
Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura
Rasa garam memang asin. Tapi nasib petaninya, dari tahun ke tahun, sering kali terasa pahit.
Apalagi jika sudah masuk musim panen raya, lampau tiba-tiba ada kapal besar bersandar membawa ribuan ton garam impor. Alasannya selalu klasik dan diulang-ulang tiap tukar menteri: kualitas garam lokal kita belum masuk standar industri. Kadar airnya tetap tinggi. Kandungan NaCl-nya meleset di bawah 97 persen. Warnanya kurang kinclong. Dan sejuta argumen lainnya.
Ketika membaca buletin PT Garam menandatangani kerja sama dengan PT Reka Cipta Garam, rasanya dada ini seperti dihembus angin segar. Target nan tertulis di buletin itu gagah betul: memperkuat industri garam dari hulu sampai ke hilir.
Sebagai negara nan punya garis pantai terpanjang kedua di dunia, kerjasama BUMN dengan konsorsium riset semacam ini tentu wajib kita beri tepuk tangan. Teorinya memang kudu begitu.
Namun, sebagai masyarakat nan sudah sering menelan kekecewaan, kita berkuasa sedikit skeptis. Kita ini bangsa nan terlalu kegemaran merayakan seremonial MoU. Tanda tangan di atas map bersampul kulit. Tukar-tukaran plakat. Foto berbareng dengan senyum paling lebar. Besoknya, arsip kerja sama itu masuk laci. Terlupakan.
Kritik terbesar untuk kerja sama antara korporasi pelat merah dan bumi riset biasanya ada di titik singgung antara teori laboratorium dan realita ladang garam nan berlumpur.
Dunia akademis terbiasa dengan variabel nan presisi. Sementara petani garam bekerja dengan insting, otot, dan angan agar awan hitam tidak tiba-tiba datang. Jika penemuan nan dibawa Reka Cipta itu harganya mahal alias operasionalnya terlalu rumit, saya jamin proyek ini hanya bakal berujung jadi etalase percontohan.
Petani kita itu sangat pragmatis. Kalau teknologi baru terbukti bikin untung dan kerjanya masuk akal, tanpa disuruh pun mereka bakal antre meniru. Tapi jika ribet dan bikin ongkos produksi bengkak, jangan minta mereka mau pakai.
Solusinya kudu membumi. Para peneliti tidak boleh hanya mengotak-atik rumus di ruang ber-AC. Mereka kudu turun ke ladang garam. Kakinya kudu ikut belepotan lumpur dan merasakan panas. Ciptakan teknologi filterisasi alias kristalisasi nan paling murah, awet, dan tahan banting.
PT Garam juga kudu bertindak sebagai bapak angkat nan nyata, bukan sekadar tengkulak berdasi. Solusi di sektor hilir adalah kepastian harga. Jika petani sudah sukses meningkatkan kualitas garamnya menjadi standar industri berkah sentuhan teknologi, PT Garam wajib membelinya dengan nilai premium.
Jangan sampai petani sudah berdarah-darah memperbaiki mutu, tapi saat ditimbang di gudang, harganya tetap dipukul rata dengan garam krosok kualitas bawah. Itu sama saja membunuh penemuan sebelum berkembang.
Selain itu, kata ‘hilirisasi’ jangan hanya dipakai untuk gagah-gagahan. Hilirisasi sejati bukan sekadar memindahkan garam dari karung goni kotor ke dalam plastik bungkusan nan cantik. Hilirisasi adalah membangun pabrik nan bisa mengolah garam rakyat menjadi garam farmasi. Menjadi bahan baku industri alkali. Menjadi cairan infus. Di situlah nilai tambah bakal melompat acapkali lipat.
Kerja sama ini adalah sebuah janji luhur di atas kertas. Kita tunggu saja apakah teknologi itu betul-betul menderu di sentra-sentra petani kita, alias sekadar jadi laporan tahunan nan bagus dibaca majelis komisaris.
Rasa garam memang sudah ditakdirkan asin. Tapi dengan sentuhan teknologi dan keberpihakan nan nyata, masa depan petani garam kita bakal bisa terasa sedikit lebih manis. (*)

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·