Kondisi antrean BBM di SPBU Banyuanyar, Kabupaten Sampang. (ALI MUCHTAR / KLIKMADURA)
SAMPANG || KLIKMADURA – Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di SPBU 54.629.05 Banyuanyar, Kabupaten Sampang, mengular hingga lebih dari satu kilometer.
Panjangnya antrean diduga turut dipengaruhi aktivitas pedagang bensin satuan nan membeli BBM secara berulang menggunakan sejumlah sepeda motor.
Pantauan di lokasi, satu orang pedagang apalagi membawa tiga hingga empat sepeda motor sekaligus ke SPBU. Motor tersebut digunakan secara bergantian untuk membeli Pertalite sesuai pemisah pembelian nan berlaku.
Setelah tangki kendaraan terisi, bahan bakar kemudian disedot kembali untuk dijadikan stok dan dijual secara eceran. Pola tersebut dilakukan secara berulang.
Dalam sehari, seorang pedagang disebut dapat kembali mengantre di SPBU hingga delapan sampai sepuluh kali. Aktivitas itu terjadi di tengah pembatasan pembelian Pertalite dan tidak diperbolehkannya pembelian BBM menggunakan jeriken.
Kondisi tersebut membikin sejumlah pedagang bensin satuan mencari langkah lain untuk mendapatkan stok dagangan. Salah satunya dengan memanfaatkan beberapa kendaraan untuk melakukan pembelian secara berulang.
Salah seorang pedagang bensin eceran, Rusmina, mengaku kesulitan mendapatkan stok sejak pembelian menggunakan jeriken tidak diperbolehkan. Dia mengaku terpaksa menggunakan langkah tersebut untuk memenuhi kebutuhan usahanya.
“Namanya orang jualan apa saja pasti dilakukan, Mas. Kalau bisa beli pakai jeriken, nggak mungkin saya susah-susah begini,” kata Rusmina.
Praktik pembelian berulang menggunakan sejumlah sepeda motor tersebut juga diketahui oleh petugas SPBU. Salah seorang petugas SPBU berjulukan Rifa menyebut, sebagian besar pembeli nan mengantre merupakan penyetok BBM untuk dijual kembali secara eceran.
“Kebanyakan penyetok untuk dijual kembali,” ujarnya.
Keberadaan pedagang nan melakukan pembelian secara berulang membikin sebagian masyarakat merasa waktu tunggu untuk mendapatkan Pertalite semakin panjang.
Salah seorang pengguna kendaraan, Rozak, menilai kondisi tersebut merugikan masyarakat nan membeli BBM untuk kebutuhan kendaraan pribadi.
“Ini merugikan, Mas, lantaran tidak semua mau memakai Pertamax. Dengan adanya praktik seperti ini bisa menyebabkan antrean tambah parah,” katanya.
Meski demikian, Rozak mengaku tidak sepenuhnya menyalahkan para pedagang bensin eceran. Menurutnya, para pedagang juga mempunyai kebutuhan untuk mendapatkan stok demi mempertahankan upaya mereka.
“Tapi saya tidak bisa menyalahkan penjual saja lantaran mereka jualan. Harusnya ada langkah nan pasti agar semua mendapat maslahat,” tambahnya.
Antrean panjang di SPBU Banyuanyar memperlihatkan persoalan di lapangan nan semakin kompleks. Kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan Pertalite berjumpa dengan kebutuhan pedagang bensin satuan nan juga berupaya memperoleh stok untuk dijual kembali.
Di satu sisi, pembelian menggunakan jeriken tidak diperbolehkan. Namun, di sisi lain, pembelian melalui sejumlah kendaraan secara berulang terus terjadi hingga berpotensi memperpanjang antrean.
Kondisi tersebut membikin masyarakat kudu menunggu lebih lama untuk mendapatkan Pertalite. Sementara pedagang bensin satuan tetap mencari beragam langkah agar stok BBM untuk upaya mereka tetap tersedia. (ali/nda)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·