Pertamina Menyulam Mimpi Warga Kepulauan Terluar Madura

1 jam yang lalu 2

Sejumlah perahu nelayan berada di bibir pantai Dusun Pajenasem, Desa/Pulau Saobi, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

SUMENEP || KLIKMADURA – Langit cerah menyambut pagi di Desa Gilang, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Minggu (23/08/2026). Bendera merah putih berkibar di atas tiang bambu nan terpancang di halam rumah tempat saya tinggal. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB.

Saya bergegas mandi dan bersiap menuju Pelabuhan Kalianget. Pelabuhan tempat Kapal Express Bahari 3C bersandar. Pelabuhan terbesar di Madura nan menghubungkan akses transportasi jalur laut ke pulau-pulau mini di kabupaten nan terletak di ujung timur Pulau Garam.

Sehari sebelumnya, saya memesan tiket kapal sigap menuju Pulau Kangean. Saya dapat agenda berlayar pukul 09.00. Dengan motor Honda Vario 125 keluaran 2019 akhirnya saya melaju ke pelabuhan nan menjadi pintu gerbang laut utama di Kabupaten Sumenep itu.

Saya tiba pukul 08.30 WIB disambut Kapal Express Bahari 3C nan tampak gagah bermandikan sinar pagi. Sembari menunggu keberangkatan, saya menyelesaikan proses administrasi. Saya sengaja memesan tiket VIP seharga Rp 258.000 untuk mendukung kenyamanan berlayar selama kurang lebih 4 jam itu.

Tiba waktunya berlayar, saya berbareng ratusan penumpang nan juga telah menunggu. Kapal ini sangat representatif. Para penumpang VIP disuguhi alunan musik dangdut kegemaran para penumpang.

Riak air dan gelombang laut menemani perjalanan kami. Tidak terasa, waktu tempuh empat jam telah kami lalui. Tepat pukul 13.15 saya tiba di Pelabuhan Batu Guluk, Pulau Kangean. Di sana, seorang sahabat berjulukan Solihin telah menunggu.

Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju Sungai Batu-batu, Desa Gelaman, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Kami menempuh jalur darat menggunakan angkot. Mobil pikap nan dimofikasi menjadi pikulan umum. Tarifnya Rp 30 ribu perpenumpang.

Perjalanan darat itu kami tempuh selama satu jam. Sekitar 10 orang menumpangi angkot. Tapi, lumayan sesak. Sebab, banyak peralatan bawaan nan penumpang bawa. Mulai peralatan dibungkus kardus, keresek hingga ayam jantan.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan laut kembali menggunakan perahu mini dengan tarif 15 ribu untuk penumpang dan Rp 15 ribu untuk motor. Kali ini, perjalan menggunakan perahu kayu kami tempuh selama 1 jam menuju Desa/Pulau Saobi. Pulau nan menjadi tujuan kami.

Pulau ini, secara manajemen masuk wilayah Kecamatan Kangayan. Tapi, daratannya terpisah. Bahkan, dusunnya juga terpisah menjadi tiga pulau. Yakni, Pulau Sapapan, Pulau Bungin Nyarat dan Pualu Saobi itu sendiri.

Satu lagi pulau nan masuk wilayah administrasinya, ialah Pulau Karenteng tetapi tidak berpenghuni. Masyarakatnya rata-rata bekerja sebagai nelayan dan petani. Ada sebagian nan bekerja sebagai kuli gedung dan guru.

Pulau Saobi salah satu pulau terluar nan ada di Kabupaten Sumenep. Saat musim paceklik, warganya beranjak ke Bali untuk mencari penghidupan. Kemudian, kembali ke tanah kelahiran saat tangkapan laut menjanjikan.

Pertamina Penyambung Urat Nadi Kehidupan

Saya tiba di Dusun Pajenasem, Desa/Pulau Saobi sekitar pukul 15.20 WIB. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dari corong-corong pengeras bunyi musala. Perahu nelayan menyambut mengikuti irama ombak.

Solihin nan tetap berumur 34 tahun dengan antusias menejeskan tentang desa tempat dia lahir dan dibesarkan. Solihin mantan aktivis mahasiswa. Dia akhirnya kembali ke Pulau Saobi untuk melanjutkan perjuangan hidup berbareng orang tuanya. Sehari-hari, pemuda dengan kulit sawo matang itu ikut bekerja sebagai nelayan.

