Anak Korban KM Virgo Ikhlas: Setidaknya Kami Masih Punya Tempat untuk Ziarah

43 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Jenazah Sutila (42), korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8, akhirnya tiba di rumah duka di Desa Jelbudan, Kecamatan Dasuk, Sumenep, Rabu 30 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Setibanya di rumah, jenazah langsung disalatkan dan dimakamkan oleh pihak keluarga.

Jenazah Sutila sebelumnya dipulangkan melalui jalur udara menggunakan pesawat, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan ambulans hingga sampai ke rumah duka.

Nia Indriyani, anak korban, mengaku pertama kali mendapat berita mengenai musibah KM Virgo Transport 8 pada Minggu 13 September 2026 sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelumnya, family tetap sempat melakukan video call dengan Sutila pada Sabtu pagi sebelum kapal berangkat.

Namun, setelah itu komunikasi mulai terputus. Keluarga sempat mencoba menghubungi korban pada Sabtu malam hingga Minggu pagi, tetapi telepon selulernya sudah tidak dapat dihubungi.

Keluarga kemudian mengikuti proses pencarian korban hingga akhirnya pada Selasa 29 September 2026 mendapat berita bahwa Sutila telah ditemukan. Saat itu, jenazah tetap menjalani proses identifikasi.

Kabar kepastian identitas korban baru diterima family pada Selasa malam setelah Magrib. Hasil identifikasi memastikan bahwa jenazah tersebut merupakan Sutila dan dinyatakan dalam kondisi meninggal dunia.

Nia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Basarnas, tim SAR, para penyelam, serta Kapolda Kalimantan Selatan nan telah membantu proses pencarian korban.

“Harapan saya sebelumnya mau ibu ditemukan dalam keadaan sehat, tetapi takdir berbicara lain. Saya tetap berterima kasih dan alhamdulillah ibu tetap ditemukan. Setidaknya saya tetap punya tempat untuk ziarah,” ujar Nia, Jumat (2/10/2026).

Bagi Nia, Sutila bukan hanya seorang ibu, tetapi juga sosok nan selama ini menjadi teladan dalam keluarga. Ia dikenal sebagai seorang anak, istri, ibu sekaligus nenek nan selalu dibanggakan.

Dari sosok Sutila, family mengaku banyak belajar tentang tanggung jawab. Ia juga dikenal selalu mengingatkan keluarganya untuk menunaikan salat serta berupaya memenuhi kemauan anak dan keluarganya.

Di lingkungan sekitar, Sutila juga dikenal sebagai pribadi nan baik dan senang membantu orang nan membutuhkan. Namun, kenangan nan paling membekas bagi family adalah kasih sayangnya kepada cucu-cucunya. Bahkan sebelum keberangkatannya, Sutila sempat menitipkan pesan agar cucunya dijaga dan sebisa mungkin dituruti keinginannya agar tidak menangis.

“Yang paling jadi beban buat kami sekeluarga adalah kudu berpisah dengan cucu kesayangannya,” tutur Nia.

Kini, setelah jenazah Sutila ditemukan dan dimakamkan, Nia mengaku telah menerima takdir tersebut dengan ikhlas.

“Kami ridha, kami ikhlas. Semoga ibu saya meninggal dalam keadaan syahid, membawa ketaatan dan Islam, diampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan di surga-Nya Allah. Kami sekeluarga semoga diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan menghadapi ujian seperti ini,” pungkasnya. (km97/ong)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0