai kekuatan tradisi, dan kebanggaan terhadap sejarah maupun identitas budaya nan kaya,” katanya.
Mantan personil DPR RI itu juga menyampaikan, Pamekasan telah menerima sejumlah penghargaan di bagian kebudayaan. Di antaranya, penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan RI serta penyerahan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum Jawa Timur.
“Penghargaan WBTb menjadi pengakuan atas kekayaan tradisi nan kita miliki. Sementara sertifikat HKI menjadi bukti pentingnya perlindungan norma terhadap karya dan produktivitas masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan Hairul Saleh menjelaskan, Simfoni Budaya mengangkat pesan tentang keberagaman masyarakat nan terbentuk dari tiga etnis, ialah Madura, Tionghoa, dan Arab.
Menurutnya, Perbedaan latar belakang itu menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan nan rukun, saling membantu, dan bergotong royong.
“Melalui aktivitas ini, kami mau menyampaikan kepada masyarakat bahwa Pamekasan merupakan wilayah nan mempunyai keberagaman. Masyarakatnya hidup rukun, guyub, saling membantu, dan bergotong royong untuk memajukan daerah,” ucapnya.
Hairul Saleh mengatakan bahwa sejumlah kesenian tradisional unik Pamekasan ditampilkan dalam aktivitas tersebut, diantaranya Mamaca, Macapat, Tari Topeng Getak, dan Tari Rondhing.
Ia mengaku bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan. Diperlukan sosialisasi dan diseminasi kepada masyarakat agar tradisi lokal tetap dikenal, dipahami, dan mendapat tempat di tengah kehidupan generasi muda.
“Kami mempunyai sejumlah objek pemajuan kebudayaan nan terus dikembangkan dan dilestarikan agar kebudayaan original Pamekasan tidak hilang. Salah satu upayanya melalui sosialisasi dan diseminasi kepada masyarakat,” tandasnya. (ibl/nda).

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·