KABAR MADURA | Di tengah semakin beragamnya pilihan upaya nan dekat dengan kehidupan anak muda, Cahya Herani (21) justru memilih melanjutkan upaya rengginang milik keluarganya.
Mahasiswa asal Pamekasan itu turut mengembangkan upaya nan telah berdiri sejak 1995 tersebut. Meski tetap mempertahankan cita rasa dan karakter unik produk tradisional, Cahya juga menghadirkan sejumlah penemuan agar rengginang tetap menarik bagi konsumen.
Cahya mulai ikut mengelola Rengginang Asabat, produksi Restu Anugerah, sejak 2020. Usaha nan berlokasi di Dusun Candi Selatan, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan itu awalnya hanya diproduksi dalam jumlah terbatas dan dipasarkan di lingkungan sekitar.
Seiring bertambahnya pelanggan, upaya tersebut terus berkembang. Hingga kini, Rengginang Asabat tetap memperkuat dan menjadi salah satu upaya nan dikelola Cahya berbareng keluarganya.
“Hal pertama nan membikin saya memilih upaya ini lantaran kami sudah banyak mempunyai pengguna tetap, sayang jika tidak dilanjut,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Selain itu, kata Cahya, rengginang merupakan makanan tradisional nan sudah dikenal banyak orang. Dia memandang upaya ini mempunyai kesempatan nan cukup besar, lantaran rengginang bisa dikonsumsi oleh beragam kalangan.
Keputusan untuk memperkuat di upaya tradisional tentu bukan tanpa tantangan. Cahya kudu menghadapi persaingan dengan pelaku upaya rengginang lainnya nan cukup banyak di wilayah tersebut. Di sisi lain, statusnya sebagai mahasiswa membuatnya kudu pandai membagi waktu antara aktivitas perkuliahan dan mengelola usaha.
“Tantangan nan paling terasa adalah persaingan dengan produk nan sama. Saya tinggal di wilayah di mana banyak orang nan memproduksi rengginang juga. Tidaknya itu, tantangannya ialah gimana membikin produk tetap menarik bagi konsumen,” jelasnya.
Untuk menghadapi persaingan, Cahya berupaya mempertahankan kualitas produk sekaligus mengikuti perkembangan selera konsumen. Salah satunya dengan memenuhi permintaan terhadap beragam corak rengginang, mulai dari corak koin hingga stik.
Inovasi juga dilakukan melalui jenis rasa dan kemasan. Saat ini, Rengginang Asabat mempunyai tiga pilihan rasa, ialah terasi udang, manis, dan lorjuk. Kehadiran ketiga jenis tersebut memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen.
Khusus jenis lorjuk, pilihan tersebut juga tidak terlepas dari letak tempat produksi nan berada tidak jauh dari area pesisir.
“Ketiga jenis itu muncul dari kemauan saya untuk memberikan pilihan rasa kepada konsumen. Dan juga kebetulan letak produksi dekat dengan pesisir pantai. Respons konsumen cukup baik, lantaran mereka bisa memilih rasa sesuai dengan seleranya. Masing-masing jenis juga mempunyai peminatnya sendiri-sendiri,” ungkap Cahya.
Dalam sehari, produksi Rengginang Asabat mencapai sekitar separuh kuintal. Proses produksi tersebut melibatkan sekitar empat hingga enam tenaga kerja.
Untuk harganya, setiap jenis dibanderol berbeda. Rengginang rasa lorjuk dijual Rp60.000 per 100 pcs, rasa manis Rp55.000 per 100 pcs, sedangkan rasa terasi udang Rp50.000 per 100 pcs.
Dari sisi pemasaran, Cahya sebelumnya memanfaatkan media sosial, salah satunya TikTok Shop, untuk menjangkau konsumen secara lebih luas. Namun, saat ini pemasaran lebih banyak mengandalkan pengguna tetap serta rekomendasi dari orang ke orang. Promosi juga tetap dilakukan melalui WA Story.
Menurut Cahya, pemasaran melalui media sosial sebenarnya cukup membantu dalam mengembangkan usaha. Hanya saja, produk rengginang mempunyai hambatan dalam proses pengiriman lantaran mudah hancur. Kondisi tersebut membikin pemasaran ke luar wilayah belum dapat dilakukan secara maksimal.
Meski menghadapi sejumlah kendala, Cahya tetap optimistis upaya makanan tradisional seperti rengginang tetap mempunyai kesempatan besar untuk berkembang. Menurutnya, pelaku UMKM kudu bisa mengikuti perkembangan era tanpa menghilangkan identitas dari produk nan dijalankan.
“Menurut saya, upaya makanan tradisional tetap mempunyai kesempatan nan cukup besar lantaran makanan tradisional mempunyai rasa nan betul-betul khas. nan krusial adalah gimana kita mengikuti perkembangan era tanpa menghilangkan identitas produk,” tuturnya.
Ke depan, Cahya berharap, Rengginang Asabat dapat menjangkau pasar nan lebih luas. Dia juga mau meningkatkan kualitas bungkusan dan pemasaran agar produknya semakin dikenal hingga luar daerah.
Tidak hanya itu, Cahya tengah berupaya mengembangkan jenis baru Rengginang Asabat sebagai bagian dari penemuan untuk menjaga produk tradisional tersebut tetap diminati di tengah perkembangan tren upaya dan perubahan selera konsumen. (ina/zul)

49 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·