KABAR MADURA | Berawal dari kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, lima anak muda generasi Z (Gen Z) di Pamekasan merintis upaya pengarahan belajar (bimbel) Bee Club pada Desember 2025. Berbekal latar belakang pendidikan, upaya nan mereka bangun secara berdikari itu sekarang berkembang dengan mempunyai sekitar 11 mentor sekaligus membuka kesempatan kerja bagi lulusan baru lainnya.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Salah satu penggagas Bee Club, Ahmad Firdausi Aminullah, mengatakan, buahpikiran mendirikan bimbel muncul lantaran mereka berlima mempunyai latar belakang pendidikan dan sama-sama belum bekerja setelah menyelesaikan kuliah.
“Kami berlima kawan SMA. Waktu itu kami sama-sama tidak punya pekerjaan setelah lulus kuliah, jadi inisiatif untuk buka bimbel, terlebih kami lulusan pendidikan semua,” ujarnya, Senin (19/10/2026).
Pada awal merintis usaha, kelimanya menangani seluruh kebutuhan bimbel secara mandiri. Mulai dari mengurus administrasi, membikin konten, hingga melakukan pemasaran, semuanya dikerjakan berbareng sebelum akhirnya mereka merekrut mentor lain.
Seiring berjalannya waktu, Bee Club mulai berkembang. Saat ini, bimbel tersebut mempunyai sekitar 11 mentor, termasuk enam orang nan baru bergabung. Pertumbuhan itu tidak hanya mendukung operasional usaha, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi lulusan baru lainnya.
Bee Club melayani siswa dari jenjang pendidikan anak usia awal (PAUD), taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP). Materi pembelajaran nan diberikan mencakup beragam mata pelajaran umum.
“Jenjang bimbel di Bee Club ini mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP. Materi nan diberikan mencakup pelajaran umum, seperti Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ,dan mata pelajaran lainnya,” jelasnya kepada Kabar Madura.
Meski terus berkembang, perjalanan upaya tersebut tidak selalu melangkah mulus. Daus mengungkapkan, mereka pernah mengalami periode ketika tidak mendapatkan pengguna baru. Situasi itu menjadi tantangan tersendiri di tengah persaingan dengan upaya pengarahan belajar lainnya.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, mereka memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran. Selain itu, mereka terus berinovasi dalam proses belajar mengajar agar siswa tidak mudah jenuh dan tetap tertarik mengikuti pembelajaran.
“Pembelajaran tidak monoton, memanfaatkan teknologi dan media ajar lainnya juga, lebih-lebih kita gen-Z, jadi sudah semestinya dituntut inovatif,” jelasnya.
Dari sisi pendapatan, Daus mengaku upaya nan mereka rintis bisa memberikan penghasilan nan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jumlah pengguna nan cukup banyak turut menopang pemasukan upaya tersebut.
“ Tercukupi banget jika dari pendapatan. Karena pengguna cukup banyak juga,” katanya.
Selain memberikan jasa pengarahan belajar reguler, Bee Club juga mendampingi siswa nan mempersiapkan diri mengikuti olimpiade. Upaya tersebut mulai membuahkan hasil dengan keberhasilan salah satu siswa meraih juara.
“Selain itu, kami juga ada pendampingan bagi siswa nan mempersiapkan diri mengikuti olimpiade. Alhamdulillah kemarin ada nan juara,” tutupnya. (zul)

2 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·