KABAR MADURA | Berawal dari kegemaran merangkai bunga, Himatun Nisa, penduduk Desa Bangkal, Kecamatan Kota Sumenep, sukses mengubah hobinya menjadi kesempatan upaya nan menjanjikan.
Perempuan nan berkawan disapa Hima itu sekarang mengembangkan Nisa Flowers, upaya buket nan menyediakan beragam pilihan untuk beragam momen spesial. Mulai dari buket kembang segar, kembang artificial, hingga buket snack.
Ide tersebut muncul ketika Hima tetap menempuh pendidikan di Malang. Saat itu, memberikan buket kembang untuk orang terdekat sudah menjadi perihal nan lumrah. Kondisi tersebut membikin Hima memandang adanya kesempatan nan bisa dikembangkan ketika kembali ke Sumenep.
“Di Malang kan sudah biasa memberikan buket. Sedangkan di Sumenep waktu itu tetap jarang. Dari situ saya berpikir untuk membikin upaya dari kembang segar,” kata Hima.
Dari situlah Nisa Flowers mulai dikembangkan. Tidak hanya menawarkan kembang segar, Hima juga menghadirkan beragam kreasi buket nan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Untuk kembang segar, nilai nan ditawarkan cukup terjangkau, ialah mulai Rp5 ribu. Sementara beragam jenis buket lainnya dibanderol mulai Rp50 ribu.
Dengan pilihan tersebut, pengguna dapat memesan buket untuk beragam kebutuhan, seperti bingkisan ulang tahun, wisuda, anniversary, hingga kejutan untuk orang-orang tersayang.
“Untuk kembang segar dijual mulai Rp5 ribu, sedangkan buket lainnya mulai Rp50 ribu,” ujar wanita berumur 33 tahun tersebut.
Menariknya, jangkauan pemasaran Nisa Flowers tidak hanya mengandalkan pengguna nan datang langsung. Hima aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan beragam produk buketnya.
WhatsApp, Instagram, hingga TikTok dimanfaatkan sebagai etalase digital untuk menampilkan hasil kreasi dan memudahkan pengguna melakukan pemesanan.
Strategi tersebut membikin pengguna Nisa Flowers datang dari beragam wilayah. Bahkan, pesanan tidak hanya berasal dari area perkotaan Sumenep, tetapi juga dari pelosok, kepulauan, hingga luar daerah.
“Pelanggan saya itu tidak hanya dari area perkotaan. nan pesan ada juga dari pelosok Sumenep, kepulauan, apalagi luar wilayah untuk diberikan kepada kawan alias kerabat nan berada di Sumenep,” tuturnya.
Dalam proses produksi, Hima tetap terlibat langsung. Ia turun tangan merangkai kembang dan memastikan setiap pesanan dibuat sesuai kemauan pelanggan.
Saat musim wisuda tiba, jumlah pesanan biasanya meningkat. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, Hima dibantu tenaga kerja agar seluruh pesanan dapat diselesaikan tepat waktu. Sementara kebutuhan foto dan video untuk konten media sosial dibantu editor.
Bagi Hima, upaya tersebut bukan sekadar aktivitas mencari keuntungan. Merangkai kembang merupakan pekerjaan nan juga memberikan kepuasan lantaran berangkat dari sesuatu nan memang disukainya.
“Saya sangat menikmati upaya ini. Karena memang sudah jadi kegemaran merangkai bunga. Saat rangkai bunga, suasana hati saya jadi nyaman,” ungkapnya.
Meski demikian, upaya kembang segar mempunyai tantangan tersendiri. Produk kembang mempunyai masa kesegaran nan terbatas. Karena itu, pengelolaan stok dan kecepatan pemasaran menjadi perihal krusial agar kembang tidak terbuang dan menimbulkan kerugian.
Namun, akibat tersebut tidak membikin Hima berhenti. Kecintaannya terhadap kembang justru menjadi modal untuk terus mengembangkan Nisa Flowers dan menghadirkan lebih banyak pilihan buket bagi masyarakat.
“Apapun risikonya tetap saya jalankan. Karena memang sudah suka dengan kembang segar,” pungkasnya. (ara/waw)

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·