Solihin mengatakan, kehidupan masyarakat Pulau Saobi sangat berjuntai pada pasokan daya dari Pertamina. Hampir setiap sendi kehidupan memerlukan daya nan berasal dari bahan bakar minyak (BBM) nan dikirim Pertamina menggunakan kapal.

Ada sekitar 500 penduduk nan bekerja sebagai nelayan. Mesin penggeraknya menggunakan BBM jenis Pertalite dan Solar. Bahkan, kebutuhan penerangan lampu rumah penduduk mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) nan juga memerlukan BBM.

”Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap BBM sangat tinggi, tanpa adanya BBM aktivitas masyarakat bakal lumpuh. Bukan hanya aktivitas nelayan tetapi juga lampu penerangan,” kata Solihin dengan nada barapi-api.

Selama ini, pengiriman BBM dari Pertamina ke Pulau Saobi cukup lancar. Hampir setiap bulan ada pengiriman sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.

”Alhamdulillah pengiriman BBM lancar, masyarakat sangat terbantu dengan kesiapan BBM, terima kasih Pertamina,” kata mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu.

Berkat kesiapan BBM, aktivitas masyarakat dalam mencari nafkah di laut melangkah lancar. Bahkan, ibu-ibu nan beraktivitas di rumah seperti membikin olahan dari ikan juga sangat terbantu sehingga perekonomian masyarakat membaik.

Dari berbagam jenis upaya nan dilakukan masyarakat, akhirnya mereka bisa mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan di beragam perguruan tinggi. Bahkan, tidak jarang anak-anak muda Pulau Saobi nan lulus perguruan tinggi berkarir di beragam perusahaan di Pulau Jawa hingga luar jawa.

”Rata-rata jika anak muda di sini pendidikannya sudah S1 (sarjana). Biaya kuliah dan biaya hidup ditopang dari hasil upaya orang tuanya sebagai nelayan,” kata Solihin.

Dia berharap, pengiriman BBM ke Pulau Saobi terus ditingkatkan. Dengan harapan, upaya nan dijalankan masyarakat bisa terus melangkah dengan baik sehingga perekonomian juga semakin baik.

Di tempat terpisah, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan, pihaknya bertanggung jawab memastikan stok BBM di Madura tetap tersedia hingga akhir tahun.

Menurut dia, dengan kondisi kuota nan mulai terbatas, Pertamina melakukan pengaturan pengedaran ke masing-masing SPBU agar kesiapan BBM tetap terjaga dan pengiriman ke wilayah pulau-pulau mini tetap normal.

“Pertamina bertanggung jawab menjaga stok BBM di Madura tetap tersedia sampai akhir tahun. Dengan kuota nan sudah mulai terbatas, kami mengatur pendistribusian ke SPBU,” kata Ahad.

Dia menjelaskan, penentuan kuota BBM bersubsidi bukan merupakan kewenangan Pertamina. Kuota tersebut ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Karena itu, andaikan kuota BBM bersubsidi di Madura dinilai kurang, pemerintah kabupaten dapat mengusulkan penambahan kuota kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

“Penentuan kuota BBM merupakan kewenangan pemerintah pusat. Kalau kuota BBM bersubsidi di Madura dirasa kurang, pemerintah kabupaten bisa mengusulkan penambahan kuota kepada BPH Migas,” ujarnya.

Pengajuan penambahan kuota tersebut nantinya bakal dibahas oleh BPH Migas berbareng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta DPR RI. Jika pengajuan tersebut disetujui, penambahan kuota bakal direalisasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P).

“Kalau disetujui, penambahan kuota tersebut bakal direalisasikan pada APBN Perubahan,” jelas Ahad.

Untuk sementara, sebelum ada penambahan kuota dari pemerintah pusat, Pertamina bakal melakukan penataan distribusi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan stok Pertalite maupun BBM bersubsidi lainnya tetap tersedia dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun.

“Selama belum ada penambahan kuota, Pertamina bakal menjaga stok agar tetap tersedia hingga akhir tahun dengan menata distribusi,” pungkasnya. (nda)

Selengkapnya