Ketua Lakpesdam PCNU Sumenep, Siswadi memimpin Deklarasi Gerakan Masyarakat Sumenep Peduli Lingkungan. (KLIKMADURA)
SUMENEP || KLIKMADURA — Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) mengelar Halaqah Lingkungan di Aula Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA) Sumenep, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan tersebut dipungkasi dengan deklarasi Gerakan Masyarakat Sumenep Peduli Lingkungan sebagai bentuk komitmen berbareng untuk memperkuat aktivitas perlindungan lingkungan berbasis masyarakat hingga tingkat desa.
Halaqah tersebut melibatkan beragam unsur organisasi, pemerintah, akademisi, pesantren, dan komunitas. Di antaranya PCNU Sumenep, Lakpesdam, LKKNU, LP Ma’arif, LPNU, LPBI, IPNU, IPPNU, Fatayat, KPPI, Ansor, KNPI, Dinas Lingkungan Hidup, Prodi Sains Lingkungan Universitas Airlangga, BPM Annuqayah, DRT Green, dan organisasi pengelola sampah.
Ketua Lakpesdam PCNU Sumenep, Siswadi, mengatakan deklarasi tersebut tidak boleh berakhir sebagai aktivitas seremonial. Menurutnya, deklarasi kudu menjadi injakan untuk membangun kesadaran dan aktivitas lingkungan nan nyata di tengah masyarakat.
“Deklarasi ini merupakan komitmen berbareng bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat dan kudu dilakukan secara kolaboratif,” kata Siswadi.
Ia menjelaskan, aktivitas tersebut juga dibangun dengan pendekatan keagamaan. Deklarasi menempatkan menjaga kelestarian alam sebagai amanah dan bagian dari maqashid syariah, khususnya hifdz al-bi’ah.
“Bagi penduduk Nahdlatul Ulama, kepedulian lingkungan kudu menjadi bagian dari etika kehidupan. Karena itu, fiqh al-bi’ah perlu dibumikan agar kesadaran menjaga lingkungan tumbuh dari tingkat akar rumput,” ujarnya.
Deklarasi juga menekankan pentingnya membangun desa dan kelurahan nan handal menghadapi perubahan iklim. Kelompok perempuan, penyandang disabilitas, lansia, serta masyarakat pesisir dan kepulauan didorong terlibat aktif dalam upaya penyesuaian dan mitigasi.
Siswadi mengatakan masyarakat kudu ditempatkan sebagai subjek dalam pembangunan ketahanan iklim. Warga desa perlu dilibatkan sejak proses identifikasi masalah hingga penyelenggaraan dan pengawasan program lingkungan.
“Ketahanan suasana kudu dibangun berbareng masyarakat. Warga desa tidak boleh hanya menjadi objek program, tetapi kudu menjadi bagian dari perencanaan dan pelaksanaannya,” katanya.
Persoalan sampah juga menjadi perhatian dalam deklarasi tersebut. Masyarakat didorong mengelola sampah dari tingkat rumah tangga dan desa serta menghentikan pembuangan sampah ke sungai, laut, dan lahan terbuka.
Selain mengurangi pencemaran, pengelolaan sampah diarahkan untuk membuka potensi ekonomi sirkular. Sampah nan dikelola dengan baik diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Pengelolaan sampah kudu diubah dari kebiasaan membuang menjadi kebiasaan mengelola. Sampah juga mempunyai potensi ekonomi andaikan dikelola secara tepat,” tutur Siswadi.
Deklarasi tersebut juga mendukung ekspansi Program Kampung Iklim (ProKlim) di desa-desa pesisir dan kepulauan Sumenep. ProKlim didorong menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan suasana berbasis komunitas.
Para peserta deklarasi juga mendorong Pemerintah Kabupaten Sumenep hingga pemerintahan desa menyusun kebijakan penyesuaian suasana berbasis data. Kebijakan tersebut diharapkan partisipatif, inklusif, dan memperhatikan pengalaman masyarakat desa berbasis kampung tanean lanjeng.
Menurut Siswadi, kerjasama menjadi kunci agar aktivitas lingkungan tidak melangkah sendiri-sendiri. Jejaring antarlembaga hingga organisasi di tingkat desa perlu diperkuat secara berkelanjutan.
“Kalau aktivitas lingkungan melangkah sendiri-sendiri, dampaknya bakal terbatas. Karena itu, kami mau membangun jejaring dari tingkat lembaga sampai organisasi terkecil di desa,” ujarnya.
Deklarasi Gerakan Masyarakat Sumenep Peduli Lingkungan akhirnya menempatkan rumor lingkungan sebagai persoalan bersama. Isu tersebut berangkaian dengan kehidupan sosial, ekonomi, keagamaan, dan masa depan masyarakat Sumenep.
Dalam deklarasi itu, para peserta menyerukan seluruh penduduk Sumenep untuk menjaga bumi, memelihara air, melindungi pesisir, serta membangun masa depan nan lebih setara dan berkelanjutan. Deklarasi tersebut ditegaskan sebagai komitmen moral, spiritual, dan sosial untuk generasi mendatang. (nda)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·