KABAR MADURA | Tradisi Tembhang Macapat nan dulu menjadi bagian dari beragam aktivitas syukuran dan acara masyarakat Madura sekarang semakin jarang dijumpai. Perubahan kebiasaan masyarakat dan berkembangnya intermezo modern membikin kesenian warisan leluhur tersebut perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan sosial.
Padahal, Tembhang Macapat bukan sekadar nyanyian tradisional, melainkan juga karya sastra nan mengandung cerita, nasihat, doa, serta nilai-nilai kehidupan nan diwariskan secara turun-temurun.
Tokoh masyarakat sekaligus panyekar dan pamaos Tembhang Macapat, Madrikah, mengungkapkan bahwa perubahan era turut memengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut, termasuk di lingkungan pedesaan nan sebelumnya menjadi salah satu tempat pelestariannya.
Menurutnya, masyarakat sekarang semakin jarang menghadirkan pembacaan macapat dalam beragam aktivitas budaya maupun syukuran keluarga.
“Sekarang semakin berubah era semakin jarang nan melestarikan tembhang macapat,” ungkapnya, Rabu (21/10/2026).
Madrikah menjelaskan, pada masa lampau Tembhang Macapat kerap dilantunkan dalam beragam aktivitas tradisional, mulai dari seremoni kelahiran hingga syukuran kehamilan.
Pembacaannya juga disesuaikan dengan momentum tertentu berasas penanggalan nan dikenal dalam tradisi masyarakat Madura.
Dalam pelaksanaannya, tembang nan dibawakan biasanya memuat kisah-kisah para nabi serta pesan kehidupan nan mengandung nilai keagamaan dan kebudayaan.
“Dalam tradisi masa lalu, penyelenggaraan syukuran sering kali diisi dengan pembacaan cerita alias riwayat para nabi, seperti cerita Nabi Khidir, Nabi Yusuf, nan dibawakan dalam corak tembang macapat,” tambahnya.
Selain pembacaan tembang, rangkaian syukuran tradisional juga kerap dilengkapi beragam perlengkapan adat, seperti hasil bumi berupa pisang setandan hingga prosesi memandikan anak menggunakan air bunga.
Menurut Madrikah, seluruh rangkaian tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat nan diwariskan oleh generasi terdahulu.
Namun, seiring perkembangan zaman, kebiasaan tersebut mulai mengalami perubahan. Sebagian masyarakat lebih memilih corak aktivitas dan intermezo nan dianggap sesuai dengan perkembangan masa kini.
Dalam sejumlah aktivitas syukuran, pembacaan Tembhang Macapat juga semakin jarang dilakukan lantaran masyarakat lebih memilih aktivitas keagamaan lain, seperti khataman Al-Qur’an.
Perubahan tersebut membikin kesempatan para pelaku seni untuk membawakan macapat dalam aktivitas masyarakat semakin terbatas.
Meski demikian, Madrikah menegaskan bahwa Tembhang Macapat sebenarnya tetap dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan momentum penyelenggaraan acara.
“Meskipun demikian, seni macapat sebenarnya tetap dapat dilantunkan dalam beragam ragam cerita sesuai dengan permintaan tuan rumah dan momentum bulan penyelenggaraannya,” lanjutnya.
Dia menilai, keberadaan Tembhang Macapat perlu terus dijaga lantaran mempunyai kegunaan nan lebih luas daripada sekadar intermezo tradisional.
Selain menjadi media penyampaian cerita dan nasihat, macapat juga digunakan dalam tradisi masyarakat sebagai sarana memanjatkan angan serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi family nan menggelar hajatan.
Karena itu, semakin berkurangnya penggunaan Tembhang Macapat dalam aktivitas masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan kesenian tersebut.
Tanpa adanya ruang untuk terus dipentaskan dan diwariskan kepada generasi berikutnya, Madrikah cemas tradisi nan telah menjadi bagian dari identitas budaya Madura itu bakal semakin susah ditemukan dalam kehidupan masyarakat. (fit/waw)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·