Halimi (dua dari kiri), salah satu korban dugaan penipuan seseorang nan mengaku Imam Mahdi didampingi kuasa hukumnya usai melapor ke Mapolres Bangkalan. (KLIKMADURA)
BANGKALAN || KLIKMADURA – Dugaan penipuan berkedok kepercayaan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mencuat setelah seorang laki-laki berinisial FA dilaporkan ke polisi atas dugaan meminta duit kepada para pengikutnya dengan iming-iming keselamatan spiritual.
Tak tanggung-tanggung, total duit nan diduga disetorkan sejumlah korban mencapai Rp1,3 miliar, disertai janji umur panjang, tiket surga, hingga pahala ibadah haji puluhan kali.
Dugaan tersebut diungkapkan Halimi, salah seorang nan mengaku menjadi korban praktik tersebut, saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (23/10/2026). Ia menyebut laporan terhadap FA telah disampaikan ke Polres Bangkalan pada Rabu (21/10/2026) berbareng seorang pelapor lainnya.
Menurut Halimi, dugaan praktik tersebut berjalan sejak 2019 hingga 2025 dan melibatkan FA berbareng ayahnya, Ahmad Subaidi, nan meninggal bumi pada 2025.
Keduanya diduga menggunakan klaim spiritual untuk meyakinkan para pengikut, termasuk dengan mengaku mempunyai kedudukan unik sebagai sosok nan disebut Ratu Adil Alihissalam.
Halimi mengungkapkan, persoalan bermulai ketika FA menyebut istrinya mengalami gangguan spiritual sehingga tak kunjung hamil. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Halimi mengaku diminta menyerahkan duit sebesar Rp5 juta.
“Awalnya saya diminta bayar Rp5 juta untuk mengatasi persoalan tersebut. Namun, permintaan duit itu terus bersambung dengan beragam argumen lain,” kata Halimi.
Tak hanya meminta uang, FA juga diduga menakut-nakuti Halimi dengan menyebut usianya bakal pendek andaikan tidak segera menyerahkan duit nan diminta. Menurut pengakuannya, tekanan tersebut menjadi bagian dari rangkaian dugaan praktik nan membikin dirinya terus mengeluarkan uang.
Halimi juga menyebut permintaan duit dikaitkan dengan janji memperoleh tiket surga dan pahala ibadah haji hingga 60 kali. Janji tersebut diduga digunakan untuk meyakinkan para pengikut agar bersedia memberikan duit kepada FA dan Ahmad Subaidi.
Pria asal Kabupaten Sampang itu menuturkan, perkenalannya dengan Ahmad Subaidi bermulai pada 2015 ketika dirinya belajar kepada seseorang berjulukan Gus Yayak. Sosok tersebut kemudian memperkenalkan Halimi kepada Ahmad Subaidi sebelum meninggal bumi pada 2019.
Setelah Gus Yayak meninggal, Halimi mengaku diminta FA untuk mendampingi Ahmad Subaidi. Pada periode tersebut, FA disebut mulai mengaku sebagai Imam Mahdi, sementara keduanya diduga menyampaikan klaim mengenai kedudukan dan keahlian spiritual mereka kepada para pengikut.
Menurut Halimi, pengikut FA dan Ahmad Subaidi tidak hanya berasal dari satu wilayah, tetapi juga tersebar di sejumlah daerah, termasuk Bangkalan. Ia menduga tetap ada pihak lain nan berpotensi mengalami kerugian serupa sehingga meminta abdi negara penegak norma mendalami perkara tersebut.
Kematian Ahmad Subaidi pada 2025 turut menjadi perhatian Halimi lantaran sebelumnya terdapat klaim mengenai keahlian memperpanjang umur. Ia mempertanyakan klaim tersebut dan berambisi penyelidikan kepolisian dapat mengungkap kebenaran di kembali dugaan praktik nan dilaporkannya.
“Ini betul-betul kejahatan luar biasa, untuk duit nan disetorkan ke FA ini total dari sejumlah korban mencapai Rp1,3 miliar,” pungkasnya.
Hingga buletin ini ditulis, keterangan mengenai perkembangan penanganan laporan serta tanggapan FA atas tuduhan tersebut belum diperoleh.
Proses norma diharapkan dapat mengungkap kronologi peristiwa, aliran uang, dugaan peran masing-masing pihak, serta kemungkinan adanya korban lain. (nda)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·