Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Tumbuh Generasi Muda

57 menit yang lalu 1

Oleh: Moh Naufal Abror, Pengurus Lakpesdam PCNU Sumenep sekaligus Dosen UNIBA Madura.

****

SETIAP 28 Oktober, kita kembali memperingati Sumpah Pemuda. Ikrar nan lahir pada 1928 itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti keberanian generasi muda membangun kesadaran berbareng di tengah perbedaan.

Para pemuda saat itu tidak menunggu keadaan menjadi ideal untuk mengambil peran. Mereka menjadikan pendapat dan persatuan sebagai jalan menuju masa depan bangsa.

Hampir satu abad kemudian, semangat itu perlu dibaca kembali melalui kehidupan pemuda hari ini. Di tengah perkembangan teknologi, arus info nan cepat, dan perubahan ekonomi, muncul pertanyaan: apakah generasi muda mempunyai cukup ruang dan inisiatif untuk mengembangkan pikiran, kapasitas, dan keberanian mengambil peran dalam masyarakat?

Sebagai akademisi nan mengawasi kehidupan pemuda, saya memandang bahwa aktivitas pendidikan tetap kerap berpusat pada tanggungjawab formal. Di lingkungan kampus, misalnya, sebagian mahasiswa menjalani rutinitas kuliah, menyelesaikan tugas, lampau pulang.

Diskusi di luar kelas, membaca bersama, dan pertukaran pendapat belum selalu menjadi kebiasaan. Tentu, kondisi ini tidak bertindak bagi semua mahasiswa. Keterbatasan waktu, biaya, dan tanggung jawab family juga perlu dipertimbangkan.

Namun, keadaan tersebut tetap mengundang pertanyaan: sudahkah lingkungan pendidikan menyediakan ruang nan cukup bagi tumbuhnya tradisi intelektual? Tradisi berpikir tidak lahir hanya lantaran seseorang terdaftar sebagai mahasiswa alias personil organisasi.

Ia tumbuh melalui kebiasaan membaca, bertanya, berdialog, dan menguji gagasan. Karena itu, mahasiswa perlu berinisiatif membangun ruang diskusi, meskipun sederhana. Percakapan setelah kuliah, golongan membaca, alias pertemuan mini untuk membahas persoalan masyarakat dapat menjadi awal.

Diskusi bukan arena menunjukkan siapa nan paling pintar, melainkan kesempatan untuk memperluas langkah pandang, menerima perbedaan, dan memahami persoalan secara lebih utuh.

Kebiasaan tersebut krusial lantaran tantangan pemuda tidak berakhir pada pendidikan. Perubahan bumi kerja dan ketidakpastian ekonomi menuntut keahlian beradaptasi, berkomunikasi, memimpin, serta menciptakan peluang.

Pengetahuan perlu dihubungkan dengan persoalan nyata agar tidak berakhir sebagai teori. Di Madura, misalnya, potensi pertanian, UMKM, perdagangan, dan budaya dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan riset, inovasi, dan kerjasama nan berfaedah bagi masyarakat.

Tanggung jawab ini bukan milik pemuda semata. Kampus, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan bumi upaya perlu menyediakan ruang belajar serta kerjasama nan terbuka. Namun, kesempatan tersebut memerlukan inisiatif agar betul-betul hidup.

Pemuda tidak kudu menunggu aktivitas besar untuk berkontribusi; golongan obrolan nan konsisten alias proyek mini nan menjawab kebutuhan masyarakat pun dapat menjadi langkah awal perubahan.

Memperingati Sumpah Pemuda semestinya tidak berakhir pada upacara dan nostalgia sejarah. Bagi mahasiswa, momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa menjadi pemuda bukan sekadar soal usia, melainkan keberanian untuk berpikir, belajar, dan mengambil peran.

Jangan biarkan masa kuliah hanya diisi rutinitas datang ke kelas, mengerjakan tugas, lampau pulang. Luangkan waktu untuk membaca, berdiskusi, berganti gagasan, dan membicarakan persoalan di sekitar. Jangan menunggu orang lain menciptakan ruang belajar; mulailah berbareng teman-teman, meski hanya dari golongan kecil.

Para pemuda 1928 meninggalkan warisan berupa keberanian menyatukan pendapat demi masa depan bangsa. Kini, mahasiswa mempunyai tantangan untuk meneruskan semangat itu dengan langkah nan sesuai zamannya: membangun tradisi intelektual, memperluas wawasan, dan mengubah pengetahuan menjadi karya.

Jangan hanya menjadi penonton perubahan, sementara masa depan sedang menunggu sumbangan pikiran kalian. Sebab, bangsa ini tidak hanya memerlukan pemuda nan bangga pada sejarahnya, tetapi juga generasi nan berani berpikir, mau berdialog, dan bersedia bekerja untuk masa depan nan lebih baik. (*)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0