Aksi Bergizi Dinkes Pamekasan Dorong Santri Cegah Anemia Sejak Dini

54 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan terus memperluas edukasi kesehatan bagi kalangan santri melalui program Aksi Bergizi. Program tersebut salah satunya mendorong remaja putri membiasakan konsumsi tablet tambah darah sebagai langkah pencegahan anemia sejak dini.

Aksi Bergizi bertema “Wujudkan Pesantren nan Sehat, Santri nan Kuat, dan Generasi Pamekasan nan Unggul” salah satunya dilaksanakan di Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, Jumat (2/10/2026).

Sekitar 80 santri mengikuti aktivitas tersebut. Tidak hanya remaja putri, santri putra turut dilibatkan dalam rangkaian aktivitas nan dimulai dengan senam berbareng dan dilanjutkan edukasi mengenai kesehatan serta gizi seimbang.

Koordinator Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinkes Pamekasan Rizki Syamlan mengatakan, salah satu tujuan program tersebut adalah membangun kebiasaan remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin.

“Tujuan aktivitas ini sebetulnya gimana remaja putri itu rutin meminum tablet tambah darah untuk menghindari kejadian anemia alias kurang darah,” ujarnya.

Menurut Rizki, tablet tambah darah tidak hanya dikonsumsi ketika seseorang mengalami anemia, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan.

“Minum tablet tambah darah itu tidak hanya bagi wanita nan kurang darah. Jadi wanita seusia ini pada saat sehat malah bagus untuk mencegah jangan sampai terjadi anemia,” jelasnya.

Dinkes berambisi kebiasaan tersebut dapat dilanjutkan secara rutin di lingkungan pesantren. Khusus di IBS PKMKK, konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri diharapkan dilakukan setiap pekan.

Program Aksi Bergizi juga diperluas melalui puskesmas di Pamekasan. Setiap puskesmas diarahkan melaksanakan aktivitas serupa dengan sasaran minimal satu sekolah dan satu pondok pesantren di wilayah kerjanya.

Kepala Dinkes Pamekasan dr. Saifudin mengatakan Aksi Bergizi menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif dalam membangun pola hidup bersih dan sehat. Perhatian terhadap kesehatan remaja putri juga menjadi investasi kesehatan jangka panjang lantaran mereka kelak bakal memasuki usia pernikahan dan kehamilan.

“Kalau remajanya sehat, kelak ibu-ibu calon pengantin sehat, bakal mengandung menjadi ibu mengandung nan sehat, kemudian melahirkan anak-anak nan sehat, bebas stunting,” katanya.

Pelaksanaan Aksi Bergizi dari Dinkes dilakukan satu kali pada setiap lokasi. Selanjutnya, kebiasaan dan edukasi nan telah diberikan diharapkan dapat diteruskan secara berdikari oleh sekolah maupun pondok pesantren.

“Jadi tiap lokus itu hanya satu kali. Nanti dilanjutkan sendiri oleh sekolahnya masing-masing alias pondoknya masing-masing,” jelas Saifudin.

Program tersebut mendapat apresiasi dari Pengelola IBS PKMKK Prof. Dr. Achmad Muhlis. Menurutnya, edukasi kesehatan memberikan faedah bagi santri sekaligus dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat kerjasama antara pesantren dan pemerintah.

“Pihak Dinas Kesehatan itu perlu menindaklanjuti dengan MOU, apalagi MOA, agar pembinaan ini berlanjut,” ujar Achmad.

Dia berambisi kerja sama tersebut dapat dikembangkan tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental santri. Dengan kerjasama nan berkelanjutan, pesantren diharapkan semakin bisa menciptakan lingkungan nan mendukung tumbuh kembang dan kesehatan para santri. (ina/waw)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0