KABAR MADURA | Angka anak tidak sekolah (ATS) di Bangkalan mencapai sekitar 27 ribu anak. Tingginya jumlah itu menjadi persoalan tersendiri nan dipicu oleh sejumlah faktor, terutama kondisi ekonomi dan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Dispendik) Bangkalan, Muhaimin, mengatakan, persoalan ATS tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi family serta pemahaman masyarakat mengenai pentingnya melanjutkan pendidikan.
“Alasan pertama, merasa pendidikan nan diperolehnya sudah cukup dengan tamat SD alias tamat SMP. Kemudian ada argumen ekonomi,” ujarnya, Senin (31/8/2026).
Muhaimin menjelaskan, tingkat kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan mempunyai pengaruh besar terhadap keberadaan ATS. Ketika orang tua mempunyai pemahaman nan baik mengenai pentingnya pendidikan, kesempatan anak untuk tetap memperkuat dalam sistem pendidikan bakal semakin besar.
Sebaliknya, keterbatasan ekonomi nan dibarengi dengan rendahnya kesadaran terhadap pendidikan dapat menciptakan siklus persoalan baru.
Kata Muhaimin, anak-anak nan tidak melanjutkan pendidikan berpotensi masuk ke bumi kerja informal alias pekerjaan dengan keahlian terbatas. Kondisi itu pada akhirnya dapat memengaruhi tingkat kesejahteraan family dan berpotensi melahirkan persoalan kemiskinan pada generasi berikutnya.
Dengan jumlah ATS nan mencapai sekitar 27 ribu anak, Muhaimin mengakui penanganan persoalan itu tidak bakal mudah dan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.
Dia apalagi menyebut, pengalaman di beragam kabupaten dan kota menunjukkan jumlah anak nan sukses dikembalikan ke sistem pendidikan dalam satu tahun umumnya hanya mencapai ratusan hingga tidak lebih dari seribu anak.
Sebab itu, penanganan ATS tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Dibutuhkan komitmen nan kuat, kerjasama lintas sektor, serta langkah nyata nan dilakukan secara konsisten.
“Perlu kerja keras, perlu kerjasama nan kuat, komitmen. Komitmen bersama, kerjasama berbareng dan tindakan bersama,” tegasnya.
Sementara itu, berasas info nan diterima Kabar Madura, persebaran ATS di Bangkalan rata-rata berada di wilayah nan masuk dalam lokus intervensi kemiskinan ekstrem.
Kecamatan Galis menjadi wilayah dengan jumlah ATS tertinggi, ialah mencapai 3.392 anak. Disusul Kecamatan Kokop sebanyak 2.986 anak, Konang 2.364 anak, Geger 2.241 anak, dan Tanah Merah sebanyak 2.022 anak.
Selanjutnya, Kecamatan Blega tercatat mempunyai 1.520 ATS, Modung 1.463 anak, Klampis 1.431 anak, Tanjung Bumi 1.421 anak, Kwanyar 1.264 anak, dan Kecamatan Bangkalan sebanyak 1.184 anak.
“Kecamatan Burneh 1150, Sepulu 1110, Socah 1095, Arosbaya 921, Tragah 917, Labang 676, dan ATS terendah berada di Kecamatan Kamal 550,” pungkasnya. (fik/zul)

7 jam yang lalu
6








English (US) ·
Indonesian (ID) ·