SAMPANG, koranmadura.com – Ratusan personel campuran di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, mulai disiagakan untuk mengantisipasi potensi musibah akibat cuaca ekstrem hidrometeorologi 2026.
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi 2026 di Mapolres Sampang. Personel nan dilibatkan berasal dari TNI, Brimob, Polres Sampang, Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub), Pemadam Kebakaran (Damkar), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Tagana, Senkom, Orari, hingga petugas PLN.
Kegiatan tersebut juga dihadiri jejeran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sampang, sejumlah kepala organisasi perangkat wilayah (OPD) Pemkab Sampang, Ketua Senkom, Ketua Orari, serta Kepala ULP PLN Kabupaten Sampang.
Bertindak sebagai ketua apel, Wakapolres Sampang Kompol Hery Kusnanto membacakan petunjuk Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Dekananto Eko Purwono. Dalam petunjuk tersebut disampaikan bahwa Jawa Timur mempunyai potensi kerawanan musibah alam nan cukup tinggi.
Berdasarkan info sepanjang tahun 2026, tercatat 672 kejadian musibah alam di beragam wilayah Jawa Timur. Peristiwa tersebut mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, 55 orang luka-luka, serta kerugian material nan mencapai Rp7,5 miliar.
Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026–2027 datang lebih lambat dari agenda biasanya. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi potensi cuaca ekstrem di beragam wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, khususnya Kabupaten Sampang.
“Maka dari itu, negara kudu datang untuk memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat. Kita sebagai representasi negara kudu bisa menanggulangi dan meminimalkan akibat bencana. Kita semua tidak mau ada nan menjadi korban. Kita kudu bekerja sama, bersinergi, dan bekerja-sama demi tugas kemanusiaan ini,” ujar Kompol Hery Kusnanto saat membacakan petunjuk tertulis Kapolda Jatim.
Melalui petunjuk tersebut, Kapolda Jatim juga menyampaikan tiga petunjuk kepada seluruh jajaran. Pertama, melakukan pemetaan wilayah rawan musibah secara intensif berbareng para pemangku kepentingan terkait.
Kedua, memperkuat koordinasi dan jalur komunikasi antarinstansi dengan membentuk posko kesiapsiagaan agar setiap laporan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara sigap dan tepat.
Ketiga, memastikan seluruh personel dalam kondisi prima serta dilengkapi perangkat pelindung diri (APD) nan memadai. Hal itu krusial lantaran keselamatan petugas sama pentingnya dengan keselamatan masyarakat nan dilindungi.
“Tanggung jawab kemanusiaan ini adalah tugas mulia nan penuh kehormatan. Lakukan tugas ini dengan tulus ikhlas, dan mari niatkan sebagai ladang ibadah untuk menolong sesama,” ujarnya.
Wakapolres Sampang mengatakan, apel tersebut bermaksud meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta memastikan kesiapan personel dan peralatan di lapangan.
Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi beragam potensi musibah hidrometeorologi di Kabupaten Sampang, seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan kekeringan. Pemerintah berbareng abdi negara keamanan menargetkan terwujudnya ketahanan masyarakat (community resilience) serta tidak adanya korban jiwa (zero victim).
“Maka dari itu, kami turut mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sampang agar selalu waspada. Jika sewaktu-waktu terjadi musibah alam alias situasi darurat di lingkungan sekitar, penduduk diminta untuk segera menghubungi jasa call center Kepolisian di nomor 110 nan dapat diakses bebas pulsa dan aktif selama 24 jam penuh,” pintanya.
Usai apel, aktivitas dilanjutkan dengan pemeriksaan sarana dan prasarana penanganan musibah hidrometeorologi. Wakapolres Sampang berbareng jejeran Forkopimda memeriksa kepantasan sejumlah peralatan, mulai dari perlengkapan tali-temali, gergaji mesin, perahu karet, kendaraan operasional TNI-Polri dan Pemkab Sampang, hingga armada dapur umum keliling. (MUHLIS/DIK)

1 hari yang lalu
8








English (US) ·
Indonesian (ID) ·