Penulis Asal Sumenep Muhammad Nafis Launching Buku Membaca Ulang Keluarga Maslahah

1 jam yang lalu 1

Buku karya Moh. Nafis, original putra Sumenep

Penulis Asal Sumenep Muhammad Nafis Launching Buku Membaca Ulang Keluarga Maslahah

LIMADETIK.COM, MALANG – Penulis asal Sumenep, Muhammad Nafis, S.H., M.H., menghadirkan kitab terbarunya berjudul Membaca Ulang Keluarga Maslahah. Buku ini membujuk pembaca memandang kembali makna family maslahah di tengah perubahan kehidupan family nan semakin kompleks.

Muhammad Nafis nan juga merupakan Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Islam Malang (Unisma) menempatkan persoalan family sebagai rumor nan tidak hanya berangkaian dengan keutuhan rumah tangga, tetapi juga kualitas relasi di dalamnya.

Melalui kitab tersebut, Nafis mengusulkan pertanyaan mendasar: apakah family nan tetap utuh secara struktural otomatis dapat disebut sebagai family nan maslahah?

“Pertanyaan itu krusial lantaran persoalan family hari ini tidak selalu tampak dalam corak pertengkaran terbuka maupun perceraian. Sebuah family dapat terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalamnya terdapat jarak emosional, komunikasi nan melemah, hingga hilangnya rasa kondusif di antara pasangan maupun personil keluarga” katanya kepada media, Selasa (28/7/2026).

Nafis memandang bahwa perubahan wajah family membikin konsep family maslahah perlu dibaca kembali. Keluarga tidak cukup dipahami hanya dari keberlangsungan perkawinan, terpenuhinya tanggungjawab formal, alias tidak adanya bentrok nan terlihat. Kualitas relasi, komunikasi, rasa aman, dan keahlian personil family untuk saling memahami juga menjadi bagian krusial dari kemaslahatan.

“Salah satu persoalan nan dibahas dalam kitab ini adalah “bocornya emosi”. Istilah tersebut menggambarkan keadaan ketika kebutuhan emosional nan semestinya mendapatkan ruang dalam relasi suami-istri justru mencari tempat di luar hubungan pernikahan” ujarnya.

Fenomena ini dapat terjadi ketika pasangan tidak lagi menjadi tempat pertama untuk berbagi cerita, mendapatkan dukungan, alias memperoleh rasa dipahami. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat lebih nyaman mencurahkan persoalan kepada orang lain, termasuk melalui ruang digital dan media sosial.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa krisis family tidak selalu berasal dari bentrok besar. Terkadang, keretakan justru tumbuh dari hal-hal mini nan berjalan terus-menerus: percakapan nan semakin jarang, perhatian nan berkurang, emosi nan tidak tersampaikan, hingga kehidupan berbareng nan hanya menyisakan rutinitas.

“Dalam kondisi demikian, family dapat tetap memperkuat secara administratif, tetapi kehilangan kegunaan pentingnya sebagai ruang kondusif emosional” tandasnya.

Karena itu, kitab Membaca Ulang Keluarga Maslahah juga membawa pertanyaan: “Maslahah untuk siapa?”

Pertanyaan tersebut menjadi krusial ketika kemaslahatan family sering dibicarakan sebagai konsep bersama, tetapi pengalaman setiap personil family tidak selalu sama. Suami, istri, dan anak dapat mempunyai kebutuhan, beban, dan pengalaman emosional nan berbeda.

Bagi Nafis, family maslahah tidak semestinya dipahami sebagai family nan sempurna dan bebas dari konflik. Kemaslahatan lebih tepat dilihat sebagai proses nan terus diupayakan melalui komunikasi, penghormatan, pembagian peran, keahlian menyelesaikan konflik, dan kesediaan untuk memperbaiki hubungan.

“Dengan perspektif tersebut, family tidak hanya dilihat sebagai lembaga nan kudu dipertahankan keutuhannya, tetapi sebagai ruang relasi nan kudu terus dirawat” ujarnya.

Buku ini sekaligus menjadi refleksi bagi family di tengah perubahan zaman. Kehadiran teknologi digital, perubahan pola komunikasi, tuntutan pekerjaan, serta meningkatnya kompleksitas kehidupan sosial membikin family memerlukan keahlian baru untuk menjaga kedekatan.

Nafis membujuk pembaca untuk tidak hanya bertanya apakah sebuah family tetap bertahan, tetapi juga apakah personil family di dalamnya tetap merasa didengar, dihargai, aman, dan mempunyai tempat untuk pulang.

“Pada akhirnya, Membaca Ulang Keluarga Maslahah menawarkan satu pendapat penting: family nan baik bukanlah family nan tidak pernah menghadapi masalah, melainkan family nan mempunyai kemauan untuk terus memperbaiki hubungan ketika masalah datang” pungkasnya.

Melalui kitab tersebut, penulis asal Sumenep ini berambisi pembicaraan tentang family maslahah tidak berakhir pada konsep normatif, tetapi dapat datang dalam kehidupan sehari-hari dan betul-betul dirasakan oleh seluruh personil keluarga.

Penulis : Dzunnur

Editor : Wahyu

Follow WA Channel limadetik.com untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari Follow

Selengkapnya