Anak Bukan Konten! Ketika Momen Si Kecil Dijadikan Tontonan di Media Sosial

38 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Anak mini nan sedang tertawa, menangis, berbincang polos, mendapatkan hadiah, hingga melakukan tingkah kocak kerap menjadi konten nan menarik perhatian di media sosial. Bagi orang tua, membagikan momen tersebut mungkin terasa sebagai langkah sederhana untuk mengabadikan kenangan. Sementara bagi pengikutnya, unggahan itu bisa menjadi tontonan nan menghibur dan menggemaskan.

Namun, di kembali foto alias video nan tampak sederhana tersebut, ada sosok nan mungkin belum memahami bahwa dirinya sedang dilihat oleh banyak orang. Sosok itu adalah anak nan menjadi bagian utama dari konten.

Media sosial memang membikin siapa pun dapat membagikan kehidupan pribadi dengan mudah. Cukup mengambil gambar, menuliskan keterangan, lampau mengunggahnya. Dalam hitungan detik, momen nan semula hanya terjadi di dalam rumah dapat berubah menjadi konsumsi publik.

Persoalannya, tidak semua momen anak layak dibagikan kepada khalayak luas. Kebiasaan orang tua membagikan kehidupan anak di media sosial dikenal dengan istilah sharenting, nan berasal dari campuran kata sharing dan parenting.

Fenomena tersebut sebenarnya tidak selalu negatif. Orang tua dapat memanfaatkan media sosial untuk berbagi kebahagiaan, menyimpan kenangan, membangun komunitas, alias berbagi pengalaman dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Masalah muncul ketika pemisah antara berbagi dan mengekspos mulai susah dibedakan. Anak nan sedang menangis, marah, melakukan kesalahan, mengalami masalah kesehatan, alias berada dalam kondisi nan semestinya menjadi ruang privat family terkadang justru dijadikan bahan unggahan.

Ketika video tersebut mendapatkan banyak penonton, komentar, apalagi dibagikan ulang, orang tua mungkin merasa konten nan dibuatnya berhasil. Padahal, ada satu perihal krusial nan kerap terlupakan: anak belum tentu memahami akibat dari apa nan dibagikan tentang dirinya.

Seorang anak mungkin merasa senang ketika fotonya mendapatkan banyak tanda suka hari ini. Namun, ketika tumbuh dewasa, foto alias video tersebut tetap mungkin ditemukan di internet. Sesuatu nan dulu dianggap kocak oleh orang tua bisa saja berubah menjadi perihal nan membikin anak merasa malu ketika dilihat teman-temannya.

Jejak digital juga tidak selalu mudah dihapus. Sekali sebuah konten tersebar, pemilik akun memang dapat menghapus unggahan aslinya. Namun, tidak ada agunan foto alias video tersebut betul-betul hilang. Orang lain mungkin sudah menyimpan, mengunduh, alias membagikannya kembali.

Karena itu, orang tua perlu memandang media sosial bukan hanya dari perspektif pandang mereka sendiri, tetapi juga dari posisi anak. Sebelum menekan tombol unggah, ada sejumlah pertanyaan sederhana nan layak dipikirkan.

Apakah anak bakal tetap merasa nyaman jika foto tersebut dilihat orang lain beberapa tahun kemudian? Apakah info nan dibagikan terlalu pribadi? Apakah lokasi, sekolah, kebiasaan, alias aktivitas anak dapat diketahui orang asing?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut krusial lantaran tidak semua momen masa mini kudu menjadi konsumsi publik. Ada kenangan nan justru lebih berbobot ketika disimpan untuk family sendiri.

Foto pertama kali anak berjalan, percakapan polos sebelum tidur, alias tingkah kocak di rumah tetap bisa diabadikan tanpa kudu selalu dibagikan kepada ribuan orang.

Jika orang tua mau membagikan momen anak, langkah nan lebih kondusif juga dapat dipilih. Identitas tertentu bisa dibatasi, info pribadi tidak perlu dicantumkan, sementara konten nan berpotensi mempermalukan anak sebaiknya disimpan sebagai kenangan pribadi.

Menjadi orang tua di era digital bukan hanya tentang mendampingi anak tumbuh di bumi nyata. Orang tua juga mempunyai tanggung jawab untuk membantu menjaga kehidupan digital anak.

Sebab, anak bukan sekadar objek nan bisa dijadikan konten untuk mendapatkan perhatian. Mereka adalah perseorangan nan suatu hari bakal tumbuh dewasa dan mempunyai kewenangan untuk menentukan cerita tentang dirinya sendiri. (ina)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0