Nikmat Seorang Pembangkang
Ceritaku tak pernah didengar,
meski tangis kerap membersamai.
Tak jarang pula sumpah serapah
menghiasi cerita panjang,
sepanjang sakitku.
Aku berdiri sebagai pembangkang,
menanam angan di ladang kekuasaan,
lalu memanen cacian
sebagai pelawan iman.
Benar adanya,
membangkang kepada tiran peminum keringat
yang menuntut ketaatan
lewat kalam-kalam
Arab.
Nikmat seorang pembangkang
berupa bunyi tentang kewenangan nan dilanggar,
serta membikin tiran tak lagi berharga,
seperti kewenangan nan terkubur di tanah.
Ketika celaan datang,
ia menjadi taring nan melukai;
rasa sakitlah nan mengasahnya.
Tuhan tak memberi kesempatan
untuk mencipta sebuah luka.
Ia pun tak memberi kesempatan
untuk melucuti nan mulia
menjadi tak mulia.
Rasa sakit seorang pembangkang
berupa tanggungjawab untuk ikut membesarkan
tiran, pemakan dagingnya.
Pakondang, 23 September
Izin untuk Pintar
Di sekolah,
kami diajari bertanya.
Di luar pagar,
pertanyaan kudu meminta izin.
Maka banyak kepala
lebih memilih mengangguk,
sebab berpikir terlalu keras
sering dianggap pembangkangan.
Jika setiap tanya
dipaksa bertimpuh pada ketakutan,
filsafat bakal lenyap.
Dan Thales,
barangkali,
akan pulang dengan kecewa.
Sebab nan paling susah diperoleh
bukan ilmu,
melainkan izin untuk pintar.
Pakondang, 19 Oktober 2026
Di Kantor Catatan Sipil
Tuhan tak pernah dimintai KTP,
tetapi mereka memintanya
untuk masuk surga.
Maka kutulis namaku sendiri
dengan huruf kecil,
agar tak tertukar
dengan para penjaga pintu.
Pakondang, 25 Oktober 2026
Pelajaran Menghitung
Anak-anak belajar berhitung
dari jumlah support nan hilang,
dari janji nan berkurang
setiap kali nama Tuhan disebut.
Di papan tulis,
angka-angka tak lagi berani jujur.
Sebab nan paling susah dihitung
adalah hilangnya kepercayaan.
Batang-batang, 26 Oktober 2026
Olimpus
Tuhan, jika boleh,
bawa saya ke masa
ketika Olimpus tetap dipenuhi sesembahan,
dan para dewa belum belajar
bersembunyi di kembali kitab suci.
Jadikan saya seorang hamba
yang betul-betul beragama kepada-Mu.
Agar dapat kupertaruhkan leherku
di hadapan singgasana Zeus,
di tengah sorak para pemuja
yang mengangkat makhluk
setinggi langit.
Sebab lebih mudah
mengenali berhala
yang tegak di atas altar,
daripada mereka
yang turun dari mimbar
lalu mengaku hanya menyampaikan firman.
Aku lebih rela
mati oleh tombak penyembah Olimpus,
daripada hidup
di era ketika dusta
berselimut sorban,
dan mimbar menjelma
tiang gantungan bagi nurani.
Sebab berhala nan dipahat dari batu
tak pernah mengaku sebagai Tuhan,
tetapi manusia
sering kali mengangkat dirinya
setinggi bunyi langit.
Batang-Batang, 26 Oktober 2026
BIODATA PENULIS
Joni Efendy lahir di Kecamatan Batuputih, Sumenep pada 28 Oktober 2010, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Siswa MA Nurul Muchlishin sekaligus santri PP Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru, Sumenep. Menaruh minat pada sastra, filsafat, dan ikhtiar membaca kehidupan melalui kata-kata.

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·