KABAR MADURA | Rumah Literasi Digital (RLD) mendorong pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan. Melalui training branding, produksi konten, dan pemasaran digital, pelaku upaya dibekali keahlian praktis untuk mempromosikan produk menggunakan perangkat nan mereka miliki sehari-hari.
Pelatihan nan berjalan di HANAKA Social Space, Jalan Flores Nomor 18, Surabaya, Minggu (25/10/2026), didukung Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) dan diikuti peserta dari organisasi Markas UMKM (MU).
Kegiatan ini menghadirkan empat praktisi dengan skill berbeda, ialah Fatchur Rahman, pengelola ratusan situs media daring, Ali Masduki, wartawan foto dari Pewarta Foto Indonesia (PFI), Andika Ismawan, praktisi Search Engine Optimization (SEO) sekaligus redaktur senior, serta Deni Panthom, pembuat konten video.
Materi training mencakup penguatan identitas merek, teknik penyajian visual produk, pembuatan video promosi, hingga optimasi mesin pencari. Beragam keahlian tersebut diharapkan membantu pelaku UMKM membangun gambaran upaya nan lebih kuat sekaligus meningkatkan kesempatan produknya ditemukan calon konsumen.
Bagi upaya skala kecil, pemasaran digital dapat dimulai tanpa kudu mengandalkan perangkat alias anggaran promosi nan besar. Telepon genggam, misalnya, bisa digunakan untuk mengambil foto produk, membikin video singkat, menyusun materi penawaran, dan menyebarkannya melalui media sosial maupun aplikasi percakapan.
Status WA dan grup percakapan juga dapat menjadi saluran pemasaran untuk menjangkau calon pembeli dari lingkungan terdekat. Namun, agar promosi lebih efektif, pelaku upaya perlu menyajikan info produk secara jelas, menampilkan visual nan menarik, serta merespons pertanyaan konsumen dengan baik.
Salah satu peserta, Kristin Wijayanti, pelaku upaya asal Girilaya, Surabaya, mengaku termotivasi mengikuti training lantaran mendapat kesempatan mempelajari beragam strategi pemasaran.
“Ya, termotivasi. Semakin banyak trik penjualan, semakin memudahkan untuk mendapatkan penghasilan. Otomatis dong,” ujarnya sembari berseloroh.
Menurut Kristin, tambahan pengetahuan pemasaran dapat menjadi bekal untuk mencoba pendekatan baru dalam menawarkan produk. Dengan memahami beragam pilihan kanal promosi, pelaku upaya mempunyai kesempatan untuk menjangkau konsumen nan lebih luas.
Pengalaman serupa disampaikan Firman, pelaku upaya asal Kampung Margi, Pabean, Surabaya. Ia menilai keahlian pemasaran digital relevan dengan kebutuhan UMKM, terutama lantaran promosi dapat dilakukan langsung melalui telepon genggam.
“Tentu ini sangat dibutuhkan bagi kami, khususnya pelaku usaha. Dengan bekal ini, kita bisa melakukan promosi langsung dari HP, membikin status, alias membagikan info ke grup WA masing-masing,” tuturnya.
Bagi Firman, penggunaan aplikasi percakapan merupakan langkah praktis untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli. Pelaku upaya dapat memanfaatkan jaringan nan sudah dimiliki tanpa kudu memulai pemasaran dari nol.
Meski begitu, aktivitas promosi perlu diikuti strategi nan tepat agar tidak berakhir sebatas penyebaran informasi. Kejelasan harga, kualitas foto dan video, konsistensi unggahan, serta kecepatan merespons calon pembeli menjadi aspek nan dapat memengaruhi keputusan konsumen.
Kemampuan mengevaluasi hasil promosi juga krusial agar pelaku upaya mengetahui jenis konten dan saluran pemasaran nan paling efektif mendatangkan pesanan.
Melalui program literasi digital, RLD berupaya mendorong UMKM tidak sekadar mengenal teknologi, tetapi juga menerapkannya dalam aktivitas upaya sehari-hari.
Penguasaan branding, produksi konten, dan pemasaran digital diharapkan membantu pelaku upaya memperkuat identitas produk, memperluas jangkauan pasar, serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan ekonomi digital.
Direktur Rumah Literasi Digital (RLD) Andika Ismawan mengatakan, penguatan keahlian digital menjadi salah satu kebutuhan krusial bagi UMKM agar bisa bersaing dan mengikuti perubahan perilaku konsumen.
“Pelaku UMKM tidak kudu memulai pemasaran digital dengan teknologi nan rumit alias biaya besar. Mereka bisa memanfaatkan perangkat nan sudah dimiliki, seperti telepon genggam, untuk membikin konten, membangun branding, dan memperkenalkan produk kepada calon konsumen. nan penting, keahlian tersebut dipraktikkan secara konsisten agar memberikan akibat bagi usaha,” ujarnya.
Menurut Andika, literasi digital perlu diarahkan pada keahlian praktis nan dapat langsung diterapkan dalam aktivitas bisnis.
Dengan memahami langkah membikin konten nan menarik, mengoptimalkan visibilitas produk, dan memanfaatkan beragam kanal digital, pelaku UMKM diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran sekaligus membuka kesempatan penjualan baru.

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·