Coretan Joni Efendy

1 jam yang lalu 2

Nikmat Seorang Pembangkang

Ceritaku tak pernah didengar,

meski tangis kerap membersamai.

Tak jarang pula sumpah serapah

menghiasi cerita panjang,

sepanjang sakitku.

Aku berdiri sebagai pembangkang,

menanam angan di ladang kekuasaan,

lalu memanen cacian

sebagai pelawan iman.

Benar adanya,

membangkang kepada tiran peminum keringat

yang menuntut ketaatan

lewat kalam-kalam

Arab.

Nikmat seorang pembangkang

berupa bunyi tentang kewenangan nan dilanggar,

serta membikin tiran tak lagi berharga,

seperti kewenangan nan terkubur di tanah.

Ketika celaan datang,

ia menjadi taring nan melukai;

rasa sakitlah nan mengasahnya.

Tuhan tak memberi kesempatan

untuk mencipta sebuah luka.

Ia pun tak memberi kesempatan

untuk melucuti nan mulia

menjadi tak mulia.

Rasa sakit seorang pembangkang

berupa tanggungjawab untuk ikut membesarkan

tiran, pemakan dagingnya.

Pakondang, 23 September

Izin untuk Pintar

Di sekolah,

kami diajari bertanya.

Di luar pagar,

pertanyaan kudu meminta izin.

Maka banyak kepala

lebih memilih mengangguk,

sebab berpikir terlalu keras

sering dianggap pembangkangan.

Jika setiap tanya

dipaksa bertimpuh pada ketakutan,

filsafat bakal lenyap.

Dan Thales,

barangkali,

akan pulang dengan kecewa.

Sebab nan paling susah diperoleh

bukan ilmu,

melainkan izin untuk pintar.

Pakondang, 19 Oktober 2026

Di Kantor Catatan Sipil

Tuhan tak pernah dimintai KTP,

tetapi mereka memintanya

untuk masuk surga.

Maka kutulis namaku sendiri

dengan huruf kecil,

agar tak tertukar

dengan para penjaga pintu.

Pakondang, 25 Oktober 2026

Pelajaran Menghitung

Anak-anak belajar berhitung

dari jumlah support nan hilang,

dari janji nan berkurang

setiap kali nama Tuhan disebut.

Di papan tulis,

angka-angka tak lagi berani jujur.

Sebab nan paling susah dihitung

adalah hilangnya kepercayaan.

Batang-batang, 26 Oktober 2026

Olimpus

Tuhan, jika boleh,

bawa saya ke masa

ketika Olimpus tetap dipenuhi sesembahan,

dan para dewa belum belajar

bersembunyi di kembali kitab suci.

Jadikan saya seorang hamba

yang betul-betul beragama kepada-Mu.

Agar dapat kupertaruhkan leherku

di hadapan singgasana Zeus,

di tengah sorak para pemuja

yang mengangkat makhluk

setinggi langit.

Sebab lebih mudah

mengenali berhala

yang tegak di atas altar,

daripada mereka

yang turun dari mimbar

lalu mengaku hanya menyampaikan firman.

Aku lebih rela

mati oleh tombak penyembah Olimpus,

daripada hidup

di era ketika dusta

berselimut sorban,

dan mimbar menjelma

tiang gantungan bagi nurani.

Sebab berhala nan dipahat dari batu

tak pernah mengaku sebagai Tuhan,

tetapi manusia

sering kali mengangkat dirinya

setinggi bunyi langit.

Batang-Batang, 26 Oktober 2026

BIODATA PENULIS

Joni Efendy lahir di Kecamatan Batuputih, Sumenep pada 28 Oktober 2010, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Siswa MA Nurul Muchlishin sekaligus santri PP Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru, Sumenep. Menaruh minat pada sastra, filsafat, dan ikhtiar membaca kehidupan melalui kata-kata.

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0